Umuk, glembuk, dan bujuk jadi senjata raja tega

Buntut diwisudanya anak Jokowi yang sekolah di sekolah gereja di Singapura selama 6 tahun menyisakan berita ramai tentang anak ragil (bungsu) Jokowi itu pamer makan daging babi.

Kenapa disebut pamer, ya karena bocah 18 tahun itu sendiri yang membukanya dengan ditulisnya sendiri. Karena dia anak presiden, sedangkan pamer makan daging babi itu sendiri merupakan gejala amat aneh, maka jadi ramailah.

Di sela-sela ramainya soal bocah pamer makan daging babi itu, sorotan yang menyentil pun muncul, di antaranya di arrahmah.com sebagai berikut.

Usai Makan Babi, Anak Jokowi Hina Daging Kambing

Harian online tempo.co merilis berita berjudul “Makan Daging Babi, Ini Komentar Kaesang Jokowi”.. Dalam berita itu memuat cerita tentang Kaesang Jokowi saat-saat awal berada di Singapura untuk menuntut ilmu. Kaesang Pangarep, banyak cerita bahkan terkadang konyol. Salah satunya, Kaesang sempat mencicipi daging babi di sebuah food court dekat asrama.

Cuplikan cerita yang dirilis harian online tempo.co sebagai berikut: Kala itu, ia melihat ada daging gede berbentuk kotak. Daging tersebut terlihat sangat enak dari luar. Penasaran, akhirnya Kaesang memesan satu porsi. Setelah pesanan terhidang, ia mencobanya. Ternyata, rasanya luar biasa enak.

“Ini daging yang paling enak yang pernah gue coba,” kata Kaesang, seperti ditulis dalam blog pribadinya, Misterkacang.blogspot.com, 5 Maret 2013. Bertajuk “Suka Duka Pertama Kalinya Sekolah di Singapore”, ia pun melengkapi komentarnya, “Dagingnya itu super lembut, empuk dan maknyus.”

Lantaran terpesona dengan cita rasa daging tersebut, Kaesang melanjutkan cerita, ia berniat membeli satu porsi lagi untuk dimakan di asrama. Namun, sebelum memesan, ia ingin tahu “jati diri” daging yang maknyus tadi.

“Gue tanya sama abangnya yang jual dan abangnya ngomong itu daging babi,” kata Kaesang. Ia pun sempat mengumpat. “Pertama kali di Singapore gini udah bikin dosa. Udah dosa gue banyak banget lagi di Indonesia, ini malah ditambah lagi gara-gara makan daging babi. Tapi enak banget sih sebenernya dagingnya, bikin ngangenin.”

Kaesang yang merasa berdosa setelah memakan daging babi langsung mencari masjid terdekat. “Maksudnya, gue mau tobat gara-gara makan daging babi tadi,” tulisnya.

Saat salat, Kaesang merasa tak bisa khusyuk. “Gara-gara gue keinget sama enaknya daging babi tadi,” ujarnya. Dia pun mengaku merasa dosanya berlipat ganda.

Agar tak terngiang makan babi, Kaesang lalu mencari daging lain yang halal. Setelah berputar sana-sini, akhirnya ia menemukan daging kambing.

“Tampilan luar sih kelihatan enak banget. Namun, setelah dicoba, alamak, rasenya enggak karu-karuan. Ternyata rasanya tu ga enak banget. Kaya makan arang yang dikasih kuah jengkol busuk. Rugi dah gue,” tulisnya. ———– akhir kutipan.

Miris rasanya membaca cerita tersebut. Dibalik cerita putra Jokowi -baik di sengaja atau tidak- tampak jelas sikap melecehkan/ mencaci makanan (daging kambing) yang notabene makanan halal kesukaan Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Entah atau memang tidak pernah mendapat pendidikan agama Islam di bidang moral dan etika, dengan gamblang ia memuji habis-habisan kenikmatan daging haram sampai tidak bisa shalat dengan khusuyuk karena terbayang enaknya makanan haram. Disaat yang sama, ia membandingkan daging haram tadi dengan daging kambing yang identik dengan makanan kesukaan Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam, sebagai makanan yang walau tampilannya menggoda namun rasanya sangat tidak enak. Ironisnya lagi, disandingkan dengan rasa arang dikasih kuah jengkol busuk? Mungkin sehari-harinya dahulu, anak ini sering diumpani arang berkuah jengkol busuk sehingga ia sangat paham dalam membuat perbandingan. Kasihan…

Penulis: Salim Syarief MD

(arrahmah.com) A. Z. MuttaqinSabtu, 30 Muharram 1436 H / 22 November 2014 18:18


Umuk, glembuk, dan bujuk adalah senjata raja tega

 

Bagi yang jeli terhadap watak dan pembicaraan orang, maka akan tahu bahwa ungkapan-ungkapan anak Jokowi itu mengandung unsur-unsur umuk, glembuk, dan bujuk. Itu merupakan senjata bagi orang yang sifatnya raja tega (mentalanan, tak punya belas kasihan terhadap korbannya). Apakah sikap itu menirukan orang tuanya atau tiru siapa wallahu a’lam.

