Minggu, 17 Pebruari 2013

Anand_843652382

“Ketegangan mewarnai proses eksekusi Anand Krishna”.

Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan berhasil mengeksekusi terpidana guru spiritual Anand Krishna dari satu tempat di Bali, Sabtu (16/2) ke LP Cipinang Jakarta. Tim eksekutor butuh usaha dua kali untuk mengeksekusi terpidana karena dua hari sebelumnya upaya itu ditolak pendukung Anand.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Setia Untung Arimuladi mengatakan, pelaksanaan eksekusi terpidana dibantu tim dari Kejaksaan Tinggi Bali, Kejaksaan Negeri Denpasar, serta petugas Polda Bali dan Polres Gianyar. Sekitar 50 personil tim gabungan mendatangi padepokan Anand Ashram, Desa Tegalalang, Ubud, Gianyar, Bali.

Namun, di dalam sudah menunggu sekitar 50 orang pendukung Anand Krishna yang dipimpin Ketua Komunitas Pecinta Anand Krishna bernama Sayoga dan putera Anand Krishna bernama Prasant. “Sempat terjadi adu mulut dan dorong mendorong karena yang bersangkutan tidak mau dieksekusi,” katanya, Sabtu, (16/2).

Beruntung, Pendeta Banjar Ubud datang untuk menengahi. Suasana tegang mereda. Keadaan itu digunakan tim eksekusi untuk memaksa Anand Krishna yang akhirnya bersedia dibawa ke Polda Bali.

Ketika di Polda, lanjut Untung, kembali terjadi adu argumentasi antara tim dengan pendukung terpidana. Adu argumen terhenti karena tim eksekusi bersikukuh membawa Anand Krishna ke Jakarta melalui Bandara Ngurah Rai, Bali.

Sesampainya di Jakarta, Anand Krishna akan dibawa ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk mengurus administrasi eksekusi. Setelah itu, Anand Krishna dieksekusi ke LP Cipinang dan sesuai dengan putusan kasasi, terpidana kasus pencabulan ini akan menjalani masa hukuman penjara selama 2,5 tahun.

Salah seorang pengacara Anand Krishna, Andreas Nahot mengaku sudah mengetahui informasi mengenai eksekusi kliennya. Menurutnya, suasana eksekusi berlangsung cukup tegang karena mendapat penolakan dari massa pendukung Anand Krishna. Setelah suasana mereda, pihaknya akan menentukan upaya lanjutan.

Meski masih menunggu kedatangan Anand Krishna, Andreas menyarankan kliennya mengajukan upaya hukum peninjauan kembali (PK). “Nanti kami akan berkoordinasi dengan klien setelah sampai di Jakarta. Dari awal kami selalu menyarankan PK. Nanti kita tunggu kalau kondisinya sudah reda,” terangnya kepada hukumonline.

Sementara, Anand Krishna sempat membantah tuduhan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan yang menyatakan dirinya sebagai buron. Selama dua tahun, dia merasa tidak pernah melarikan diri dan Kejaksaan Agung telah mengetahui keberadaannya di Bali. Terpidana menganggap putusan kasasi cacat hukum karena tidak sesuai KUHAP.

Selain karena KUHAP tidak membolehkan upaya kasasi terhadap putusan bebas, juga karena putusan kasasi tidak memenuhi ketentuan Pasal 197 ayat (1) KUHAP. Anand menegaskan pihaknya tetap menolak putusan kasasi dan akan mengajukan upaya hukum. “Walaupun harus mengorbakan raga saya,” tuturnya.

Awalnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membebaskan Anand Krishna. Penuntut umum lalu mengajukan kasasi dan Mahkamah Agung (MA) menerima kasasi tersebut. Namun, pada tingkat kasasi, MA membatalkan putusan tingkat pertama dan menyatakan Anand Krishna terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap muridnya.

Putusan kasasi No.691 K/Pid/2012 tanggal 24 Juli 2012, menyatakan menghukum pria bernama asli Krishna Kumar Tolaram ini dengan pidana penjara selama 2,5 tahun dikurangi masa tahanan. Selain itu, MA juga memerintahkan seluruh bukti dirampas untuk dimusnahkan dan Anand Krishna membayar biaya perkara.

Kemudian, Kejari Jakarta Selatan selaku eksekutor telah melakukan pemanggilan secara patut sebanyak tiga kali dan satu kali lagi melalui penasehat hukum Anand Krishna. Namun, setelah ditunggu, Anand Krishna tidak juga memenuhi panggilan eksekusi, sehingga tim jaksa eksekutor melakukan penjemputan paksa.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt51203106eb763/anand-krishna-dieksekusi-ke-lp-cipinang

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.526 kali, 1 untuk hari ini)