JAKARTA (voa-islam.com) – Peneliti SEM Institute, Ismail Yusanto menyatakan bahwa yang setuju diterapkannya syariah Islam di tanah air adalah 72%.

“Yang tidak setuju 13% dan yang menyatakan terserah 14%. Yang tidak setuju alasannya Indonesia negara majemuk, indonesia bukan negara Islam dan lain-lain,” terang Ismail dalam Seminar Serumpun Melayu di Jakarta hari ini (20/1), seperti dikutip dari sharia.co.id,Selasa, (20/01/2015) kemarin.

Sedangkan yang setuju, menurutnya karena menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya solusi dari segala permasalahan, Islam menjadikan yang benar itu benar, membawa kebaikan dan keselamatan dunia akhirat dan Indonesia mayoritas Muslim.

Penelitian ini dilakukan di 38 kota Indonesia. Respondennya sebanyak 1498 orang dan meliputi berbagai profesi dalam masyarakat. Ada anggota yudikatif, legislatif, eksekutif, aparat keamanan, media massa, partai politik, pesantren dan lain-lain. Responden terdiri dari 38% peremuan dan laki-laki sebanyak 62%. Usia terbanyak responden berusia 20-45.

Sedangkan untuk masalah khilafah, kata juru bicara Hizbut Tahrir ini, pengetahuan responden sebanyak 64%. “Tapi tingkat penerimaan mereka 81%,” terangnya.

Ismail mengharapkan bahwa penelitian seperti ini adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan dakwah. “Sehingga kita dapat bersyukur tapi tidak berpuas diri. Misalnya banyaknya jilbab saat ini. Dulu tahun 70-80an ibu-ibu yang datang ke resepsi pengantin memakai konde (sanggul). Sekarang kebanyakan yang datang pakai kerudung,” terangnya.

Ismail juga menegaskan bahwa dalam Kongres Umat Islam Indonesia ke IV di Jakarta ditegaskan bahwa syariat Islam adalah satu-satunya bagi berbagai problematika bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. “Saat itu yang menyampaikan KH Sahal Mahfudz almarhum. Tapi keputusan kongres ini kurang disosialisasikan,” tegasnya.

Sementara itu, Datuk Aidit Ghazali menyatakan bahwa proyek indeks pelaksanaan syariat di Malaysia telah disetujui PM Malaysia Najib Razak. “Sudah dibincang satu setengah tahun lalu,” kata peneliti Institut Pengembangan Minda Malaysia ini.

Datuk Aidit juga menjelaskan bahwa ‘untuk mencapai kejayaan Islam itu perlu waktu yang sama. “Tapi untuk mengritik atau meruntuhkan butuh waktu yang sekejap. Mereka yang ingin meruntuhkan Islam itu terus berbuat dan mereka lebih licik dan jahat karena mereka tidak punya batasan. Sedangkan kita ada adab,” terangnya.

Menurutnya pencanangan Indkes Syariah di Malaysia ini kini dibina oleh Universitas Antar Bangsa Malaysia dan dibawah Jawatan Kemajuan Islam Malaysia, di bawah Menteri Agama. [NuimHidayat/sharia.co.id/voa-islam.com]

***

Seminar Serumpun Melayu: Sudah Islamikah Negeri Kita?

JAKARTA (voa-islam.com) – Dalam seminar yang dilaksanakan di Jakarta antara Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Institut Pengembangan Minda Malaysia hari ini, disepakati perlunya mengukur indeks penerimaan masyarakat terhadap syariat Islam.

KH Syuhada Bahri, Ketua Dewan Dakwah menyatakan bahwa dalam kehidupan yang semakin liberal dan akal telah menjadikan sumber segalanya saat ini justru terjadi kemunduran kemunduran dalam spiritual.

“Saya tahun 80a-an ketemu dengan Turis Belanda, dia cerita kalau tiba di Belanda maka besoknya ia masuk rumah sakit. Padahal semua rumah sakit menyatakan dia tidak mengidap sakit apapun, tapi dia sakit luar biasa. Tapi kalau di indonesia ia merasa tenang dan aman. Ia senang dengan umat Islam Indonesia dan akhirnya ia masuk Islam di Bukit Tinggi, Sumatera,” terangnya dalam seminar yang dihadiri banyak aktivis dakwah itu.

Menurut Syuhada, orang Barat sepertinya jadi orang bahagia, tapi dia sebenarnya menderita. “Kalau istilah sekarang, sakitnya tuh di sini,”guraunya. Karena itu orang-orang Barat menghilangkan kesedihannya lewat minuman keras dan heroin, padahal itu tidak bisa menyelesaikan persoalan.

Dai ini juga menjelaskan bahwa yang membahagiakan orang bukanlah kekayaan melimpah, tapi keimanan yang mantap. Banyak orang orang di Eropa masuk Islam, karena melihat indahnya Islam itu.

“Contohnya Bank Syariah. Kini di negara-negara kafir pun disenangi dan berkembang,” tegasnya.

Syuhada mengingatkan bahwa ketika konflik Indonesia Malaysia tahun 50-an dulu, yang menyambungkan adalah Pak Natsir pendiri Dewan Dakwah. Melalui dari penjara Pak Natsir membuat surat dari penjara dan surat itu dibawa pejabat pemerintah saat itu ke Tunku Abdul Rahman. Dan itulah awal hubungan Indonesia Malaysia kembali.

“Kini ada pihak-pihak yang nggak senang Indonesia Malaysia hubunganya menjadi baik. Karena kekuatan dua negara ini akan menjadi kekuatan yang sginifikan untuk perkembangan Islam. Mereka khawatir kekuatan dua negara itu mengancam. Padahal Islam tidak pernah mengancam. Islam justru membawa kedamaian dan kesejahteraan,”ungkapnya.

Sementara itu, Datuk Salamun Slamet Pengurus Institut Pengembangan Minda Malaysia menjelaskan bahwa Perdana Menteri Malaysia mendukung adanya indeks pelaksanaan syariat Islam. Syariat misinya adalah rahmat bagi sekalian alam. “Cirinya adalah seimbang, sederhana, adil, maju dan cemerlang,” tegasnya. [nuim/sharia.co.id/voa-islam.com] Rabu, 30 Rabiul Awwal 1436 H / 21 Januari 2015 18:00 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.601 kali, 1 untuk hari ini)