Beliau adalah Syaikh Abdullah bin Muhammad Al Amin Asy-Syinqithy, anak dari Syaikh Muhammad Al Amin Asy-Syinqithy (penulis kitab Adhwa’ Al-Bayan) dan saudara dari Syaikh Muhammad Al-Mukhtar bin Muhammad Al Amin Asy-Syinqithy (Ulama Ushul Fiqh). Beliau lahir di Mauritania dan belajar di sana, ketika sudah agak besar dan ilmunya sudah matang barulah diajak oleh ayahnya untuk tinggal di Madinah. Ketika sang ayah yang merupakan ulama besar ditanya mengapa tidak membawa langsung anak anaknya hijrah ke Madinah? Beliau menjawab bahwa Madinah kehidupannya terlalu mewah jika dibandingkan dengan gurun pasir Sinqithi, takut anaknya terlalaikan dari belajar karena semua fasilitas terpenuhi.

Syaikh Abdullah ini semenjak saya duduk menimba ilmu darinya belum pernah saya melihat beliau membawa buku atau catatan saat mengajar. Hal ini dikarenakan hafalannya yang sangat hebat, mulai dari Qiro’ah yang mutawatir dengan berbagai riwayatnya sampai Qiro’ah syadz, mutun ilmiah, syair jahili sampai syair syair karya muslimin, bahkan dalam ilmu biologi pun beliau menadzamkan.

Beliau termasuk orang yang sangat menjaga lisannya, saya belum pernah mendengar beliau mencaci atau mencela ulama lainnya atau bahkan umat islam yang biasa. Arif dan bijaksana, oleh karena itu bagi saudara yang berkesempatan umroh dan bisa berbahasa Arab, tidak ada salahnya jika di masjid Nabawi ikut bersimpuh mendengarkan untaian tafsir yang beliau sampaikan.

NB : formasi duduk orang yang di kanan beliau itu dari dulu sampai sekarang seperti itu, sangat istiqomah.

Via FB Dawud Munawwir Abdul Hadi

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.339 kali, 1 untuk hari ini)