Aktivis: Manipulator Agama adalah Tak Mengerti Rukun Khutbah, Nekad Jadi Khatib


 

Jakarta,— Presiden Joko Widodo mengusulkan agar kata radikalisme diubah menjadi manipulator agama.

Namun, definisi manipulator agama pun tidak jelas. Sehingga setiap orang dapat menafsirkan definisi manipulator agama.

Pegiat media sosial Azzam M Izzulhaq pun punya definisi manipulator agama versi dia.

“Manipulator agama adalah mereka yang tak paham dengan agama, namun memaksakan diri berperilaku seolah-olah paling paham agama,” ungkap Azzam dalam akun twitternya, Selasa (5/11/2019).

Ia pun mencontohkan perilaku manipulator agama. “Contoh: 1. Tak masuk kriteria menjadi imam shalat, nekad jadi imam. 2. Tak mengerti syarat dan rukun khutbah, nekad jadi khatib,” kata Azzam.

Contoh manipulator agama yang diungkap Azzam ini tak dijelaskan ditujukan kepada siapa. Namun, jika melihat kondisi kekinian, ada kemungkinan ditujukan kepada Menag Fachrul Razi. Seperti diketahui Menag tengah menjadi sorotan karena terlewat membaca shalawat Nabi saat menjadi khatib Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta pekan lalu.

Sumber: voa-islam / Swamedium.com Date: 05-11-2019 | 12:23

@geloranews
5 November 2019

***

Menimbulkan Kegaduhan, Diduga Tidak Dilandasi Ilmu

Bila berkhutah Jum’at tanpa membaca shalawat karena tidak tahu syarat rukun khutbah, itu berbeda dengan orang yang tahu dalil-dalilnya dan faham mengenai syarat rukun khutbah. Bagi yang faham dalil-dalilnya, apakah menjadikan sah atau tidaknya khutbah bila tidak membaca shalawat, maka bila ada yang mempersoalkannya, maka akan dia jawab, dan bahkan berani untuk berdiskusi. Namun bila itu karena diduga tidak tahu ilmunya tentang khutbah, maka beda persoalannya.

Demikian pula, bila seorang pejabat yang harus memperhatikan dan bahkan harus mengayomi semua golongan, maka harus pula menghindari hal2 yang akan menimbulkan kegaduhan, ketidak jelasan atau bahkan umat akan menduga-duga, sebanarnya tokoh ini ngerti agama atau tidak.

Ketika masalah sensitive itu tak digubris, maka akibatnya bagai menepuk air di dulang, memercik ke muka sendiri.

Gejala itu sepertinya justru bermunculan akhir-akhir ini. Dikhawatirkan, apa yang diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terjadi di sini.

Dikhawatirkan Ruwaibidhah Bermunculan di Masa Imarah Sufaha’

Orang-orang tidak berkompeten dalam bidang agama kemudian mengurusi persoalan-persoalan di bidang agama.

 

Gejala buruk, adanya orang-orang tidak berkompeten dalam bidang agama kemudian mengurusi persoalan-persoalan di bidang agama.

Bila dirujukkan kepada Hadits Nabi saw maka gejala buruk ini dikhawatirkan termasuk dalam hadits tentang ruwaibidhah dan lebih celakanya lagi keadaan ini dikhawatirkan termasuk pertanda imarah sufaha’.

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84 ).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي : جابر بن عبدالله المحدث : الألباني

المصدر : صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu kepemerintahan orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku. (Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Allahul Musta’an. Wa laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiim.

 

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.960 kali, 1 untuk hari ini)