مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

 “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak meliputinya dengan nasihat, kecuali tidak mendapat bau surga.” (HR BUKHARI – 6617)

وَأَخْرَجَ مُسْلِمٌ { مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَجْتَهِدُ مَعَهُمْ وَلَا يَنْصَحُ لَهُمْ إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ } وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ : كَنُصْحِهِ لِنَفْسِهِ .

Dan Imam Muslim telah mengeluarkan hadits: Tidaklah seorang amir yang memimpin urusan Muslimin yang ia tidak bersungguh-sungguh beserta mereka, dan tidak menasihati kepada mereka kecuali ia tidak masuk surga bersama mereka. (HR Muslim). Dan riwayat Thabrani menambah;  seperti nasehatnya kepada dirinya sendiri.

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

شرح المشكاة للطيبي الكاشف عن حقائق السنن (8/ 2570)

فإذا خان فيما ائتمن عليه فلم ينصح فيما قلده إما بتضييع حقهم وما يلزمه من أمور دينهم ودنياهم أو غير ذلك، فقد غشهم

Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka.

فيض الباري على صحيح البخاري (6/ 480)

وهذا حديث في الأئمة يحدِّرُهم أنهم لا يَشمُّون رائحةَ الجنَّة إِن ظَلَمُوا رعيتَهم، فافهم.

Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakytanya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480).

(nahimunkar.com)

***

Bahasa Jawa

 مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Ora ono kawulo sing diparingi amanat mimpin wong-wong sing dipimpin terus deweke ora ngliputi kanti nasehat kacobo deweke ora oleh gandane suargo. (HR BUKHARI – 6617)

وَأَخْرَجَ مُسْلِمٌ { مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَجْتَهِدُ مَعَهُمْ وَلَا يَنْصَحُ لَهُمْ إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ } وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ : كَنُصْحِهِ لِنَفْسِهِ .

Lan Imam Muslim wis ngriwayatake hadits: Ora ono amir sing mimpin urusane Muslimin terus deweke ora tenanan karo wong-wong Muslim mau lan ora nasehati wong-wong mau kacobo deweke ora mlebu suargo karo wong-wong Muslimin mau. (HR Muslim). Imam Thabrani ngriwayatake lan nambahi: koyo dene nasehate marang awake dewe.

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

Ora ana sangka pemimpin sing mimpin masyarakat muslimin, banjur dheweke mati ing jero kahanan ngapusi dekne kabeh, kajaba Allah mengharamkan swarga kanggo deweke. (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

فإذا خان فيما ائتمن عليه فلم ينصح فيما قلده إما بتضييع حقهم وما يلزمه من أمور دينهم ودنياهم أو غير ذلك، فقد غشهم

Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka.

فيض الباري على صحيح البخاري (6/ 480)

وهذا حديث في الأئمة يحدِّرُهم أنهم لا يَشمُّون رائحةَ الجنَّة إِن ظَلَمُوا رعيتَهم، فافهم.

Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakytanya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.349 kali, 1 untuk hari ini)