Sekarang ini, kafir musyrik (Yahudi,  Nasrani, dan Syiah) berkolaborasi ingin menghancurkan Sunni. Inilah hakekat perang yang sesungguhnya.

اليوم، الكافرين والمشركين (اليهود والمسيحيين والشيعة) يتعاونون لتدمير السنيين. هذه هي الطبيعة الحقيقية للحرب.

Sesudah Lebanon jatuh ke tangan Syi’ah, dan sekarang membentuk  kelompok ‘Hezbullah’, sekarang Hezbullah menjadi kekuatan penentu politik di Lebanon. Menggilas kelompok Sunni.

Hezbullah mengirim milisinya ke Suriah, mempertahankan rezim Syi’ah yang dipimpin Bashar al-Assad. Kekacauan di Suriah sudah menewaskan 350.000 Muslim, dan separuh penduduknya menjadi pengungsi. Di mana tanggung jawab Kerajaan Arab Saudi yang memposisikan dirinya sebagai ‘pemimpin’ dunia Sunni?

Tidak bisa dipandang remeh dengan jatuhnya Yaman ke tangan Syiah Houthie, dan sekarang telah berhasil menguasai Sanaa,  dan bahkan mendepak Presiden dan Perdana Menteri Yaman. Syiah Houthi didukung senjata  dan dana oleh Iran, tanpa batas. Ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi sebuah ‘monster’ bagi Arab Saudi.

Jika Syiah Houthi sudah mapan kekuasaannya, dan menguasai kekuasaan dan perangkat negara, seperti angkatan bersenjata, kepolisian, intelijen, dan kementerian dalam negeri, dan sarana-sarana penting, seperti bandara, pelabuhan, dan sarana-sarana lainnya, maka secara de facto hanya tinggal waktu atau momentum menyerang Arab Saudi.

Selama ini Arab Saudi hanya sibuk memberikan dukungan kepada Amerika Serikat memerangi al-Qaidah di Semenanjung Arabia (Yaman), yang sejatinya bukanlah menjadi ancaman faktual bagi pemerintah Arab Saudi. Karena mereka memiliki prinsip yang sama, yaitu tegaknya sistem dan nilai Islam, yang bersumber pada aqidah para salaf.

Jika Yaman jatuh ke tangan Syiah, ini berarti secara geopolitik, Semenanjung Arabia, perlahan-lahan akan menuju kehidupan baru, dibawah kejayaan rezim Syi’ah yang sekarang membentang dari Lebanon, terus ke Suriah, Irak, Iran,  Bahrain, dan bahkan sekarang Yaman. Ibaratnya, negeri-negeri Arab seperti kartu ‘domino’ yang satu-satu ke tangan Syi’ah.

Raja Salman bin Abdul Aziz yang baru menggantikan Raja Abdullah yang meninggal, ketika usai melantik kabinet nya yang baru, menegaskan kepada seluruh rakyatnya dan para menterinya agar menjaga ‘agama’ (al-Islam).

Ini sebuah penegasan kepada seluruh rakyat Arab dan Jazirah Arab. Jika berbicara ‘agama’ tidak dapat dipisahkan dengan Islam.

Raja Salman bin Abdul Aziz harus menyadari bahwa Amerika, Eropa, dan Zionis telah melakukan kolaborasi dengan Syi’ah Iran, dan bertujuan ingin menghancurkan golongan Sunni yang dinilai menjadi ancaman yang bersifat laten.

Arab Saudi bukan hanya menjadi pusat peradaban Islam, tapi Arab Saudi menjadi ancaman bagi peradaban Barat.

Ajaran yang dilahirkan ulama terkemuka Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Wahab, yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Wahabi’, yang hakekatnya pemurnian nilai-nilai tauhid itu, dipandang sebagai ancaman bagi perabadan Barat.

Tak aneh sekarang ini, kafir musyrik (Yahudi,  Nasrani, dan Syiah) berkolaborasi ingin menghancurkan Sunni. Inilah hakekat perang yang sesungguhnya.

Hanya semasa Raja Abdullah,  faktanya Amerika, Eropa, Zionis, dan Iran berhasil  melakukan manipulasi, dan berhasil membujuk penguasa  Arab Saudi masuk dalam koalisi global, yang sesungguhnya bertujuan menghancurkan Arab Saudi, karena negara ‘petro dollar’ itu menjadi ‘bastion’ (benteng terakhir) peradaban Islam dan ahlus sunnah. Wallahu a’lam.

[email protected]

voaislam.com, Senin, 13 Rabiul Akhir 1436 H / 2 Februari 2015 09:11 wib/ diringkas

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.735 kali, 1 untuk hari ini)