Allah tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya

  • Membela Kepemimpinan Sekuler dan Semacamnya dengan Hadits?

     

{وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ } [الزمر: 7]

… dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya;. [Az Zumar:7]

Kepemimpinan sekuler dan semacamnya tidak sejalan bahkan arahnya berbalikan dengan agama Allah yang membenci kekufuran itu.

Seorang Muslim apalagi da’i yang memegangi Islam bahkan berda’wah ilallah tentunya tidak akan mendukung apapun yang tidak sejalan dengan yang tidak diridhoi Allah.

Ketika kepemimpinan sekuler jelas tidak sejalan dengan agama Allah yang benci kekufuran, maka betapa tidak pantasnya bila ada orang Islam apalagi da’i yang mencari-carikan dalil ataupun dalih demi membela kepemimpinan sekuler yang sifatnya seperti tersebut, demi menggebuk Muslim yang dianggap tidak taat dan mengkritik kepemimpinan yang tidak pro agama Allah itu. Benarkah itu berda’wah ilallah?

***

Membela Kepemimpinan Sekuler dan Semacamnya dengan Hadits?


Ilustrasi foto/slideshare

 

Sebagian kalangan selalu beralasan dengan hadits ini (… Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian.  … HR Muslim) serta hadits lainnya yang semakna dan menerapkannya kepada setiap penguasa sekuler, selama para pemimpin tersebut masih mengerjakan shalat maka wajib taat kepadanya. Mereka tidak melihat muthlaq dan muqayyad-nya suatu dalil; serta menjadi kelompok yang suka memakai satu ayat atau hadits dan menyembunyikan ayat atau hadits lainnya yang sebenarnya berfungsi sebagai tafsirannya.

Istinbath hukum dari satu atau dua dalil tanpa melihat dalil lainnya akan menghasilkan hukum yang cacat, serba kontradiktif dan tidak utuh. Padahal permasalahan ini sangat urgen dalam kehidupan umat Islam hari ini. Masih ada dalil lain yang menjelaskan tentang syarat ulil amri yang harus ditaati. Misalnya hadist:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah, walaupun yang memimpin kalian seorang budak habasyi yang pesek hidungnya (buruk atau cacat rupanya) tetaplah kalian mendengarnya. Taatilah selama ia menegakan kitabullah ‘Azza wa Jalla di tengah kalian.” (HR. Muslim, no. 1298 dan 1838, Tirmidzi no. 1706[5], serta dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 7861[6]).

Inilah syarat selanjutnya agar diakui sebagai ulil amri yang wajib ditaati, yaitu menegakkan hukum Allah dan menjadikannya sebagai asas tunggal negara yang wajib oleh seluruh rakyatnya. Ali bin Abi Thalib berkata, “Wajib atas pemimpin untuk memerintah dengan hukum Allah dan menunaikan amanah. Dan apabila telah dijalaninya, maka wajib bagi rakyat mendengarnya dan mematuhinya.”[7]

Imam an-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas, beliau berkata, “Tidak dibenarkan memberontak kepada penguasa hanya karena ia berbuat zhalim dan melakukan perbuatan fasik, selama mereka tidak merubah prinsip-prinsip atau pondasi agama Islam.”[8]

Dr. Ali Juraisyah berkata, “Tidak diragukan bahwa syarat mendirikan shalat adalah isyarat mendirikan dien seluruhnya, hanya saja nash cukup menyebut shalat saja karena shalat merupakan tiang agama.”[9]

Syaikh Hamid bin Abdullah al-Ali, ulama Kuwait lulusan Universitas Islam Madinah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut dan lainnya menjelaskan tentang ulil amri yang melakukan kedzaliman terhadap rakyat namun tidak sampai kepada kekafiran yang nyata, yaitu tidak sampai mengingkari syariat, tidak menolak berhukum dengannya, dan tidak meninggalkan kewajiban menegakkan dien. Dzalim yang demikian adalah kezaliman yang bersifat duniawi. Dalam hal ini rakyat tidak boleh merebut kekuasaannya. Karena ini akan meruntuhkan kesatuan umat. Menjaga persatuan umat lebih utama daripada melawan kedzaliman penguasa.”[11]

***

Hadits yang dimaksud adalah ini:

Imam Muslim meriwayatkan:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1855).[4]

————

[4]  Abu Husain Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim, (Kairo: al-Maktabah al-Islamiyyah, 1432 H).

[5] Muhammad bin ‘Isa bin Surah bin Musa at-Tirmidzi, Jami’ at-Tirmidzi, Bab Ma Ja’a Fi al-Imam, (Riyadh: Daru as-Salam, 1420), hlm. 408

[6] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shahih al-Jami’ ash-Shagir, (Beirut: al-Maktabah al-Islami, 1408 H), vol. II, hlm. 1297

[7]  Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, (Beirut: Dar Thayyibah, 1417), vol. II, hlm. 240.

