(dr Mohammad Wassim Maaz)


Dokter Suriah Mohammad Wassim Maaz menyelamatkan banyak nyawa anak-anak di Aleppo yang terjebak peperangan sebelum ia sendiri terbunuh oleh serangan udara/pengeboman pada sebuah rumah sakit yang dilakukan pasukan gabungan resim Suriah-Rusia.

“Dr Maaz merupakan dokter anak terbaik dan salah satu yang masih tinggal di ‘neraka’ ini,” sebut salah satu koleganya pada AFP dengan menyebut ‘neraka’ perang Suriah yang sudah berlangsung lima tahun.

The Guardian melaporkan, pada Rabu (27/4) malam, sebuah serangan udara yang membombardir Rumah Sakit al-Quds di pemukiman Sukari membunuhnya dan seorang dokter gigi, serta 3 suster dan 22 warga sipil lainnya.

Maaz berasal dari Aleppo dan telah mempersiapkan diri untuk menyeberang perbatasan menuju Turki untuk mengunjungi keluarganya. “Seperti banyak yang lainnya, Dr Maaz dibunuh karena menyelamatkan nyawa,” sebut Dr Hatem, seorang kolega yang menolak memberikan nama penuhnya.

Hatem mengelola rumah sakit anak-anak di Aleppo, dimana Maaz bekerja di siang hari sebelum menangani kasus-kasus darurat di rumah sakit al-Quds sepanjang malam. “Dr Maaz dan saya biasa menghabiskan 6 jam sehari bersama-sama. Dia ramah, baik dan senang bercanda dengan seluruh saf. Dia merupakan dokter yang paling disukai di rumah sakit kami,” sebut Hatem dalam surat yang dipublikasikan kelompok advokasi The Syria Campaign. “Dr Maaz memilih tinggal di Aleppo, kota paling berbahaya di dunia, karena pengabdiannya pada para pasiennya.”

Lebih dari 270 ribu orang telah terbunuh dalam konflik Suriah, yang menghancurkan berbagai rumah sakit dan membunuh banyak staf medis diseluruh negeri tersebut. Serangan pada al-Quds telah dikutuk secara luas, termasuk oleh agensi anak-anak PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari jumat (29/4). Ketua WHO Margaret Chan dan direktur eksekutif Unicef Anthony Lake mengapresiasi para pekerja kesehatan di Suriah untuk usaha luar biasa mereka, menyebut bahwa mereka “pantas mendapatkan lebih dari kekaguman kami. Mereka pantas mendapatkan perlindungan yang lebih besar.” Serangan pada berbagai rumah sakit “ mencabut berbagai keluarga dan komunitas dari pelayanan kesehatan dasar

disaat mereka paling membutuhkannya,” sebut mereka.

Rumah sakit al-Quds didukung oleh Medecins Sans Frontieres dan komite internasional palang merah. Juru bicara MSF Mirella Hodeib menyebut bahwa Maaz merupakan “seorang dokter anak yang sangat berdedikasi dan memilih untuk membahayakan hidupnya demi menolong warga Aleppo”. Dia menyebut: “kematiannya merupakan kehilangan yang besar.”

MSF menyebut bahwa mereka telah mendonasikan suplai medis sejak 2012 kepada rumah sakit al-Quds yang memiliki 34 ranjang tersebut, dimana 8 dokter dan 28 perawat bekerja penuh waktu. “Dari 8 dokter, sekarang hanya tersisa 6,” sebut Miskilda Zancada, kepala misi MSF di Suriah pada AFP dari Kilis di Turki. Dia menyebut bahwa 95% dokter di area yang dikuasai oposisi di Aleppo telah pergi atau terbunuh oleh serangan rezim Assad, menyisakan 70 hingga 80 dokter untuk merawat 250 ribu orang. “Orang-orang yang tinggal di Aleppo merupakan yang paling rentan,” sebut Zancada.

Sekelompok dokter berjumlah 7 orang yang masih berpraktek didalam kota Aleppo mengeluarkan sebuah surat bersama pada hari Jumat yang memperingati para kolega mereka yang gugur dan menyerukan diakhirinya kekerasan. “Kami akan selalu mengingat Dr Maaz sebagai jiwa yang baik dan berani, yang pengorbanannya untuk merawat para korban anak-anak dari perang ini tak terbandingkan,” tulis mereka.

Para dokter tersebut juga mengenang dokter gigi yang terbunuh dalam serangan di al-Quds. “Teman tercinta kami yang lain, Dr Mohammed Ahmad, salah satu dari 10 dokter gigi yang tersisa di Aleppo timur, juga terbunuh dalam serangan udara tersebut,” sebut mereka.

Setidaknya 730 dokter di Suriah telah terbunuh di Suriah selama 5 tahun terakhir, menurut surah tersebut. “Berbagai rumah sakit kami berada dalam batas tampung. Jika ini bukan sebuah tanda bahwa penghentian pertempuran telah gagal kami tak tahu apa artinya ini. Sebentar lagi tak akan ada lagi personel medis professional yang tersisa di Aleppo -harus pergi kemana para warga sipil untuk mendapatkan perawatan dan perhatian ?”

Pertempuran di Aleppo, secara khusus di ujung utaranya, mengancam memutus rute satu-satunya yang tersisa dari distrik-distrik di timur yang dikuasai pihak oposisi. Surat para dokter tersebut memperingatkan bahwa kekerasan telah mengganggu akses mereka kepada suplai medis yang sangat dibutuhkan untuk para pasien. “Selama minggu lalu, ketakutan terburuk kami tiba di rumah dengan sangat mengerikan. Kota ini mengalami pendarahan,” sebut surat tersebut.

Lebih dari 200 warga sipil telah terbunuh selama seminggu belakangan dalam munculnya konflik baru.

Sumber: The Guardian/ portalpiyungan.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 672 kali, 1 untuk hari ini)