Beredar video KH. Tengku Zulkarnain حفظه الله تعالىٰ yang mengingkari Allah سبحانه و تعالىٰ bersemayam di atas ‘Arsy, kemudian beliau mengolok-olok ‘aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti ‘aqidahnya Yahudi dan Nashrani karena meyakini Allah سبحانه و تعالىٰ bersemayam di atas ‘Arsy.

Tak ketinggalan beliau juga melecehkan kehormatan al-Ustadz ‘Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله تعالىٰ dengan sebutan ‘mami’ yang sebelumnya didahului ungkapan pendusta dan babi…

Saya tak habis pikir mengapa ada seorang ustadz atau da’i yang bisa mengingkari keberadaan Allah سبحانه و تعالىٰ di atas langit? Sementara di dalam menyanggah pendapat (argumentasi) ini tidak ada satu pun dalil yang beliau berikan kecuali kata-kata umpatan dan cacimaki kepada saudaranya… tidakkah beliau ingat hadits Nabi ﷺ akan hal ini?

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Seorang muslim, ialah orang yang kaum muslimin selamat dari lidah dan tangannya.”
(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, kitabul ‘Iimaan, bab Al-Muslimu man salimal muslimuu-na min lisaanihi wa yadihi, no. 10, 6044, Muslim, no. 40, Abu Dawud, no. 2481, dan An-Nasaa’i, VIII/105)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Memaki (mencela) seorang muslim adalah perbuatan fasiq dan memeranginya (membunuhnya) adalah kekufuran.”
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 11, 48, 6044, 7076, Muslim, no. 42, 64, at-Tirmidzi, no. 1988, 2633, 2639 – 2640, Ibnu Majah, no. 69, 3939, dan an-Nasaa-i, VII/122)

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib menjaga darah, harta dan kehormatan muslim lainnya.(Shahiih, HR. Muslim, no. 2564)

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Seorang muslim bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, melakukan perbuatan keji dan mencacimaki muslim lainnya.” (Shahiih, HR. At-Tirmidzi, no. 1978)

Kembali kepada topik permasalahan.

KH. Tengku Zulkarnain mengingkari Allah سبحانه و تعالىٰ bersemayam di atas ‘Arsy. Dan menganggap ‘aqidah ini sama persis dengan ‘aqidah Yahudi dan Nashrani sehingga siapa saja yang mengimami ‘aqidah tersebut sesat karena menyerupai ‘aqidah Yahudi dan Nashrani.

Baik, disini ada pertanyaan :
“Sesungguhnya yang mengetahui (paham) tentang Allah itu siapa?”

Al-Jawaab :
“Tentu Allah itu sendiri.”

Benar, jika yang mengetahui tentang Allah adalah Allah itu sendiri, maka mengapa kita persoalkan (baca : protes) jika Allah سبحانه و تعالىٰ menyatakan bahwa Dia bersemayam di atas ‘Arsy? Sebab bukankah Allah sendiri yang menyatakan Dia bersemayam di atas ‘Arsy dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya? Lantas kemudian koq bisa beliau menyamakan ‘aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan Allah سبحانه و تعالىٰ bersemayam di atas ‘Arsy dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya sama dengan ‘aqidah Yahudi dan Nashrani kemudian dikatakan sesat bahkan kafir?

Jikalau kita konsisten dengan pendapat, ‘yang mengetahui tentang Allah adalah Allah itu sendiri’, lantas mengapa kita harus ribut (baca : komplain)? Cukup bagi kita imani bahwasanya bersemayamnya Allah سبحانه و تعالىٰ tidak sama dan tidak serupa dengan makhluk. Dia bersemayam sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana kita imani Allah سبحانه و تعالىٰ Maha Mendengar dan Maha Melihat, pun manusia juga mendengar dan melihat, akan tetapi kita tidak menyerupakan pendengaran dan penglihatan Allah dengan makhluk bukan? Kalau demikian begitu juga dengan semayamnya Allah سبحانه و تعالىٰ di atas ‘Arsy, bahwasanya Dia bersemayam sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, berbeda dengan makhluk.

Bukankah Allah سبحانه و تعالىٰ di dalam al-Qur-an dan Rasulullah ﷺ di dalam banyak hadits serta keterangan para ‘ulamaa Salaf menunjukkan Allah سبحانه و تعالىٰ di atas langit, Dia bersemayam di atas ‘Arsy?

Dalil dari al-Qur-an :

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
Sungguh, Rabbmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raaf [7] : 54)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
“Sesungguhnya Rabb kamu Dia-lah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.(QS. Yuunus [10] : 3)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
“Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 2)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
“Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thahaa [20] : 5)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
Dia yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.(QS. Furqaan [25] : 59)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. As-Sajdah [32] : 4)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :

Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-Hadiid [57] : 4)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba berguncang?” (QS. Al-Mulk [67] : 16)

Dalil dari As-Sunnah :

Dari Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah bersabda kepada seorang budak wanita,
“Di mana Allah?”
Ia menjawab,
“Allah di atas langit.”
Lalu Rasulullah bersabda,
“Siapa aku?”
“Engkau adalah Rasulullah.”
Jawabnya.
Kemudian Rasulullah bersabda,
“Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya ia seorang wanita mukminah.”
(Shahiih, HR. Muslim, no. 537, Abu ‘Awanah, II/141 – 142, Abu Dawud, no. 930, an-Nasaa-i, III/14 – 16, ad-Darimi, I/353 – 354, Ibnul Jarud dalam al-Muntaqaa’, no. 212, al-Baihaqi, II/249 – 250, dan Ahmad, V/447 – 448)

