Alhamdulillah, Patung China di Tuban Jatim Runtuh

Sebelumnya massa gabungan dari 53 elemen ormas serta LSM nasionalis dan agamis seluruh Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa menuntut dirobohkannya Patung (kemusyrikan) Dewa Perang China

 


Foto dari potongan video di ytb -haluantv


Patung dewa Kong Co Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, sebelum runtuh (kiri) dan setelah runtuh (kanan), Kamis (16/04/2020). [Foto: M Sudarsono/Surya]

 

 

ISTIMEWA

Potongan video detik-detik Patung Dewa Perang China, Kwan Sing Tee Koen, di Tuban, Jawa Timur, runtuh, Kamis (16/04/2020).

Terkait

Patung (kemusyrikan) Dewa Perang China, Kwan Sing Tee Koen, di Tuban, Jawa Timur, runtuh. Pantauan hidayatullah.com pada Jumat (17/04/2020) berdasarkan video amatir yang viral, patung raksasa setinggi 30 meter itu runtuh secara tiba-tiba.

Informasi dihimpun media ini, Patung Dewa Perang China yang pendiriannya menuai kecaman dari banyak pihak itu runtuh kemarin. Patung ini terletak di halaman belakang Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tuban.

Runtuhnya Dewa Perang China di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban pada sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis (16/04/2020) itu mengagetkan warga sekitar. Kelenteng ini disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara.

Patung bernilai Rp 1,5 miliar yang diresmikan pada tahun 2017 oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan tersebut ambruk dalam hitungan detik, hanya menyisakan kerangkanya.

Kepolisian setempat kemudian melakukan penyelidikan atas runtuhnya Dewa Perang China itu. Polisi dikabarkan telah memasang garis polisi (police line) di area patung, dipasang secara melingkar.

Menurut kepolisian, berdasarkan keterangan dari pengurus kelenteng, patung runtuh bisa jadi dikarenakan angin dan cuaca panas hujan, sehingga material patung rontok.

Kemudian, bisa pula disebabkan konstruksi bangunan yang kurang bagus.

“Kalau keterangan pengurus kelenteng bisa jadi disebabkan angin dan cuaca panas hujan. Tetapi masih kita lidik, tidak ada korban jiwa,” ujar Kapolres Tuban, AKBP Ruruh Wicaksono didampingi Kasat Reskrim, AKP Yoan Septi Hendri kutip Surya.co.id kemarin.

Baca: Patung Dewa Perang China di Tuban, Dinilai Potensial Cederai Harmoni Bangsa 

Berdasarkan pantauan, patung yang baru berumur 3 tahun itu kini tidak sementereng sebelumnya.

Beberapa saat setelah keruntuhan itu, lokasi masuk kelenteng ditutup, menurut keterangan dari pihak keamanan yang berjaga, penutupan ini atas perintah atasan.

Petugas polisi pun bahkan kemarin belum diperkenankan masuk untuk melakukan penyelidikan. “Pintu masuk kelenteng ditutup, ini perintah atasan,” ujar petugas keamanan kelenteng yang tak menyebut namanya kutip media tersebut kemarin siang.

Kejadian runtuhnya membuat warga sekitar berhamburan ke luar rumah. Getaran yang ditimbulkan akibat runtuhnya Patung Dewa Perang China menyebabkan warga panik.

Salah seorang warga di sekitar lokasi Kelenteng Kwan Sing Bio, Jaman, mengaku mengira ada pesawat yang jatuh.

Baca: Warga Gabungan se-Jatim Tuntut Pembongkaran Patung Dewa Perang China di Tuban

Patung Ditolak Warga

Sebelumnya, pembangunan Patung Dewa Perang China tersebut mengalami penolakan warga. Massa gabungan dari 53 elemen ormas serta LSM nasionalis dan agamis seluruh Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa menuntut dirobohkannya Patung Dewa Perang China, Kwan Sing Tee Koen, di Tuban, Jatim, Senin (07/08/2017).

