Syria Map

Masih memantau perkembangan di Irak dan Suriah. Kota Ramadi (Irak) dan Palmyra (Suriah) di ambang kejatuhan ke tangan pasukan IS/ISIS.

#Palmyra dikenal sbg kota kuno di Suriah yg mewarisi sisa2 peninggalan kerajaan Romawi. Letaknya di tengah2 gurun. pic.twitter.com/PUAHYOd3wY

Palmyra

Kalau #Palmyra sampai jatuh ke tangan ISIS, ini bakal jd pukulan berat bagi rezim Assad setelah jatuhnya kota Idlib & Jisr al-Shughour.

Beberapa waktu lalu kota Idlib dan Jisr al-Shughour telah jatuh ke tangan faksi2 pemberonrak Suriah di luar ISIS.

Biasanya bila ada kota/wilayah direbut pasukan oposisi, rezim Assad akan membalas dg menjatuhkan bom2 gentong yg banyak menelan korban sipil

Konflik di Suriah telah berlangsung selama 4 tahun. dan nampaknya rezim Assad mulai terlihat kewalahan mempertahankan benteng2 pertahanannya

Meski unggul dr segi persenjataan, pasukan Assad mengalami kekurangan personil krn mayoritas pasukannya adalah Syiah Nushairiyah.

Dan kita tahu penganut sekte Syiah Nushairiyah merupakan minoritas di Suriah (hanya 15%), namun mendominasi kekuasaan selama puluhan tahun.

Selama ini, kekurangan personil di pihak pasukan Assad berusaha ditutup dgn membentuk milisi2 terutama dari penganut Syiah dan Kristen.

Dan ada juga sebagian kecil penganut Sunni sekuler di Suriah yg mau bergabung dgn milisi 2 pro Assad.

Selain mengandalkan kekuatan dari dalam, rezim Assad juga mendapat bantuan personil dari luar negeri, antara lain dr Iran, Irak, & Libanon.

Sudah bukan rahasia lagi, Iran mengirimkan para penasihat militer dan personil pasukan Garda Revolusinya utk bertempur membantu rezim Assad.

Sdgkan Irak yg pemerintahnya didominasi Syiah lebih banyak mengirimkan pasukan non reguler alias milisi2 yg dibentuk dari org2 Syiah Irak.

Ada pun dari Libanon, yg terang2an membantu rezim Assad adalah pasukan Syiah ‘Hizbullah’ pimpinan Hassan Nashrallah.

Selain bantuan personil, rezim Assad juga mendapat bantuan persenjataan terus menerus dari rezim Iran dan Russia.

Dengan segala keunggulan persenjataan (terutama di udara) plus bantuan personil & persenjataan dr luar itulah rezim Assad msh bisa bertahan.

Dari “identitas” pihak2 yg membantu rezim Suriah tsb (Iran, Irak, Hizbullah, & Russia) kita sudah dapat membaca apa motivasi mereka.

Bagi rezim Iran, Irak, dan Hizbullah Libanon, motivasi mereka membantu rezim Assad jelas adalah karena faktor ‘solidaritas sesama Syiah’.

Meskipun sekte Syiah yg dianut oleh rezim penguasa Iran, Irak, dan Hizbullah itu berbeda2, mereka tetap kompak bila lawannya adalah Sunni.

Mereka tentu tidak rela bila rezim Syiah yg selama puluhan tahun mendominasi kekuasaan di Suriah sampai jatuh. Inilah ‘solidaritas Syiah’.

Jatuhnya rezim Syiah Suriah akan mengacaukan mimpi mereka membentuk ‘poros Syiah’ yg membentang dari Teluk Persia hingga pantai Mediterania.

Lalu apa motivasi Russia mendukung rezim Assad bertahan dari ancaman kejatuhan? Ini tentu berbeda dgn motivasi Iran, Irak, dan Hizbullah.

Jawabnya adalah krn rezim Suriah selama ini merupakan sekutu lama Russia yg punya arti sangat strategis bagi kepentingan Russia di kawasan.

Satu-satunya fasilitas pangkalan Angkatan Laut Russia di Laut Mediterania adalah di Tartus, Suriah. pic.twitter.com/uV0enzsL6l

 Tartus

Pangkalan AL Russia di Tartus memiliki nilai yg amat strategis bagi Russia untuk melawan dominasi kekuatan Barat di Laut Tengah.

Pangkalan AL Russia di Tartus memiliki arti simbolis yg menunjukkan “kehadiran” Russia di Timur Tengah. pic.twitter.com/CdsDoYejn1

Tartus port

Selain itu, sejak dulu Suriah adalah pasar persenjataan terbesar Rusia di Timur Tengah. Hampir semua persenjataan Suriah dibeli dari Russia.

Karena itu tidaklah mengherankan bila Russia terus memberikan dukungan tanpa batasnya kepada rezim Assad agar jangan sampai jatuh.

