syirik

JAKARTA (gemaislam) – Ziarah kubur adalah salah satu ibadah yang dianjurkan oleh Nabi. Tetapi ia menjadi terlarang jika melanggar aturan yang ditentukan oleh syari’at, seperti menjadikan penghuni kubur sebagai perantara tujuan untuk meminta dan berdo’a.

Maraknya berbagai penyimpangan yang terjadi disekitar kuburan, membuat para da’i dan ulama angkat bicara. Acara pengajian dan tabligh akbar pun kerap kali mengangkat tema ini.

KH. Abullah Zain, MA dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di Youtube, menjelaskan bahwa orang yang berdo’a dikuburan Wali atau yang lainnya, hukumnya ada 3 macam.

“Pertama, jika datang kesitu (kuburan –red)  untuk mendoakan mereka (penghuni kubur –red) supaya diampuni. Kalau tidak dikhususkan waktunya maka tidak apa-apa,dan ini termasuk ibadah yang mulia,” Ujar Kyai Abdullah.

Yang kedua, kata Kyai lulusan Pesantren Gontor itu, jika berdoa dan meminta kepada Wali maka itu adalah perbuatan Syirik. “Seperti ada orang mengatakan, Mbah wali, saya lagi  ikut tender, bagaimana supaya saya jadi pemenangnya?, maka ini Syirik,”katanya.

Kemudian yang ketiga, kata peraih master dalam bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah KSA ini, jika seseorang datang ke kuburan, berdo’a disisinya dengan perantara penghuni kubur itu, maka tidak boleh.

“Seseorang minta kepada Allah (disisi kuburan –red) dengan mengatakan: Saya sampai sekarang belum punya istri, berilah istri yang cantik dengan perantara wali ini, maka ini tidak boleh, termasuk bid’ah, bahkan bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik,” paparnya dengan logat ngapak khas Banyumas. (bms) Written by Gema Islam

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.854 kali, 1 untuk hari ini)