.

Pusat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara di Gang Dolly Surabaya resmi ditutup oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri, Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Penutupan pusat pelacuran itu berlangsung dengan upacara “Deklarasi penutupan lokalisasi Dolly Surabaya “ di Islamic Center Surabaya, Rabu malam 18 Juni 2014, menjelang Ramadhan 1435H, tepatnya 21 Sya’ban 1435H.

Penutupan tempat maksiat ini didukung 60-an Ormas Islam dari berbagai kalangan. Walau golongan tertentu (ditengarai dari PDIP) menentang penutupan tempat maksiat itu, namun ibarat anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Dan itu bagi umat Islam yang masih peduli dengan agamanya merupakan catatan hitam atau merah terhadap PDIP yang ternyata justru mendukung pelacuran, bahkan ditokohi oleh wakil walikota Surabaya, seorang tokoh PDIP Wisnu Sakti Buana. Selengkapnya silakan baca Bukti PDIP Membela Pelacuran https://www.nahimunkar.org/bukti-pdip-membela-pelacuran/

Kemungkinan sikap PDIP yang ditengarai membela pelacuran seperti itu menambah makin merosotnya minat Umat Islam untuk memilih Jokowi-JK yang diusung PDIP dalam Pemilu Presiden Juli 2014. (Jokowi-JK Makin Merosot, Para Pengusungnya pun Berhamburan Kabur  https://www.nahimunkar.org/jokowi-jk-makin-merosot-para-pengusungnya-pun-berhamburan-kabur/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign

Proses dan upaya untuk menutup pusat pelacuran itu cukup panjang, dan Alhamdulillah telah resmi ditutup. Namun bukan berarti telah selesai urusannya. Tentu saja masih sangat perlu upaya untuk memberantas pelacuran yang telah berlangsung lama itu. Bahkan di Indonesia  tercatat oleh Kementerian Sosial ada 183 lokalisasi pelacuran yang belum ditutup. – See more at: https://www.nahimunkar.org/menyambut-penutupan-lokalisasi-dolly/#sthash.9CWFdjJn.dpuf

Dengan resmi ditutupnya pusat pelacuran Dolly yang merupakan lokalisasi terbesar ini semoga semuanya segera dapat ditutup. Agar Indonesia relative bersih dari pelacuran. Apalagi mengingat, Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia. “kita malu”, kata Menteri Sosial Dr Salim Segaf Al Jufri beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, inilah berita tentang jalannya acara penutupan pusat pelacuran Dolly dan isi naskah deklarasi.

***

Lokalisasi Dolly Resmi Ditutup

Deklarasi Penutupan Berjalan Lancar

Kontributor Jawa Timur • Rabu, 18 Juni 2014 – 20:53

Surabaya, Beritaempat.com – Deklarasi penutupan lokalisasi Dolly Surabaya di Islamic Centre Surabaya sudah dimulai. Acara deklarasi berlangsung tanpa gangguan, baik oleh warga lokalisasi Dolly maupun pihak lain.

Deklarasi dihadiri Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan perwakilan warga Dolly. Deklarasi dimulai pukul 19.30 WIB diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh anak-anak yang berdomisili di Keluarahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya.

Ketika memberikan sambutan, Soekarwo mengatakan, pemerintah ingin semua warga sejahtera. Untuk itu, pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Pemerintah Kota Surabaya tidak ingin membiarkan warganya hidup tidak bermatabat.

Pakde Karwo, sapaan Soekarwo, juga ingin wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib, dan bebas dari lokalisasi prostitusi. Dua wilayah Putat Jaya menjadi wilayah yang bermartabat dengan membangun usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama dan peraturan yang berlaku.

Anak-anak yang melantunkan ayat Alquran bermukim di sekitar Dolly karena lokalisasi ini berada di wilayah Kelurahan Putat Jaya. Lebih kurang 100 warga Putat Jaya yang menghadiri deklarasi ini ikut membacakan deklarasi penutupan Dolly yang berisi empat poin penting. Mereka juga menyatakan tidak akan menfungsikan rumahnya menjadi wisma prostitusi.

“Kami warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya berkeinginan agar, pertama wilayah Putat Jaya menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib dan bebas dari prostitusi,” ujar warga serempak membacakan deklarasi di Islamic Centre Jl. Raya Dukuh Kupang, Surabaya, Rabu (18/6) malam.