Informasi yang diterima hidayatullah.com , aksi yang katanya dihadiri ribuan massa itu digelar dalam bentuk orasi, teaterikal, dan audiensi bertema “Boemi Poetra Menggugat”. Berlangsung mulai sekitar pukul 11.00 WIB di depan Kantor DPRD Tingkat I Provinsi Jatim, Surabaya.

Patung Dewa Perang China itu didirikan tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pendirian Patung Dewa Perang China ini menuai kecaman dari banyak pihak. Kecaman itu merebak luas di berbagai media termasuk media sosial.

Tuntutan perobohan patung itu didasari banyak alasan, antara lain, menurut massa aksi, karena patung raksasa setinggi 30 meter itu dinilai bukan bagian dari ritual pemujaan suatu agama yang diakui di Indonesia.

Juga karena patung itu dinilai bukan bagian dari sejarah bangsa Indonesia, serta tidak mencerminkan kebudayaan bangsa Indonesia sesuai dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, pun tidak mencerminkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.

“(Pendirian patung) tidak mengindahkan rasa kearifan terhadap budaya lokal dan bumi putra Nusantara,” demikian bunyi alasan lain.

Baca: Soroti Patung Dewa Perang China, Jimly Harap Pihak Minoritas Ada Sensitivitas

Masih menurut massa, pendirian Patung Dewa Perang China itu tidak ada nilai-nilai pendidikan dan sejarahnya bagi putra-putri penerus bangsa Indonesia.

“Karakter dan ukuran patung mengindikasikan penguasaan, penindasan, dan penjajahan terhadap bangsa Indonesia,” sebutnya.

Patung Dewa Perang China itu juga dinilai sebagai lambang keangkuhan bangsa asing di Bumi Pertiwi Indonesia.

Bahkan, pendirian patung yang lebih besar dan tinggi daripada tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia Jenderal Soedirman itu, dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap tokoh-tokoh perjuangan pendiri bangsa Indonesia.

“(Pendirian Patung Dewa Perang China) sebagai bentuk pengkhianatan jati diri sebagai warga negara Indonesia,” demikian alasan lainnya.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Hidayatullah.com– Jum’at, 17 April 2020 – 09:01 WIB

***

KENAPA Patung Dewa Perang CHINA Ditaruh di TUBAN? TERNYATA… Dulu Invasi China ke Jawa Dimulai di Tuban


Posted on 10 Agustus 2017

by Nahimunkar.com



Patung raksasa Dewa Perang China Kwan Seng Tee Koen yang berdiri megah setinggi 30 meter di Kelenteng Kwan Swie Bio Kabupaten Tuban, Jawa Timur, telah menimbulkan kontroversi luas dan kini akhirnya ditutup kain putih seperti kain kafan.

KENAPA PATUNG DEWA PERANG CINA DITARUH DI TUBAN?

Kenapa patung yang konon TERTINGGI SE ASIA TENGGARA INI BUKAN DI TEMPAT LAIN?

KENAPA TUBAN?

KEBETULAN BELAKA?

TERNYATA TIDAK.

Tuban memilik akar historis China di Nusantara (Indonesia).

Pada tanggal 1 Maret 1293 balatentara Cina di bawah dinasti Yuan (Mongol) mendarat di Tuban (Tubingtsuh) yang terletak di pantai utara Jawa Timur untuk memulai misi penaklukan Nusantara. Dengan kekuatan 20.000-30.000 tentara bersenjata meriam yang termasuk teknologi militer tercanggih waktu itu. Kaisar Cina, Kubilai Khan yakin akan mampu mengalahkan Singhasari yang berkuasa di sana.

Kaisar Cina harus menggigit lidahnya sendiri. Awalnya mereka berhasil mengalahkan tentara Singhasari. Namun dengan kecerdikan Raden Wijaya tentara China dipukul mundur dan harus kabur secara memalukan, gagal mencapai misinya.

