.

FILE – In this Tuesday, Dec. 1, 2009 photo, economist Ilham Tohti, from China’s predominantly Muslim Xinjiang region speaks to students at the Central Nationalities University in Beijing, China. His weekly lectures are a kind of high-wire act and he has been put under house arrest dozens of times over the past decade for criticizing how China runs his homeland and treats his people. Yet Tohti is not a separatist or even a political dissident. He’s a Communist Party member and a teacher at a top Chinese university who sees himself as a bridge between Hans and Uighurs. That the government has so far refused to endorse his middle road and work with him shows how difficult it is to resolve differences between the party and its restive Uighurs and Tibetans. (AP Photo/Elizabeth Dalziel) ** zu unserem KORR **

(Arrahmah.com) – Kelompok advokasi global Amnesti Internasional telah merilis peringatan tindakan mendesak yang menuntut otoritas Cina untuk membebaskan akademisi Musim Uighur Ilham Tohti dan mendesak pihak kepolisian untuk mengungkap keberadaannya.

Tohti, seorang profesor ekonomi yang bekerja di sebuah universitas di Beijing, diseret dari rumahnya di Beijing pada 15 Januari oleh puluhan polisi.

Amnesti internasional mengatakan bahwa Tohti dalam resiko penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya.He is at risk of torture or other ill treatment.”

“Dia dalam resiko penyiksaan atau perlakuan buruk lainnya,” kata grup tersebut dalam sebuah pernyataan pada Rabu (29/1/2014), seperti dilansir RFA.

Otoritas Cina menudingnya terlibat kelompok “separatis” yang memicu kerusuhan untuk menggulingkan pemerintahan Cina di Xinjiang, di mana terdapat minoritas Muslim etnis Uighur. Namun tuduhan tersebut dianggap tidak masuk akal oleh isterinya dan kelompok peduli hak asasi Uighur.

sementara Amnesti Internasional menduga Tohti ditahan hanya karena menunjukkan haknya dalam kebebasan berpendapat.

Empat mahasiswa Tohti di Central Univerisity for Nationalities yang turut ditahan pada hari yang sama telah dibebaskan, sedangkan empat lainnya masih ditahan, menurut pernyataan kelompok itu.

Muslim Uighur merupakan etnis minoritas berbahasa Turki yang berjumlah sekitar 8 juta jiwa di wilayah barat laut Xinjiang. Xinjiang, yang para aktivis menyebutnya sebagai Turkistan Timur, telah menjadi wilayah otonom sejak tahun 1955, namun terus menjadi target diskriminasi dan tindakan keras oleh pemerintah China. (siraaj/arrahmah.com) SiraajSabtu, 30 Rabiul Awwal 1435 H / 1 Februari 2014 17:04

(nahimunkar.com)

(Dibaca 34.752 kali, 1 untuk hari ini)