aliran-sesat

Ketua Komisi Fatwa MUI Tarakan mengakui adanya penyebaran aliran sesat yang terjadi di Tarakan. Mereka menganggap shalat lima waktu tidak wajib, bahkan cenderung riya’ karena tidak ada dalam al Qur’an. “Shalat di masjid tidak perlu, bahkan cenderung riya’” Ungkap Ketua Komisi Fatwa MUI Tarakan, KH. Setyabudi Almin mengomentarai adanya aliran sesat yang sedang menyebar di Tarakan dalam wawancara dengan An Najah di sela-sela pembahasan tentang Zakat di Badan Amil Zakat, Tarakan, Kamis, 11/7/2013.

Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Setyabudi Almin mengakui aliran sesat yang terjadi di Tarakan meresahkan. “Ya, di sekitar situ mereka meresahkan”, ungkapnya Lebih jauh, disebutkan bahwa al Qur’annya sama, tetapi mereka menutupi kata-kata ‘ilah’. Seperti la ilaha illallah. Ilahnya dihilangkan, karena menurutnya mereka tidak mau ada Tuhan, yang ada hanya Allah.

MUI sudah mengundang penyebar ajaran ini yaitu Antung Mukhtar dan Jamhari yang tinggal di Mamrungan, tetapi mereka tidak hadir. Karena itu, kami serahkan semuanya kepada Walikota. MUI sudah menyerahkan masalah ini kepada Walikota Tarakan untuk diselesaikan. Karena MUI tidak mempunyai kemampuan memaksa. “Kami sudah serahkan ke Walikota, agar Walikota menghadirkan mereka, nanti dibicarakan bersama-sama” ungkapnya.

Ketika ditanya bagaimana jika Walikota tidak segera memanggil mereka. MUI akan selalu meminta untuk segera diselesaikan, karena MUI pernah melarang mereka menyebarkan ajaran tersebut. Namun ternyata mereka pindah tempat yaitu di Mamrungan. MUI juga pernah meminta mereka datang di kantor MUI tetapi mereka juga tidak mau datang. “Sekarang yang mampu memaksa adalah Walikota”, tegasnya kembali. (Abdulloh khoir/ismet/An-Najah) (An-Najah),  Publikasi: Kamis, 3 Ramadhan 1434 H / 11 Juli 2013 13:48

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.884 kali, 1 untuk hari ini)