(Ambiguistis) – Definisi teroris yang belum jelas memicu banyak tanggapan dari masyarakat. Selama ini, isu terorisme selalu dikaitkan dengan Islam. Mulai dari penyebutan diri teroris yang identik dengan ibadah seperti sholat malam, puasa dan berbusana. Namun ada satu ciri yang harus dikaji lebih dalam. Statement BNPT yang menyebutkan salah satu ciri teroris adalah ingin mendirikan negera sendiri. Faktanya, lagi-lagi penyebutan ini dikaitkan dengan negara Islam. Tidak pernah menyinggung fakta bahwa yang paling sering menyerukan untuk merdeka adalah aktivis kemerdekaan Papua Barat yang diwakili dengan nama Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan juga ada pula RMS (Republik Maluku Selatan) atau kelompok lain semisal.

Kasus terakhir terjadi pada tanggal 5 April 2016. Kepolisian Resor Mimika, Papua, mengamankan 12 orang aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pascakasus pemukulan terhadap Kapolres Mimika AKBP Yustanto Mudjiharso di Lapangan Kampung Bhintuka-SP13, Selasa (5/4).

Kapolres Mimika Yustanto di Timika, Rabu (6/4), mengatakan peristiwa pemukulan itu terjadi saat dia bersama anggota dibantu aparat TNI hendak membubarkan paksa kegiatan orasi yang dilakukan aktivis KNPB.

Para aktivis KNPB yang dipimpin Steven Itlay dalam orasinya memprovokasi masyarakat setempat agar terus menyuarakan kemerdekaan Papua, lepas dari NKRI. Saat itu, salah seorang diantara para aktivis KNPB tiba-tiba memukul Kapolres Mimika Yustanto Mudjiharso hingga mengalami luka robek pada bibirnya.

“Anggota langsung mengamankan 12 orang, termasuk pimpinan KNPB wilayah Timika Steven Itlay. Provokator dan orang-orang yang terlibat dalam acara itu sebagai penggerak massa juga sudah kita amankan,” kata Yustanto.

Belasan aktivis KNPB tersebut kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Kuala Kencana. Yustanto mengatakan polisi sudah melakukan pendekatan persuasif kepada para aktivis KNPB sebelum menggelar kegiatan orasi. Namun ajakan tersebut tidak dipedulikan, bahkan para aktivis KNPB terus leluasa mengumpulkan massa dan menyampaikan orasi-orasi yang bersifat provokatif.

“Mereka sudah menjanjikan untuk tidak melakukan orasi-orasi yang berkaitan dengan soal referendum dan lainnya. Namun dalam praktiknya mereka tetap menyampaikan hal-hal seperti itu. Kami sudah berkomitmen, kalau kegiatan mereka melanggar hukum maka kita akan tindak tegas,” jelasnya.

Polres Mimika, katanya, meminta dukungan dari Pemkab Mimika beserta seluruh pemuka agama di wilayah itu seperti para pimpinan Gereja-gereja agar membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak menggelar kegiatan berbau politik. Apalagi kegiatan separatis di lingkungan gereja.

“Kami memberikan kebebasan sepenuhnya kalau masyarakat benar-benar menggelar kegiatan ibadah. Tapi kalau sudah campur baur dengan kepentingan politik tertentu untuk meminta referendum dan lain-lain maka itu sudah melanggar hukum. Kami tidak akan memberikan toleransi sedikitpun untuk hal-hal seperti itu,” tegas Yustanto.

Dari pemantauan jajaran Polres Mimika, para aktivis KNPB tersebut beberapa hari sebelumnya telah membagi-bagikan selebaran kepada masyarakat setempat untuk ikut dalam kegiatan orasi tersebut. Bahkan mereka juga mengundang jajaran Pemkab Mimika dan kalangan DPRD setempat. Pascakejadian tersebut, situasi di Kampung Bhintuka-SP13 sudah kembali kondusif. (Republika)

Kendati demikian, kelompok sparatis ini tidak disebut sebagai teroris. Bahkan Densus 88 pun tidak ikut campur dalam kasus tersebut. Padhaal definisi teroris menurut mereka adalah salah satunya ingin mendirkan negara sendiri.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, tujuan dari teroris di Indonesia yakni ingin mendirikan sebuah Negara. “Targetnya kan sudah jelas. Mendirikan Negara, konstitusi dirubah, ideologi semua diubah, itu kan sudah jelas itu. Itu kan bukan isapan jempol, mereka bisa bikin buku sendiri, mereka fatwakan sendiri, itu kan sudah jelas,” ujar Ansyaad Mbai, di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (2/1/2014).

Lebih lanjut dia menuturkan bahwa kaderisasi teroris di Indonesia hingga saat ini masih sama. “Intinya kaderisasi mereka sama, menanamkan radikalisme. Ideologi utama mereka kebencian terhadap negara (Indonesia), permusuhan kepada negara itu ideologinya,” imbuhnya. (Sindonews)

Sumber: ambiguistis.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.222 kali, 1 untuk hari ini)