Poin kedua dalam deklarasi adalah warga meminta agar Putat Jaya menjadi wilayah yang bermartabat dengan membangun usaha-usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama dan peraturan yang berlaku. Poin ketiga, warga meminta aparat penegak hukum menindak tegas pelaku perdagangan orang (human trafficking), pelaku perbuatan asusila, dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

“Kami berkeinginan kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang maju, aman, dan tertib dengan mengharapkan bimbinngan dan perhatian dari aparat keamanan Pemerintah Kota Surabaya, Pemprov Jatim, dan pemerintah pusat,” ujar warga serempak menutup deklarasi.

Para pekerja seks komersial dan mucikari di lokalisasi Dolly dan Jarak tidak satu pun  yang menghadiri deklarasi ini. Meski demikian, pemerintah daerah tetap akan menutup lokalisasi ini.

***

 

Ini Isi Deklarasi Warga dalam Penutupan Lokalisasi Dolly

SURABAYA – Warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, yang berada di lingkungan lokalisasi Dolly telah resmi membacakan deklarasi pengalihfungsian wisma dan alih profesi bagi wanita harapan, di Gedung Islamic Centre, Jl. Raya Dukuh Kupang.

Deklarasi itu telah dibacakan dan telah ditandatangani oleh 107 orang warga Putat Jaya pada 18 Juni 2014 tepat pukul 20.00 dihadapan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Berikut isi deklarasi yang dibacakan warga secara serempak di atas mimbar.

“Kami warga masyarakat Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya berkeinginan agar :

1. Wilayah Keluarahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib dan bebas dari lokalisasi protitusi.

2. Wilayah Keluarahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan  menjadi wilayah yang bermartabat, dengan membangun usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama, dan peraturan yang berlaku.

3. Kami memohon kepada aparat berwenang untuk menindak secara tegas para pelaku kejahatan perdagangan orang, perbuatan asusila, dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Wilayah Kecamatan putat Jaya, Sawahan menjadi wilayah yang maju, aman dan tertib, dengan bimbingan dan perhatian aparat kemanan dan Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah pusat.

Dalam seremoni deklarasi penutupan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu, juga diisi dengan penampilan anak-anak yatim dan ceramah tausiah.

Peni Widarti   –   Rabu, 18 Juni 2014, 21:30 WIB

Editor : Setyardi Widodo Bisnis.com,

***

Rabu, 18/06/2014 20:12 WIB

Mensos, Risma dan Pakde Karwo Hadiri Deklarasi Penutupan Dolly

Andri Haryanto – detikNews

 

Surabaya, – Sejumlah pejabat menghadiri deklarasi penutupan lokalisasi Gang Dolly di Surabaya. Terlihat hadir Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Gubernur Jatim Soekarwo alias Pakde Karwo.

Berdasarkan pantauan di lokasi, acara deklarasi dimulai Rabu (18/6/2014) pukul 19.30 WIB. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh sejumlah anak-anak yang bertempat tinggal di Putat Jaya, sebuah kelurahan di Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Gang Dolly sendiri berada di kawasan Putat Jaya ini.

Selanjutnya sekitar 100 warga Putat Jaya membacakan deklarasi penutupan. Ada empat poin utama dari deklarasi tersebut.

“Kami warga kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan Kota Surabaya berkeinginan agar pertama wilayah Putat Jaya menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib dan bebas dari lokalisasi prostitusi,” ujar mereka saat membacakan deklarasi, di Islamic Center, Jl Raya Dukuh Kupang, Surabaya, Rabu (18/6/2014) malam.

Permintaan kedua yaitu agar Putat Jaya menjadi wilayah yang bermartabat dengan membangun usaha-usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama dan peraturan yang berlaku. Poin ketiga warga meminta aparat menindak tegas pelaku tindak kejahatan perdagangan orang, pelaku perbuatan asusila dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat sesuai peraturan perundangan yang berlaku

“Kami berkeinginan kelurahan Putat Jaya Kecamatan Sawahan menjadi wilayah yang maju aman dan tertib dengan mengharapan bimbinngan dan perhatian dari aparat keamanan pemerintah Surabaya, Pemprov Jatim dan pemerintah Pusat,” tuturnya.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.790 kali, 1 untuk hari ini)