Bahkan bukan hanya persenjataan, Rusia juga tidak segan2 menggunakan hak vetonya bila ada resolusi DK PBB yg akan merugikan rezim Assad.

Dengan berbagai dukungan dari sekutu2nya itulah rezim Assad masih dapat bertahan hingga saat ini menghadapi berbagai faksi pemberontak.

Di luar dukungan besar tadi, masih bertahannya rezim Assad hingga saat ini juga karena di pihak oposisi ternyata juga saling bertikai.

Begitu banyak faksi2 oposisi/pemberontak di Suriah yang saling bersaing bahkan tak jarang terjadi bentrokan berdarah di antara mereka.

Secara garis besar, ada 4 faksi utama di Suriah yaitu faksi2 nasionalis sekuler, faksi2 “islamis”, ISIS, dan suku Kurdi.

Masing2 faksi oposisi itu memiliki kepentingan kelompoknya sendiri2 sehingga di lapangan tak jarang terjadi gesekan di antara sesama mereka.

Hubungan antar faksi2 oposisi itu amat “complicated” sehingga nyaris mustahil untuk menyatukan mereka, bahkan seandainya Assad telah jatuh.

Dengan segenap fakta-fakta itu, nampaknya perang di Suriah yg telah berlangsung selama 4 tahun ini masih akan panjang ceritanya.

Hal tsb juga diperparah kenyataan bahwa ada begitu banyak kepentingan luar yg ikut bermain dalam konflik Suriah, baik di sisi Assad/oposisi.

Sehingga dapat dikatakan, konflik Suriah adalah konflik yg paling rumit dari semua konflik yg pernah terjadi di Timur Tengah.

Namun perkembangan di lapangan dalam beberapa waktu terakhir ini telah membuat pergeseran yg cukup signifikan. Rezim Assad makin terdesak.

Lepas dari semua itu, yg paling menderita dlm perang berkepanjangan di Suriah tsb adalah rakyat Suriah yg notabene mayoritas adalah muslim.

Ratusan ribu nyawa telah melayang dg cara mengenaskan, jutaan lainnya mengungsi ke berbagai negara, yg terbesar adalah ke Turki & Yordania.

Ironisnya, Suriah yg dulu menjadi tempat pengungsian warga Palestina, kini justru menjadi “penghasil” pengungsi baru terbesar di dunia.

Satu hal yg perlu saya garisbawahi dari kultwit ini adalah perlunya meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya Syiah dgn segala ambisi mereka.

Fakta membuktikan, ketika masih lemah dan minoritas, mereka akan berlindung di balik kata2 toleransi, kebebasan berkeyakinan, dan HAM.

Mereka juga berlindung di ketiak penguasa sekuler, bersembunyi di balik paham ‘nasionalisme’, serta berkolaborasi dg kelompok2 liberal.

Mereka akan selalu memposisikan dirinya sebagai minoritas yg terzhalimi dan terancam oleh kelompok2 yg dituduh “radikal”.

Namun ketika mereka sudah merasa kuat, apalagi kekuasaan telah berhasil mereka genggam, mereka akan menampakkan wajah aslinya yg beringas.

Mereka tak akan segan2 menggunakan tangan kekuasaan untuk memberangus pihak2 yg dianggap sbg ancaman bagi terwujudnya ambisi mereka. #Syiah

Mereka juga terus mengadu domba antar kelompok2 Islam yg kebetulan berbeda aliran, misalnya menghembuskan isu ‘Wahabi’ di tengah2 warga NU.

Mereka tak akan membiarkan elemen2 umat Islam yg selama ini berbeda dlm hal2 furu’ (cabang) untuk bersatu krn khawatir kedok mereka terbuka.

Dan seperti yg pernah saya kultwitkan sblmnya, era rezim Jokowi ini adalah kesempatan emas bagi mereka utk menancapkan pengaruhnya. #Syiah

“Kepastian Akan Semakin Beraninya Kelompok Syiah Bermanuver Di Era JKW” by @SangPemburu99 

Apa yg terjadi di Iran, Irak, Suriah, Yaman, bbrp negara lainnya di Timteng cukuplah menjadi bukti betapa berbahayanya kelompok Syiah itu.

Semoga umat Islam di negeri ini makin sadar akan salah satu bahaya yg mengancam: ‘serigala berbulu domba’ bernama kelompok Syiah ini.

Dan nampaknya mereka makin menjadi2 dgn merebaknya isu ISIS. Mereka menungganginya utk memuluskan ambisi dan agenda2 mereka sendiri. #Syiah

Jangan heran bila gerakan Syiah di negeri ini terus “dimonitor dan dievaluasi” oleh rezim Syiah Iran.

Saya cukupkan kultwit ini, semoga menambah wawasan dan kewaspadaan kita semua khususnya umat Islam. Sekian dan terima kasih.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.922 kali, 1 untuk hari ini)