Ambyar Sudah Pencitraannya

 

Baru kali ini pejabat tinggi ngucapin selamat natal langsung disanggah pihak yang diucapi.

Dalam berita disebutkan, diantaranya begini:

  • Menag Yaqut pejabat baru, terkena semprotan baru.
  • Ucapan selamat natal dari Menteri Agama Yaqut, secara Islam bermasalah, karena sudah ada fatwa2 haramnya ucapkan selamat natal, sedang pihak Nasarni ternyata ada tokoh yang menohoknya dengan telak: Saya Tidak Butuh Ucapan Natal, Jalankan Saja Agamamu dengan Benar
  • Menag Yaqut yang dikenal sebagai pentolan Banser NU alias Ansor yang suka bubarkan pengajian Islam di mana-mana, belum sepekan jadi menteri agama sudah diamuk Umat Islam karena mau melindungi aliran sesat pemalsu Islam yakni Ahmadiyah dan syiah; dan kini disengiti tokoh Nasrani pula.

 
 

Silakan simak ini.

***

 
 

MENOHOK! Natalius Pigai ke Menag Yaqut: Saya Tidak Butuh Ucapan Natal, Jalankan Saja Agamamu dengan Benar


Tokoh Papua yang merupakan mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Natalius Pigai menanggapi ucapan selamat Natal dari Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut. https://www.nahimunkar.org/baru-pertama-pejabat-diginiin-setelah-ucapkan-selamat-natal/

Itu pertanda penguasa saat ini telah dianggap hilang wibawanya. Bukan sekadar Yaqut sang Menteri Agama belaka. Sekali gebrak, tokoh Papua yang menyanggah Menag Yaqut itu sekaligus meruntuhkan segala-gala wibawa penguasa negeri ini terutama puncaknya. Bagai ambyar sudah pencitraannya selama ini.

Padahal pencitraan itu sudah dibangun sedemikian rupa. Ketika teroris GIDI Kritsiani di Papua membakar Masjid Umat Islam di Tolikara, justru yang diundang ke istana Jokowi di Jakarta adalah para teroris pembakar rumah Allah Ta’ala di Umat Islam itu.

Pencitraan yang sebegitunya untuk pihak Kristiani itu ternyata tidak membekaskan simpati bahkan wibawa secuilpun di depan pihak Nasrani, bahkan kini telah ambyar tak tersisa. Sedangkan sakit hati Umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas negeri ini bahkan jumlah terbesar di dunia, atas perlakuan Jokowi yang seperti itu, masih mengurat mendarah daging di benak hati Umat Islam. Ternyata kini semacam ketidak puasan bahkan mungkin kebencian menerobos dari dua arah, dari pihak Kristiani Papua itu sendiri dan juga Umat Islam yang belum tentu sembuh. Itu belum kasus2 lainnya yang entah berapa jumlahnya.

Dengan kenyataan pahit semacam itu, semoga saja bukan seperti kata orang Minang (Padang), bagai jatuh tapai (tapai dari singkong ketika jatuh ke debu tanah, maka sama sekali tidak bisa diselamatkan lagi). Ya sudah.

Itu akibat aneka faktor dan unsur terutama tingkah-tingkah selama ini, yang kata orang adalah jejak langkah. Juga akibat sebegitu kentalnya perkoncoan di rezim ini yang tidak lagi mempertimbangkan hal2 yang penting yang disebut urgen. Juga masalah yang tak kalah penting, kecerobohan yang dibungkus (maaf) pencitraan. Sehingga sampai ada yang tega mengucapkan, “satpam gereja” diangkat jadi Menteri Agama.

Hal-hal semacam itu, baik dari pihak Islam maupun pihak Kristiani dan lainnya tidak akan tersembul muncul ke permukaan, bila yang terjadi di negeri ini adalah kehidupan harmoni antara penguasa dan rakyatnya. Ini menunjukkan, bahwa pencitraan telah ambyar, wibawa telah pudar, bahkan kepercayaan dari masyarakat seolah telah sirna. Karena yang melontarkan kata-kata yang tidak pernah muncul sama sekali sebelum-sebeumnya ini bukan dari masyarakat biasa, bahkan bukan dari sekadar tokoh umum, namun adalah tokoh2 agama, dari yang Islam maupun Kristiani.

Ketika sudah begitu, itu menandakan, wis kebak sundukane, kata orang Jawa, yang maknanya, sudah penuh sesak jejak langkahnya (yang tidak disukai orang).

Entek ngalas, entek ngomah, kata orang Jawa. Persediaan yang di lahan persawahan/ perkebunan telah habis, simpanan yang di rumah pun telah tiada. Karena pencitraan telah ambyar, di depan Kum Muslimin maupun Kristiani terutama yang diwakili tokoh yang menyanggah ucapan selamat natal dari Menag Yaqut itu, dan wibawa telah hilang ke mana, sedang kepercayaan dari masyarakat entah masih tersisa atau tidak. Yang terakhir ini ada kasus yang menarik, karena dalam klaim, papua Barat merupakan pemilih Jokowi secara hampir mutlak waktu Pilpres 2019. Tapi ada berita santer, di sana ada yang mendeklarasikan Papua Merdeka baru baru ini. Maka ada yang bertanya-tanya. Lha kalau masyarakatnya hampr mutlak memilih Jokowi, lalu Jokowi dinyatakan menang dan berkuasa kini, kenapa malah Papua Barat ada yang mendeklarasikan merdeka?

