Aliran Kepercayaan Tidak Sejalan dengan Akal Sehat

  • “Halusinasi itu ketidaksejatian dalam praktik-praktik asketisme. Asketisme atau keshalehan yang sejati itu tauhid atau monoteisme, bukan halusinasi yang kemudian melahirkan kepercayaan yang tidak berbasis pada common sense, pada akal sehat.”
  • Tidak ada keharusan mempertahankan suatu kebudayaan yang bertentangan dengan akal sehat. Dulu, kebudayaan manusia mengalami zaman batu, lalu apakah kita mau mempertahankan cara berfikir dan pola budaya zaman batu di era millennial.


Ilustrasi. Foto/ scribd.com

 

Pengajar Filsafat Ilmu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan, Fahrus Zaman Fadhly, menanggapi kebangkitan aliran kepercayaan Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, yang dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai modernism. Atau nilai yang mengedepankan rasionalitas dan empirisme sebagai basis dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Fahrus, modernisasi yang bekerja dengan basis rasionalisme tidak mengakomodasi keyakinan atau kepercayaan yang irrasional dan berbau mistisisme. Mistisisme sendiri adalah bentuk kegagalan dalam menegakkan tradisi berfikir rasional. Ini merupakan ekpresi ketidakberdayaan dalam meneruskan hidup di era modern maupun posmodern.

“Saya tidak menyebut secara spesifik suatu aliran kepercayaan tertentu. Tetapi secara umum kepercayaan yang berbasis nilai-nilai mistis dan pengagungan masa lalu yang emosional dan sepenuhnya subjektif, kerapkali tidak rasional dan semata berpijak pada halusinasi spiritual,” jelas Fahrus, Minggu (02/08), kepada InilahKuningan

 

Ditegaskan, pelaku spiritual yang sejati semestinya tidak berhalusinasi. Halusinasi adalah ekspresi seseorang yang tidak sejati secara spiritual.

 

“Halusinasi itu ketidaksejatian dalam praktik-praktik asketisme. Asketisme atau keshalehan yang sejati itu tauhid atau monoteisme, bukan halusinasi yang kemudian melahirkan kepercayaan yang tidak berbasis pada common sense, pada akal sehat,” jelasnya lagi

 

Karena itu di era posmodern saat ini, lanjut dia, aliran kepercayaan tidak mendapat sambutan dari orang-orang terdidik dan kaum cendekiawan yang memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah.

 

Halusinasi yang kerap dialami para pengikut aliran kepercayaan adalah sumber kesesatan berfikir. Kesesatan berfikir bukanlah produk budaya yang sehat.

 

“Saya sepakat dengan pandangan Budayawan Kuntowijoyo, bahwa dalam membangun strategi kebudayaan nasional, kita harus menghilangkan keyakinan-keyakinan lokal yang irrasional dan berbau mistik karena keduanya menjadi sumber penghambat kemajuan kebudayaan suatu bangsa,” papar Fahrus

 

Fahrus menjelaskan, frase pelestarian kebudayaan budaya itu jangan difahami secara salah kaprah. Kebudayaan itu, bukanlah kata benda, tapi kata kerja yang sifatnya dinamis.

 

Kebudayaan itu bersifat dinamis dan dialektis. Ada proses dialektika dalam kebudayaan. Yaitu proses dialektika tesa dan antitesa. Budaya di suatu kurun waktu tertentu berdialektis dengan budaya lain. Manusia pada setiap masanya menghasilkan produk kebudayaannya sendiri.

 

Tidak ada keharusan mempertahankan suatu kebudayaan yang bertentangan dengan akal sehat. “Dulu, kebudayaan manusia mengalami zaman batu, lalu apakah kita mau mempertahankan cara berfikir dan pola budaya zaman batu di era millennial. Dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat seperti saat ini,” tanya dia./tat azhari

Inilahkuningan.com- 1 hari lalu oleh redaksi

(nahimunkar.org)

(Dibaca 332 kali, 1 untuk hari ini)