• 81 persen anak di provinsi kepulauan itu menghabiskan waktunya setiap hari dengan menonton televisi, khususnya segmen hiburan dan sinetron.
  • 67 persen anak-anak NTT berusia antara 10 hingga 15 tahun, sudah pernah mengunduh situs porno
  • Dapat dikatakan bahwa ada ancaman “kekerasan isi media” yang sedang melanda anak-anak

***

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mutiara Mauboy, mengemukakan bahwa 81 persen anak di provinsi kepulauan itu menghabiskan waktunya setiap hari dengan menonton televisi, khususnya segmen hiburan dan sinetron.

Selain itu, menurut dia di Kupang, Rabu, 67 persen anak-anak NTT berusia antara 10 hingga 15 tahun, sudah pernah mengunduh situs porno melalui internet, dengan waktu rata-rata minimal tiga jam.

“Mereka yang mengunduh berusia 10 hingga 15 tahun, dan paling banyak di antara 10 hingga 13 tahun dengan jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak saat menggunakan internet minimal tiga jam sekali ke warnet atau sekali digunakan. Dalam satu hari bisa beberapa kali mengunduh internet,” katanya.

Dia mengatakan hal itu sebagai bagian dari hasil penelitian yang dilakukan KPID di seluruh wilayah NTT untuk melaksanakan tugas melek media (media literacy) kepada masyarakat.

Dari hasil pantauan KPID NTT, menurut dia, anak-anak NTT di saat ini masuk dalam golongan anak-anak yang hidupnya dengan televisi, atau disebut sebagai anak-anak omnivision.

Dijelaskannya, pada 2011 KPID NTT melakukan pemantauan, melek media dan penelitian yang dilakukan di sejumlah daerah. Sebagai sampel Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Alor, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Manggarai, Sumba Timur, Sumba Barat, Nggada, dan Kabupaten Nagekeo.

Dari 14 kabupaten/kota yang dijadikan sebagai lokasi sampel penelitian literasi media tersebut, KPID melakukannya secara bertahap dengan segmentasi bulan yang ditetapkan sesuai dengan kabupaten/kota yang akan dijadikan sebagai lokasi penelitian.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai, dapat dikatakan bahwa ada ancaman “kekerasan isi media” yang sedang melanda anak-anak, khusus di wilayah NTT, dan masih luput dari perhatian orang tua, masyarakat serta kelompok elemen lainnya.

“Selama ini kita hanya fokus pada kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan eksploitasi. Kita lupa bahaya yang tidak dapat dihindari adalah tidak semua isi media cocok untuk anak-anak dan keluarga,” katanya, sebagaimana dimuat Antara, Rabu (16/11/2011).

Oleh karena itu, ia mengemukakan, diharapkan ada kerja sama yang baik antarlembaga dan masyarakat untuk secara serius membimbing dan menuntun anak-anak dalam mengakses setiap media yang ada di tengah perkembangan kemajuan teknologi multimedia saat ini, sehingga tidak terjerumus ke dalam kesalahan, demi menjaga masa depan, pendidikan dan pembentukan karakter anak di NTT.*

Rep: CR-3

Red: Syaiful Irwan

Kamis, 17 November 2011

Hidayatuulah.com—

Ilustrasi/ haris normansyah

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 1.164 kali, 1 untuk hari ini)