Terdapat dua permasalahan yang terkandung di dalam hadits ini :

1. Disyari’atkan untuk bertanya kepada seorang muslim : “Di mana Allah?”

2. Jawabannya yang ditanya adalah : “Di atas langit.”

Maka, barangsiapa yang memungkiri dua masalah ini, berarti ia memungkiri Rasulullah Muhammad ﷺ.”
(Mukhtasharul ‘Uluw oleh Imam Adz-Dzahabi رحمه الله تعالىٰ, hal. 81)

Dari Jabir bin ‘Abdillah رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata ketika Nabi ﷺ setelah berkhutbah di Arafah. Lalu Nabi ﷺ mengatakan dengan mengangkat jari telunjuknya ke atas langit dan mengisyaratkan kepada manusia dengan bersabda,
“Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah.” (Shahiih, HR. Muslim, no. 1218)

Beberapa perkataan para ‘ulamaa Salaf.

Imam Abu Hanifah رحمه الله تعالىٰ berkata,
“Allah سبحانه و تعالىٰ ada di langit, tidak di bumi.”
Kemudian ada seseorang yang bertanya,
“Tahukah anda Allah ﷻ berfirman : ‘Wahuwa ma’akum – Dan Allah bersama kalian?'”
Beliau رحمه الله تعالىٰ menjawab,
“Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang : ‘Aku akan selalu bersamamu.’ Padahal kamu jauh darinya.” (Al-Asma’ was Shifat, II/170)

Beliau رحمه الله تعالىٰ juga berkata,
“Dalam berdo’a kepada Allah سبحانه و تعالىٰ kita memanjatkan do’a ke atas, bukan ke bawah.” (al-Fiqh al-Absath, hal. 51)

Beliau رحمه الله تعالىٰ juga berkata,
“Barangsiapa yang berkata, ‘Aku tidak tahu Rabbku itu dimana, di langit atau di bumi.’ Maka orang itu kafir. Demikian pula orang yang berkata, ‘Rabbku di atas ‘Arsy, namun aku tidak tahu ‘Arsy itu di langit atau di bumi.'” (al-Fiqh al-Absath, hal. 46)

Imam Malik رحمه الله تعالىٰ pernah ditanya,

Wahai Abu ‘Abdillah, Allah Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thahaa [20] : 5)

Maka bagaimana Dia bersemayam?’
Maka mendengar pertanyaan itu Imam Malik رحمه الله تعالىٰ pun marah seraya menjawab,
“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyat (cara bersemayamnya) tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah.”
Kemudian Imam Malik رحمه الله تعالىٰ memerintahkan orang itu agar dikeluarkan dari majelis beliau.”
(Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi, I/171, Mukhtasharul ‘Uluw lil Imaam adz-Dzahabi, hal. 141 – 142, no. 104, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, VI/325 – 326, ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi dalam Ar-Rad ala al-Jahmiyah, hal. 55, al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqaad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, no. 664, Abu ‘Utsman ash-Shabuni dalam ‘Aqidah Salaf Ash-Shabul Hadits, hal. 24 – 26, al-Baihaqi dalam al-Asma’ was Shifat, hal. 408, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fat-hul Baari, XIII/406 – 407)

Imam Asy-Syafi’iy رحمه الله تعالىٰ berkata,
“Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, sahabat-sahabat saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ‘ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik bin Anas dll, adalah menetapkan seraya bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak diibadahi selain Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah, dan Allah itu turun ke langit terdekat (dunia) kapan Allah berkehendak.”

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله تعالىٰ berkata,
“Kami mengimani bahwa Allah سبحانه و تعالىٰ ada di atas ‘Arsy bagaimana yang Dia berkehendak dan seperti apa yang Dia kehendaki, tanpa batasan dan sifat yang dipakai oleh seseorang untuk mensifati dan membatasi sifat itu.”
(Dar’u Ta’arudh Al-‘Aql wan Naql, II/30)

Yaa, Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya dan terpisah oleh makhluk-Nya.

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah bersabda,
“Rabb kita (Allah) turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir, seraya menyeru :

‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan do’anya.
Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya.
Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.'”
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7494, Muslim, no. 758 [168], at-Tirmidzi, no. 3498, Abu Dawud, no. 1315, 4733, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, no. 492, dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid, I/280)

Abu ‘Utsman ash-Shabuni رحمه الله تعالىٰ berkata,
“Para ‘ulamaa ahli hadits menetapkan turunnya Rabb ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa mengumpamakan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkan sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar lagi), memperlakukan kabar shahiih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ‘ilmunya (kaifiyatnya) kepada Allah سبحانه و تعالىٰ.”
(‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadits, no. 38, hal. 46)

Inilah ‘aqidah Islam, ‘aqidah yang kokoh karena berdiri di atas Kitabullah dan As-Sunnah Rasulullah dan ijma’ para ‘ulamaa serta fitrah manusia yang meyakini Allah سبحانه و تعالىٰ Maha Tunggi yang bersemayam di atas ‘Arsy dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

✒ Abu ‘Aisyah Aziz Arief_

Via fb Moch Aziz Arief Sujatmiko

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.026 kali, 3 untuk hari ini)