Kegagalan ini sekaligus merupakan ekspedisi militer terakhir Kubilai Khan. Sebaliknya, Raden Wijaya kemudian mendirikan kerajaan Majapahit menggantikan Singhasari yang akhirnya menjadi negara paling kuat pada masanya di Nusantara.

Salah seorang tangan kanan Raden Wijaya yang menghancurkan tentara Kaisar Cina itu adalah Ranggalawe. Dia adalah panglima perang kepercayaan Raden Wijaya. Ranggalawe kemudian diangkat sebagai Bupati Tuban. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban sampai saat ini.

Sehingga apakah pantas Patung Dewa Perang China yang konon tertinggi di Asia Tenggara ini di Tuban?
Kata Bung Karno: JASMERAH… JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH. [PORTAL-ISLAM.ID] 

___
*Referensi bacaan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Serbuan_Yuan-Mongol_ke_Jawa
https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya
https://id.wikipedia.org/wiki/Ranggalawe
Yuan Conquest Of Java

http://www.portal-islam.id  Rabu, 09 Agustus 2017  CATATAN

***

Haram Membuat Patung dan Haram Pula Memerintahkan Buat Patung


Dalam buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat, trbitan Pustak Al-Kautsar, Jakarta, dijelaskan mengenai hukum patung, sebagai berikut.

Dari zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam pun sudah dikenal bahwa patung itu adalah berhala yang kemudian mereka sembah. Kalau sekarang belum disembah, pembuatannya itu sendiri sudah mengakibatkan siksa yang amat sangat dahsyat di Hari Qiyamat.

Berikut ini keterangan Ibnu Qudamah dalam Kitabnya, Al-Mughni, juz 7:

ج 7:( 5674 )فَصْلٌ : وَصَنْعَةُ التَّصَاوِيرِ مُحَرَّمَةٌ عَلَى فَاعِلِهَا ; لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : { الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ } . وَعَنْ { مَسْرُوقٍ قَالَ : دَخَلْنَا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ , فَقَالَ لَتِمْثَالٍ مِنْهَا : تِمْثَالُ مَنْ هَذَا ؟ قَالُوا : تِمْثَالُ مَرْيَمَ , قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ } . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا , وَالْأَمْرُ بِعَمَلِهِ مُحَرَّمٌ . كَعَمَلِهِ .

Fasal: Pembuatan gambar-gambar/ patung-patung (bernyawa –manusia atau binatang) diharamkan atas pembuatnya, karena berdasarkan apa yang diriwayatkan Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

{ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ }

Orang-orang yang membuat gambar-gambar/ patung-patung ini mereka disiksa di Hari Qiyamat, dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan. (Muttafaq ‘alaih).

Dan riwayat dari Masruq, dia berkata: Kami bersama Abdullah masuk ke rumah yang di dalamnya ada patung-patung, maka dia berkata mengenai patung di antaranya: Patung siapa ini?

Mereka menjawab: Patung Mariam.

Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

: إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Sesungguhnya manusia paling keras siksanya di Hari Qiyamat adalah pelukis-pelukis/ pematung-pematung. (Muttafaq ‘alaih).

Dan perintah untuk mengerjakannya diharamkan (pula) sebagaimana (keharaman) mengerjakannya. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 7, fasal 5674).

Jadi bukan hanya pembuat patung-patung itu yang diancam adzab paling dahsyat di Hari Qiyamat, namun termasuk pula yang memerintahkannya beserta orang-orang yang terlibat dalam urusan itu.

Demikianlah, pembuatan patung itu sendiri sangat diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pelakunya (termasuk pimpro –pemimpin proyek— dan anak buahnya) dengan ancaman siksa paling keras di Hari Qiyamat. Kalau patung-patung itu disembah, maka akan lebih-lebih lagi siksanya di Akherat kelak.

Dipetik dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat, Pustak Al-Kautsar, Jakarta.

https://www.nahimunkar.org/kenapa-patung-dewa-perang-china-ditaruh-di-tuban-ternyata-dulu-invasi-china-ke-jawa-dimulai-di-tuban/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 446 kali, 1 untuk hari ini)