Terjemahan Al-Quran ke Bahasa Banyumasan dikomandoi pengarang cerita khayal tentang ronggeng yang dimasyhurkan oleh suratkabar Katolik?

Ronggeng adalah seorang penari dan penembang tradisional yang tidak hanya menarik bayaran tinggi untuk pentasnya, tapi juga untuk jasa seksualnya, menurut buku karangan orang Banyumas yang dijadikan kordinator penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Daerah Banyumas itu.

Dari pengarang ronggeng terus nangkring jadi kordinator penerjemahan Al-Qur’an?

Kementerian Agama akan meluncurkan Al-Quran terjemahan bahasa daerah Banyumas, Minang dan Dayak pada awal Desember 2015.

Seorang dari Balitbang Kemenag mengemukakan, yang jelas, membumikan Alquran dan mendorong umat Muslim mencintai bahasanya merupakan bagain dari upaya penguatan NKRI. Tentu saja dengan cara itu terkandung maksud mempertahankan kearifan lokal dari ancaman kepunahan, dan juga mempertahankan pondasi Islam Nusantara.

Itu proyek pelayanan untuk Umat Islam atau menggarap alias merekayasa Islam?

Silakan baca berita ini, dari gaya bicaranya sudah dapat kita tahu alurnya.

***

JUM`AT, 14 SHAFAR 1437H / NOVEMBER 27, 2015

Kemenag Akan Luncurkan Al Quran Terjemahan Bahasa Daerah

 JAKARTA, (Panjimas.com) – Kepala Puslitabang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Kementerian Agama, Choirul Fuad Yusuf mengakui bahwa kementerian itu akan meluncurkan Al-Quran terjemahan bahasa daerah Banyumas, Minang dan Dayak pada awal Desember 2015. Dilansir antara.

“Ya, benar. Segera dilaunching,” kata Fuad kepada Antara di Jakarta, Kamis, (26/11/2015) sambil menjelaskan pula bahwa bersamaan dengan acara tersebut Kementerian Agama akan meluncurkan karya monumental berupa Kamus Istilah Keagamaan (KIK).

Direncanakan peluncuran Al-Quran terjemahan bahasa Banyumas, Minang dan Dayak dan KIK dapat dilakukan pada 3 Desember 2015 oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia dengan 250 juta orang dan mendiami lebih dari 17 ribu pulau dan 500 suku dan 300 bahasa lokal, sejatinya dengan kemajemukan yang dimiliki merupakan anugrah dan patut disyukuri dengan cara melakukan pelestarian secara terencana.

Upaya Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan ikut andil dalam konservasi nilai budaya, termasuk di dalamnya bahasa lokal patut diacungi jempol. Sebab, pemahaman terhadap Alquran hingga kini masih terbatas. Bukan saja di lingkungan masyarakat perkotaan, tetapi juga di daerah. Penyebabnya, latarbelakang pendidikan, lingkungan budaya lokal dan melek bahasa Arab, katanya.

Esesnsi dari penerjemahan Alquran ke dalam bahasa daerah, lanjut dia, adalah memperkaya khazanah, memperluas dan mempermudah pemahaman terhadap kitab suci umat Islam itu sendiri sekaligus melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari sistem budaya lokal untuk menghindari kepunahannya.

Tidak kalah penting, kata Fuad, adalah mempermudah penerapan ajaran yang terkandung di dalam Alquran. Semua itu diharapkan dapat bermuara kepada perbaikan kualitas kehidupan keberagamaan, terwujudnya umat yang taat beragama, rukun dan cerdas.

Yang jelas, membumikan Alquran dan mendorong umat Muslim mencintai bahasanya merupakan bagain dari upaya penguatan NKRI. Tentu saja dengan cara itu terkandung maksud mempertahankan kearifan lokal dari ancaman kepunahan, dan juga mempertahankan pondasi Islam Nusantara sebagai Islam yang rahmatan lil alamin.

Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Choirul Fuad Yusuf, mengakui bahwa program menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa daerah dilakukan sejak 2011. Untuk pekerjaan besar itu dilibatkan berbagai perguruan tinggi agama Islam.