[8] Imam an-Nawawi, Syarhu Shahih Muslim, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H), Vol. 12, hlm. 204.

[9] Dr. Ali Juraisyah, Askanasy Syariyah al-Islamiyah , hlm.  103, sebagaimana dinukil dari makalah ilmiyah; Syubhat-Syubhat Jihad Melawan Penguasa Kafir, Rahmat Hidayatullah, hlm. 15

[11] Majalah Digital Kiblat; Pemerintah Sekuler Bukan Ulil Amri, Edisi Muharram 1435, hlm. 7

 

(Dipetik sebagian, dari artikel ‘Batasan Ta’at Pada Penguasa (Kajian Hadits dan Siyasah Syar’iyyah)‘ oleh Oleh: Feri Nuryadi Sumber : annursolo.com, Posted on 27 Maret 2019 by Nahimunkar.com
https://www.nahimunkar.org/batasan-taat-pada-penguasa-kajian-hadits-dan-siyasah-syariyyah/
)

***

 

Ibnu Taimiyah: “Sesungguhnya kepemimpinan (Imarah) (yang wajib ditaati-pent) adalah selama mereka menegakkan agama (iqamatuddin)…” (Minhajus Sunnah An Nabawiyah 1/143)


Kalangan As Salaf As Shalih tidak mengenal istilah pemimpin (ulil amri pent-) yang tidak menjaga agama. Menurut mereka pemimpin seperti ini bukanlah ulil amri. Yang dimaksud kepemimpinan (ulil amri) adalah menegakkan agama. Setelah itu baru ada yang namanya kepemimpinan yang baik dan kepemimpinan yang buruk.” (Al Wajiz fi Aqidati Salafis Sholih Ahlussunnah wal Jamaah, hal 103. Buku ini dimuraja’ah oleh Syaikh Sholih Fauzan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Syaikh Sholih bin Abdul Azis Alu Syaikh, Syaikh Su’ud Syuraim dll)

Sementara itu syaikhul Islam Ibnu Tamiyah di dalam Minhajus Sunnah An Nabawiyah memberikan batasan ketaatan terhadap pemimpin. beliau berkata, “Sesungguhnya kepemimpinan (Imarah) (yang wajib ditaati-pent) adalah selama mereka menegakkan agama. kemudian, ada imam yang baik dan ada imam yang jahat. Ali bin Abi Thalib berkata, “Manusia (umat Islam-pener) wajib memiliki pemimpin. Bisa yang baik maupun yang buruk. Ditanyakan kepadanya, “kami paham maksud pemimpin yang baik, tapi pemimpin yang buruk?” Ali menjawab, “Pemimpin yang buruk adalah yang memberikan keamanan di jalan, menegakkan hudud, berjihad melawan musuh dan mendistribusikan fai’.” (Minhajus Sunnah An Nabawiyah 1/143)

Di dalam nukilan di atas Ibnu Taimiyah ingin menyatakan bahwa syarat seorang pemimpin wajib ditaati adalah menegakkan agama (iqamatuddin), setelah terpenuhi syarat itu maka barulah ketaatan menjadi wajib bagi kaum muslimin. Hal ini senada dengan hadits :

” إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ – حَسِبْتُهَا قَالَتْ: أَسْوَدُ – يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ، فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا “

Artinya, “Jika kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya yang buruk rupa – saya kira perawi menambahkan kata hitam- yang memimpin kalian dengan kitab Allah, maka dengarkanlah dan taatilah.” (HR. Muslim)/ (Dikutip seperlunya dari artikel berjudul ‘Menimbang Status Ulil Amri Penguasa Sekulerhttps://www.nahimunkar.org/menimbang-status-ulil-amri-penguasa-sekuler/? ).

***

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: Laknat Allah atas Pemimpin yang Menyulitkan Umat Islam


Posted on 30 Agustus 2019

by Nahimunkar.org

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).
Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

(nahimunkar.org)

Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam. 
Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu untuk membela Umat Islam. 
Bila ada yang menyembunyikan doa itu padahal sering menegaskan bahwa Islam itu sudah komplit, maka seakan mengingkari ucapannya sendiri. 
Bila akibatnya murid2nya hanya tahu apa yg mereka anjurkan untuk mendoakan kebaikan untuk para pemimpin, dan berani mengecam orang yang berdoa sesuai doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, maka sang dai itu berat tanggung jawabnya. 
Di dunia belum tentu dapat apa2, di akherat entah bagaimana beratnya. Maka jangan sampai kita terhitung sebagai orang yang sikapnya jadi pendukung pemimpin zalim lagi dusta, apalagi menyulitkan umat Islam.

 

https://www.nahimunkar.org/membela-kepemimpinan-sekuler-dan-semacamnya-dengan-hadits/?

 

(nahimunkar.org)

 

 

 

 


 

(Dibaca 239 kali, 1 untuk hari ini)