Apakah itu hanya pencitraan? Dan apakah itu juga sudah ikut ambyar?

Wallahu a’lam.

Yang mesti diperhatikan, adanya peristiwa ambyar buyar seperti ini faktor utamanya sebenarnya telah terbaca. Umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas negeri ini, selama ini ada semacam tak menemukan janji2 yang telah dinantikan perwujudannya. Malah yang ada ribut2 yang sasarannya justru Umat Islam. Sampai2 ribut2 masjid dibakar teroris Nasrani Kristiani pun yang diundang ke Istana justru teroris pembakar masjid itu. Sebaliknya, justru Umat Islam yang belum tentu ada salahnya apa, 6 orang Muslim dibantai langsung ditembak mati oleh polisi Indonesia, negeri yang pimpinan tertingginya Jokowi. Sudah begitu runyamnya dan sadis kejamnya terhadap Umat Islam tak bersalah, eh malah diangkat menteri agama yang dikenal memimpin kelompok Banser NU alias Ansor yang biasa membubarkan pengajian-pengajian Islam di mana2. Sebaliknya, justru sering menjadi penjaga2 gereja-gereja di mana2 ketika natalan dan sebagainya. Itupun Banser NU alias Ansor itu masih pula dibekali dengan ilmu kebal, yang itu menurut Islam adalah berbau sihir kemusyrikan, yang sihir itu sendiri menurut Al-Qur’an adalah kekufuran (lihat QS Al-Baqarah ayat 102). Sehingga rangkaian yang mendera Umat Islam bahkan berpotensi merusak aqidah Islam itu sudah sebegitunya, dan seakan Umat Islam tidak berdaya untuk membela diri.

Ketika perlakuan terhadap Islam sudah begitu, maka janji Allah untuk membela Umat Islam pun telah ada. Entah itu kapan datangnya tapi sebagaimana yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an, umatnya Nabi Musa ‘alaihissalam yang dizalimi oleh Raja Fir’aun pun ternyata akhirnya diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diseberangkan di Laut Merah yang dengan perintah Allah ditaqdirkan untuk jadi daratan sementara untuk dilewati Nabi Musa bersama para pengikutnya hingga selamat sampai pantai sebelah, sedang Fir’aun bersama tentara dan wadyabalanya yang menyusul (di belakang Nabi Musa untuk menghancurkan pengikut Nabi Musa); ditenggelamkan Allah Ta’ala di tengah laut yang daratannya tadi kemudian kembali tertutup air menjadi laut lagi. Hingga Fir’aun bersama wadyabalanya mati semua, tenggelam di laut itu. Sedang bangkai Fir’aun terhempas ke darat, dan diawetkan sampai kini.

Benar-benar Allah Maha Kuasa:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٤٧ [ الروم:47-]

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [Ar Rum:47]

 

Itulah pertolongan Allah yang wajib jadi pelajaran berharga dan disyukuri.

Bila ingin lebih ambyar lagi, berarti ya silakan kalau memang tetap mau menzalimi Umat Islam, membantai Umat Islam tanpa salah, hanya saja resikonya, akan tetap berhadapan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menghancurkan raja-raja zalim dan manusia2 durjana yang memusuhi pengikut-pengikut Nabi Utusan Allah Ta’ala. Bahkan pentolannya hanya 9 orang penjahat pun ketika memusuhi pengikut agama Allah ta’ala, maka dihancurkan sehancur-hancurnya. Sedang yang beriman dan taqwa, mereka diselamatkan Allah Ta’ala.

{وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ (48) قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (49) وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (50) فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ (51) فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (52) وَأَنْجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ} [النمل: 48 – 53]

48. Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. [An Naml:48]

49. Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”. [An Naml:49]

50. Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. [An Naml:50]

51. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. [An Naml:51]

52. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. [An Naml:52]

53. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. [An Naml:53]

Nah, itulah. Dihancurkanlah mereka yang memusuhi Umat yang taat, dan diselamatkanlah orang2 yang beriman dan bertaqwa.

Kini gejalanya, ambyar sudah, pencitraannya dan wibawanya serta keercayaan masyarakat padanya. Tinggal mau ke mana. Ke arah mana, penjelasan telah dibeberkan.

 

Semoga Allah Ta’ala memberkahi Umat Islam yang istiqomah, dan memberi kesabaran dan kekuatan untuk menetapi ketaatan hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Via fp

Hartono Ahmad Jaiz


Diterbitkan oleh 

Kakek Usayd

  · 8 mnt  · 

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 470 kali, 1 untuk hari ini)