Sementara itu untuk pembuatan KIK pihaknya membutuhkan waktu sampai empat tahun. Dengan adanya KIK, ke depan buku tersebut akan menjadi rujukan sekaligus dapat menghindari kesalahpaman dalam memahami istilah keagamaan.

“Yang jelas, dengan adanya KIK dapat memperkuat kerukunan antarumat, sekaligus mendidik masyarakat untuk menghargai adanya perbedaan,” kata Fuad./ panjimas.com.

***

Terjemahan Quran ke Bahasa Banyumasan dikomandoi pengarang cerita khayal tentang ronggeng yang dimasyhurkan oleh suratkabar Katolik?

Ronggeng adalah seorang penari dan penembang tradisional yang tidak hanya menarik bayaran tinggi untuk pentasnya, tapi juga untuk jasa seksualnya, menurut buku karangan orang Banyumas yang dijadikan kordinator penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Daerah Banyumas itu.

Dari pengarang ronggeng terus nangkring jadi kordinator penerjemahan Al-Qur’an?

Inilah ulasannya.

***

Jika Al Qur’an Berbahasa Banyumasan

by Ibrahim Sukman 2:19 AM
Pernah membayangkan Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa daerah sob? Kayaknya jarang-jarang ya? Tapi ini benar-benar terjadi. Bahkan sepengetahuan saya ini yang pertama. Kementrian Agama (Kemenag) pusat, melalui Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto tengah menggarap proyek penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa lokal Banyumas.

banyumas

Untuk kelancaran proyek ini, pihak STAIN Purwokerto menggandeng beberapa budayawan Banyumas yang dinilai mumpuni dalam dialek Banyumasan. Salah satunya adalah novelis dan budayawan Ahmad Tohari. Setelah sukses menerbitkan majalah berbahasa Banyumasan ANCAS, kini Kang Ahmad Tohari dipercaya oleh Kementrian Agama untuk menjadi komando secara redaksional penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Banyumasan.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mewawancarai secara pribadi kepada Kang Ahmad Tohari terkait proyek penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Banyumasan ini. Menurutnya, proyek ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Mei tahun 2012. Namun, karena banyak perbedaan bahasa dan konteks dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Banyumasan, proyek ini baru 70 persen diselesaikan.

Kang Tohari menambahkan, secara bahasa, penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Banyumasan ini nantinya dapat membuktikan kepada khalayak umum bahwa bahasa Banyumasan itu adalah bahasa yang jujur, apa adanya, dan egaliter. Hal ini sesuai dengan karakter penduduk asli Banyumas yang cablaka (apa adanya).

Secara tidak langsung, proyek ini juga menjadi salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerah Banyumasan, yang menurut mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Eko Budihardjo sebanyak 15 bahasa daerah hilang karena ditinggalkan penuturnya, dan 139 bahasa daerah di Indonesia terancam punah.

Kang Tohari melanjutkan bahwa ini bukan pekerjaan mudah. Menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Banyumasan butuh ketelitian dan pengecekan ulang. Ini harus dilakukan agar penerjemahan itu benar-benar sesuai dengan konteks bahasa Banyumasan yang menurut beberapa orang dikenal sebagai bahasa Ngapak.

Berikut ini adalah contoh Surat Al Maidah ayat 114 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Banyumas.

Isa putrane Maryam ndonga: “ Duh Pengeran kawula, dhun na maring aku padha suguhan sekang langit (sing dina mudhune) arep dadi dina perayaan tumerap aku padha, ya kuwe tumerap wong-wong sing siki bareng karo aku padha lan sing sewise aku padha, lan dadi tenger kuwasane Panjenengan, wei penginyongan rejeki, lan Panjenengan sebagus-baguse pengaweh  rejeki.

Isa putera Maryam berdo’a: “Ya Rabb kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama.

Jadi bagaimana sob? Masihkah kita malu dengan bahasa daerah kita sendiri?

http://little-dad.blogspot.co.id/Ilustrasi/  little-dad.blogspot.co.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.977 kali, 1 untuk hari ini)