Elizabeth yang dijuluki “ratu penipu” CPNS (calon pegawai negeri sipil) mengaku pernah mengirim sejumlah uang kepada petinggi Partai Demokrat  Anas Urbaningrum dan M Nazaruddin sebanyak Rp100 miliar.

Anas Urbaningrum yang kelahiran Blitar Jawa Timur 1969  itu tentunya faham, ada pepatah Jawa, jangan dekat-dekat kerbau gupak (belepotan lumpur kotor) nanti akan kecipratan. Lhah, tapi kalau kecipratannya itu duit 100 miliar rupiah, ya enak tenan, kan?

Perkara nanti terjerat hukum, bahkan sampai dipenjara, misalnya, toh sudah banyak contohnya, pilih penjara yang model apa, tinggal disetel saja.

Ini bukan ngajari lho!

Inilah beritanya:

***

Anas Urbaningrum Disebut Terkait Penipuan CPNS  

23/12/2011 06:25

Liputan6.com, Surabaya: Polisi masih memeriksa Elizabeth Susanti, tahanan kasus penipuan calon pegawai negeri sipil di Jawa Timur yang kabur dari Kejaksaan Negeri Surabaya. Dari pemeriksaan, Elizabeth mengaku lari karena disuruh Hartoyo, petinggi Partai Demokrat Jatim yang merupakan mantan suaminya.

Dalam pernyataannya, kuasa hukum Elizabeth, Burhan, menyebut Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Bendahara Umum Nazaruddin terlibat dalam kasus tersebut. Mereka dituding menerima dana hasil penipuan CPNS dari Elizabeth berkisar Rp 10 miliar sampai Rp 100 miliar [baca: “Ratu Tipu” CPNS Catut Nama Petinggi Demokrat]

Selain Anas dan Nazaruddin, dia juga menyebut Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Rasiyo dan Hartoyo juga terkait masalah penipuan penerimaan CPNS. Namun Wakil Sekretaris Partai Demokrat Jatim Yunianto Wahyudi membantah hal tersebut.

Seperti diberitakan, Elizabeth lari dari Kejari Surabaya. Dia ditangkap delapan hari kemudian di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Utara. Polisi kini masih menyelidiki kaburnya Elizabeth, termasuk sosok di balik pelariannya.(ULF)

***

“Ratu Tipu” CPNS Catut Nama Petinggi Demokrat 

22/12/2011 09:05

Liputan6.com, Surabaya: Tersangka berinisial Elz, yang dijuluki “Ratu Tipu” penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil “mencatut” nama petinggi Partai Demokrat Jatim sebagai otak dalam aksinya.

“Otaknya itu Hartoyo, Ketua OKK Partai Demokrat Jatim,” kata Elz yang berteriak kepada wartawan sembari tangannya terborgol di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (21/12) malam.
Tersangka kembali ditangkap anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya setelah melarikan diri ketika diperiksa penyidik kepolisian di Kejaksaan Negeri Surabaya pada 12 Desember 2011.

Polisi yang mengendus keberadaan Elz di Jakarta tidak tinggal diam dan langsung meringkusnya di sebuah apartemen di ibukota.

“Kami menjemput tersangka saat diketahui keberadaannya. Tersangka akan lebih intensif diawasi dan dijamin tidak akan kabur lagi,” ucap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung, Kamis (22/12).

Selain Hartoyo, nama Sekdaprov Jatim Rasiyo disebut-sebut oleh tersangka. Bahkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum serta mantan bendahara umun yang kini menjadi terdakwa kasus korupsi, M. Nazaruddin juga “dicatut”.

Kuasa hukum Elz, Burhan, mengatakan bahwa kliennya mengaku pernah mengirim sejumlah uang kepada Anas Urbaningrum dan M Nazaruddin sebanyak Rp100 miliar, sedangkan untuk Hartoyo dan Rasiyo, sebanyak Rp10 miliar.