Umuk artinya pamer.  Glembuk artinya ‘ngojok-ngojoki supaya gelem’ (yaitu mempengaruhi secara persuasif supaya mau). Namun, pada tingkat tertentu ‘Glembuk’ bisa sampai mempunyai arti ‘Ngapusi’ (membohongi).

‘Glembuk’ bisa juga diartikan sebagai cara “halus” untuk membujuk atau ‘ngapusi’ masyarakat, menurut tulisan di voaislam.com. Sedangkan bujuk itu  bisa berarti negative seperti glembuk, tetapi bisa berarti positif seperti agar meninggalkan sesuatu yang kurang baik dengan cara dibujuk, tetntunya pakai perkataan halus dan disertai iming-iming. Tetapi biasanya lafal bujuk juga lebih banyak untuk hal negative.

Lantas apa gunanya umuk?

Gunanya ya untuk mengikuti hawa nafsu, memameri orang bahwa dirinya ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Kalau sudah diperhatikan lalu ada semacam kepuasan yang menjurus kepada pongah. Itulah umuk, yang berarti menonjolkan kelebihan dan agar diperhatikan. Kadang-kadang juga bisa untuk merendahkan pihak yang diumuki. Makanya ada kata-kata umuk-umukan. Misalnya, dua anak sedang duduk tenguk-tenguk di buk (duduk-duduk di tembok jembatan) malam-malam sambil umuk-umukan. Yang satu bilang:

Ayah saya tadi dapat duit sejuta.

Lalu yang satunya menyahut: ayah saya malah dapat dua juta, dan seterusnya, saling main tinggi-tinggian perkataan.

Itulah namanya umuk-umukan.

Dari sifat umuk itu kemudian bisa saja meningkat jadi membujuk, karena sudah bisa mengarang-ngarang sesuatu yang kira-kira menarik. Ketika yang dibujuk itu mau, maka akan mendapatkan sesuatu dari hasil bujukannya. Di antara alat membujuk adalah janji-janji (palsu). Bukan tukang bujuk bila janjinya ditepati. Kalau ditepati, justru predikat tukang bujuk jadi hilang.

Lebih buruk dari itu adalah tukang glembuk. Kalau sudah pandai membujuk, maka bisa jadi meningkat jadi tukang glembuk. Bila tukang bujuk masih ada kemungkinan melaksanakan satu atau dua janjinya dari seribu janji, maka tukang glembuk belum tentu. Dan ibaratnya tukang bujuk itu masih setingkat makelar, kalau sudah tukang glembuk lebih lihai lagi. Nah, pada tingkat inilah kemungkinan sekali tukang glembuk itu menjadi raja tega. Yaitu mentalanan (bahasa Jawa, tegaan), sangat tega terhadap penderitaan korbannya.

Coba kita kembali kepada sosok anak Jokowi, apakah dalam memuji dan menyanjung daging babi serta sebegitunya menjatuhkan martabat daging kambing itu dalam taraf latihan umuk, bujuk dan glembuk atau sekadar nulis-nulis iseng.

Kalau isengnya saja seperti itu, nanti yang betulannya kayak apa? Kan gitu pertanyaannya.

Ya sudahlah. Di dunia ini, ada yang sangat mencintai hal yang busuk-busuk, hingga sangat suka terhadap yang busuk, menjijikkan, bahkan koreng atau borok bernanah yang bau bacin lagi anyir pun sangat suka, itulah lalat contohnya.

Sayangnya sang lalat tidak bisa main internet, hingga tak mampu menulis pengalamannya tentang betapa sedapnya bau koreng  atau borok bernanah yang lagi membusuk bagi dia. Hingga sang lalat tidak bisa umuk kepada teman-temannya, apalagi main bujuk dan glembuk.

Tidak dapat main umuk, bujuk, apalagi glembuk saja lalat-lalat itu sudah cukup mengganggu kehidupan ini. Apalagi bila bisa. Demikian pula orang yang macam lalat, apalagi. Masih bocah pun sudah cukup mengganggu perasaan banyak orang. Apalagi yang … lanjutkan sendiri….

(Hartono Ahmad Jaiz)

(Dibaca 21.289 kali, 1 untuk hari ini)