BANDUNG– Alhamdulillah, setelah pemberitaan bahwa Pemerintah Kota Bandung akan mendatangkan pawang hujan untuk mengatasi hujan berkepanjangan dan antisipasi banjir, Walikota Bandung Ridwan Kamil memberikan klarifikasi pada laman Facebook-nya, Selasa (10/2/2015).

Dalam postingnya, Kang Emil, begitu sapaan akrabnya, menyatakan bahwa tidak ada kebijakan menggunakan pawang hujan di Bandung.

“Itu usulan heureuy (bercanda) staf kecamatan. Waktu di lapangan kehujanan saat perbaiki tanggul sungai yang jebol,” ujar Kang Emil.

upaya antisipasi banjir di Kota Bandung

Adapun arahan walikota untuk mengantisipasi banjir kepada para Camat/Lurah meliputi:

  1. Wajib inspeksi kirmir sungai
  2. Siaga di lapangan saat hujan
  3. Siapkan logistik darurat bencana
  4. Koordinasi dengan BPBD propinsi, DBMP dan Kodim untuk backup bantuan
  5. Konsolidasikan gotong royong bersama warga saat terjadi bencana

Meski Muslimin netizen Bandung bersyukur bahwa walikotanya tidak mempraktikan kemusyrikan dengan menggandeng pawang hujan, beberapa adab dalam bercanda nampaknya perlu diperhatikan. Terkait kejadian tersebut, kita dapat menyimak sebagian adab bercanda berikut.

  1. Tidak bercanda dengan ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala dan hukum syariat-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘alahissalam ketika menyuruh kaumnya (bani Israil) untuk menyembelih sapi.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (al- Baqarah: 67)

Dapat diambil pelajaran bahwa makna dari jawaban tersebut, aku (Musa) tidaklah bercanda dalam hukum-hukum agama karena hal itu adalah perbuatan orang orang yang bodoh. (Faidhul Qadir 3/18)

  1. Tidak berdusta dalam bergurau

Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya saya bercanda dan saya tidaklah mengatakan selain kebenaran.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir dari jalan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

  1. Tidak bercanda di saat seseorang dituntut untuk serius

Hal ini bertentangan dengan adab kesantunan dan bisa jadi mengakibatkan kejelekan bagi pelakunya atau orang lain, termasuk kesalahpahaman di masyarakat.

Terlebih lagi jika disampaikan di hadapan masyarakat awam, candaan yang diungkapkan seorang pemimpin dapat dianggap serius dan legal. Bayangkan jika masyarakat jadi menganggap pawang hujan adalah bukan kemusyrikan? Allahu akbar, maka semakin jauhlah masyarakat dari memurnikan tauhid kepada Allah Ar-Rozaq, mahapemberi rizki, termasuk mengendalikan hujan.

Atas klarisfikasi tersebut di atas, netizen mendoakan agar ini menjadi penggugur dosa Ridwan Kamil yang sebelumnya sudah ditanggapi secara berlebihan oleh masyarakat yang menyayangkan kebijakan pawang hujan. Wallahua’lam bish shawwab. (adibahasan/arrahmah.com) Adiba Hasan Selasa, 20 Rabiul Akhir 1436 H / 10 Februari 2015 15:59

***

Wajib Lepas Diri Dari Kemusyrikan

By nahimunkar.com on 8 March 2014

Bagaimana kalau justru mereka yang hadir di upacara kemusyrikan (apa saja bentuknya) terhitung dalam hadits ini:

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى  تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim

Pertanyaan yang perlu diajukan kepada para ulama, dengan adanya gejala banyaknya para pejabat mengikuti upacara agama kemusyrikan: bagaimana Bapa-bapak para ulama, kalau yang mereka ikuti itu orang-orang musyrik, dan yang mereka sembah itu adalah jabatannya, karena dengan menyembah jabatan itu mereka mengikuti upacara-upacara kemusyrikan agar jabatannya langgeng dan sebagainya? Apakah yang seperti itu termasuk dalam hal yang disabdakan Rasulullah tersebut?

Walaupun seandainya ada yang menjawab bahwa itu tidak teramasuk, namun sudah ada ketegasan dalam Al-Qur’an secara jelas:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 4)

Peringatan yang tegas pula, telah Allah firmankan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة/51]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Maaidah: 51).

Para pelakunya diperingatkan seperti itu. Sedang ulama dan lainnya yang mampu untuk mengingatkan namun diam, apalagi justru mengolok-olok orang yang memperingatkan kemunkaran ini, maka dikhawatirkan terkena ayat ini:

] لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ ! كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ ! تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ[

“Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. “ (Al-Maidah : 78 s.d. 80).

Nekadnya para pejabat yang mengaku Muslim namun mengikuti upacara-upacara kemusyrikan dan kekafiran, dan diamnya para ulama adalah pertanda bahaya di negeri ini. Dan juga para pendukungnya yang mungkin mengecam orang-orang yang memperingatkannya, maka kemungkinan juga tergolong mereka. Maka semoga tulisan ini sebagai saksi bahwa kami telah berupaya memperingatkan, walau mungkin dibenci oleh orang-orang yang pro kekufuran dan kemusyrikan.

Wala’ dan bara’ adalah bagian dari iman bahkan syarat syahnya iman, seperti firman allah:

 تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ[

“kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada allah, kepada nabi (musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-maidah: 80-81)

Ibn taimiyah berkata tentang ayat ini: “penyebutan jumlah syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang disyaratkan dengan  kata “seandainya” tadi pasti ada, allah berfirman:

] وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ[

“sekiranya mereka beriman kepada allah, kepada nabi (musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”.

Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali, berarti belum melakukan iman yang wajib kepada allah, nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (al-qur’an)” (ibn taimiyah, kitab al-iman, 14)

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٧)

  1. jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu[1307] dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1308]. kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS 39;7)

[1307] Maksudnya: manusia beriman atau tidak hal itu tidak merugikan Tuhan sedikitpun.

[1308] Maksudnya: masing-masing memikul dosanya sendiri- sendiri.

(dari berbagai sumber/ nahimunkar.com)