“Kalau uangnya untuk apa digunakan, tanya langsung ke klien saya,” kata Burhan.

Sementara itu, sepak terjang Elz memang dikenal berbahaya dan sudah menjadi target operasi polisi sejak setahun lalu.

Ia akhirnya tertangkap kasus penipuan CPNS pada 4 Agustus 2011. Pengakuannya di hadapan polisi, ia memang sering menyebut pejabat Pemprov Jatim sebagai penjamin dapat meloloskan siapa saja menjadi PNS tanpa tes.

Namun, tentunya dengan imbalan sejumlah uang. Bahkan korbannya tidak hanya berasal dari Surabaya, namun ada juga dari Lumajang, Banyuwangi, serta beberapa daerah lainnya.

Tapi, pada 21 Desember 2011, tersangka Elz sempat kabur dari Kejari Surabaya saat akan dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan kasus lainnya oleh penyidik Polrestabes Surabaya. (ANT/MEL)

***

Berteman dengan maling maka dicokot

Manusia itu ibarat burung-burung yang berkumpul sesuai dengan kecocokannya, hingga burung dara kumpul dengan burung dara. Sedang burung hantu ya dengan burung hantu. Orang yang baik-baik biasanya kumpul dengan yang baik-baik. Sedang yang jahat-jahat ya dengan yang jahat-jahat. Itu telah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ   أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Roh-roh itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka akan saling berselisih.” (HR Muslim nomor  4773).

Imam Nawawi menjelaskan:

وَكَانَتْ الْأَرْوَاح قِسْمَيْنِ مُتَقَابِلَيْنِ . فَإِذَا تَلَاقَتْ الْأَجْسَاد فِي الدُّنْيَا اِئْتَلَفَتْ وَاخْتَلَفَتْ بِحَسَبِ مَا خُلِقَتْ عَلَيْهِ ، فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار . وَاَللَّه أَعْلَم . شرح النووي على مسلم – (ج 8 / ص 481)

Roh-roh itu jadi dua bagian (golongan) yang saling berhadapan. Apabila melekat pada jasad di dunia maka berkumpul dan berpisah (selisih) sesuai dengan untuk apa ia diciptakannya, lalu roh-roh (orang-orang) yang baik-baik maka cenderung (berteman) kepada roh (orang) lain yang  baik-baik, dan yang jahat-jahat maka cenderung kepada yang jahat-jahat. Wallahu a’lam. (Syarh shahih Muslim oleh Annawawi).

Resiko berteman itu pasti ada. Berteman dengan orang baik-baik maka akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya kalau berteman dengan yang jahat seperti maling, maka sudah dapat julukan sebagai teman maling, masih pula kalau si maling itu tertangkap maka dicokot, diklaim terlibat.

Untung ruginya sudah digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ،  وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bila salah pilih dalam berteman, maka di akherat akan menyesal. Allah Ta’ala telah memperingatkan:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29).

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927).

Lebih jelas lagi, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

” الْمَرْء مَعَ مَنْ أَحَبَّ “

Seseorang itu (di akherat) beserta orang yang dia cintai (Muttafaq ‘alaih)

قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seseorang itu bersama orang yang dia cintai di Hari Qiyamat. (HR At-Tirmdzi, ia berkata hadits hasan shahih)

عَنْ عَائِشَة مَرْفُوعًا : ” لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة ” .

Dari Aisyah, secara marfu’ (sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali pada hari qiyamat akan dikumpulkan bersama mereka.(lihat Aunul Ma’bud)

Bagaimana kalau yang jadi teman dan bahkan dicintai itu justru ratu penipu, misalnya? Maka di dunia saja ketika sang penipu itu dicokok, maka si teman pun dicokotnya. Belum lagi kelak di akherat, dalam hadits itu, akan dikumpulkan pula.

Betapa ruginya. Maka hati-hatilah wahai kaum Muslimin. Mari kita bertaubat.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.186 kali, 1 untuk hari ini)