Silakan simak ini baik-baik, karena mungkin justru Anda pelakunya dan bertahun-tahun.

***

Anjuran Bergembira dengan Datangnya Ramadhan

Apakah ada anjuran untuk bergembira ketika datang ramadhan? adakah hadis yang menunjukkan keutamaan bergembira ketika datang ramadhan?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat satu hadis yang sangat terkenal dan banyak dikutip para khatib ketika kultum awal-awal ramadhan. Hadis itu menyatakan,

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Banyak penceramah begitu antusias menyampaikan hadis ini, tanpa tahu dari mana sebenarnya teks ini berasal. Anda bisa perhatikan, hampir tidak ada penceramah yang menyampaikan sumber dan rujukan seusai mengutip hadis ini. Karena memang hadis ini tidak dijumpai di kitab-kitab hadis.

Prof. KH. Ali Musthafa Ya’qub MA, dalam bukunya, Hadits-hadits Bermasalah di Bulan Ramadhan, menuliskan bahwa hadis dengan teks seperti di atas itu terdapat dalam kitab Durrotun Nashihin, karya Utsman bin Hasan al-Khubawi.

Kitab ini tergolong kitab favorit para kiyai, guru ngaji, para ustadz, terutama mereka yang kurang peduli dengan keotentikan hadis. Karena dalam kitab ini, terdapat sangat banyak hadis yang bombastis. Cerita masalah ghaib yang mendetail, amal-amal kecil, sederhana, namun dihargai dengan balasan yang sangat besar, dan berlipat ganda.

Hanya saja, para ahli hadis menilai kitab ini sebagai kitab bermasalah. Pasalnya, kitab ini selain dipenuhi dengan hadis dhaif dan palsu (maudhu’), kitab ini juga dipenuhi hadis yang statusnya laa ashla lahu (tidak ada sumbernya). Derajat hadis laa ashla lahu jauh lebih parah dari pada hadis palsu. Karena hadis dengan status semacam ini, tidak memiliki sanad dan sama sekali tidak ada sumber kitab hadis yang mencantumkannya.

Berbeda dengan hadis palsu, hadis ini masih memiliki sanad. Hanya saja, dalam sanadnya terdapat perawi pendusta, sehingga status hadisnya palsu.

Ringkasnya, hadis ini tidak perlu dihiraukan, karena sama sekali bukan hadis.

Ceramah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب السماء، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغلّ فيه مردة الشياطين، لله فيه ليلة خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Syaikh Abdullah al-Fauzan mengatakan,

في هذا الحديث بشارة لعباد الله الصالحين بقدوم شهر رمضان المبارك، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر الصحابة – رضي الله عنهم – بقدومه، وليس هذا إخباراً مجرداً بل معناه بشارتهم بموسم عظيم، يقدره حقّ قدره الصالحون المشمرون، لأنه بين فيه ما هيأ الله لعباده من أسباب المغفرة والرضوان وهي أسباب كثيرة، فمن فاتته المغفرة في رمضان فهو محروم غاية الحرمان.

Dalam hadis ini terdapat kabar gembira bagi para hamba Allah yang sholeh dengan datangnya bulan ramadhan yang diberkahi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada para sahabat akan kedatangan ramadhan. Dan ini bukan hanya berita semata, namun maknanya adalah kabar gembira bagi mereka dengan adanya masa yang agung, yang selayaknya dimuliakan oleh orang-orang shaleh yang menyisingkan lengan untuk beramal. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa di bulan ramadhan, Allah telah siapkan banyak kebaikan bagi para hamba-Nya, berupa sebab untuk menggapai ampunan dan ridha-Nya. Sebab ini banyak sekali. Karena itu, siapa yang tidak mendapatkan ampunan di bulan ramadhan, berarti dia telah diharamkan untuk mendapatkan banyak kebaikan. (Ahadits Shiyam, Ahkam wa Adab, keterengan hadis ketiga).

Hanya saja, sebagai catatan, dalam khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak menyampaikan adanya fadhilah tertentu bagi orang yang bergembira menyambut kedatangan ramadhan. Menambahkan adanya fadhilah tertentu tanpa dalil, tentu termasuk berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita berlindung dari hal ini.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

By

Ammi Nur Baits

52549

https://konsultasisyariah.com/22686-anjuran-bergembira-dengan-datangnya-ramadhan.html

***

Kenapa Kitab Durratun Nashihin Dipersoalkan

  • Ada sekitar 30 persen hadits palsu dalam kitab Durratun Nashihin. Diantaranya adalah hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih per malam Ramadhan.

Sumber: Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Kitab Durratun Nashihin banyak memuat hadits-hadits palsu

Judul Kitab: Durratun Nashihin

Penulis: Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khubari

Komentar: Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Kitab ini tidak bisa dijadikan sandaran karena banyak memuat hadits-hadits palsu dan hal-hal yang tidak bisa dijadikan sandaran, termasuk diantaranya dua hadits yang ditanyakan oleh si penanya di atas, sebab kedua hadits tersebut tidak ada asalnya dan didustakan kepada Nabi. Maka kitab seperti ini dan juga kitab sepertinya yang memuat banyak hadits-hadits palsu jangan dijadikan sandaran…”. (Fatawa Nur Ala Darb hal. 80)

Sumber: Waspadailah Kitab-Kitab Berikut Ini… Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, / abiubaidah.wordpress.com

***


Kitab Durrotun Nashihin Tak Bisa Dipertanggungjawabkan

Kitab Durrotun Nashihin (Mutiara-mutiara Nasihat) tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, apalagi  sebagai  pegangan dalam  beragama. Karena kitab ini banyak memuat kisah-kisah  imajiner yang tak jelas sumbernya. (lihat Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

 Penilaian  terhadap Kitab Durrotun Nashihin itu  disampaikan Ustadz  Suwito Suprayogi, dosen LPDI (Lembaga  Pendidikan  Dakwah Islam) Jakarta kepada Pelita, Senin (3/12) sehubungan adanya hasil penelitian  yang  diseminarkan di Pesantren  Al-Hikmah  di Benda Sirampong   Brebes  Jawa  Tengah  bahwa  sejumlah  kitab   kuning megandung hadist-hadits   maudhu’ (palsu).  Maka   kitab   itu disarankan agar tidak diajarkan di pesantren-pesantren. Di antara yang dinilai mengandung hadits-hadits palsu adalah Kitab Durrotun Nashihin (sudah  diterjemahkan)   Al-‘Ushfuriyyah(diterjemahkan oleh Mustafa Helmy), Wasyiyatul Mushtofa, Daqoiqul Akhbar, Tanki hul  Qoul, Sittin Mas’alah, dan Qurrotul  ‘Uyun. (Pelita, 23/12 1993).

Menurut  Ustadz  Suwito yang biasa memberi  pengajian  kitab kuning  kepada para da’i (juru dakwah), Kitab  Durrotun  Nashihin tidak  sesuai dengan kaidah ilmiah dan agama. Dicontohkan,  dalam mengutip  apa-apa  yang disebut hadits,  rujukannya  bukan  Kitab Hadits  seperti  Shohih Bukhori, Shohih Muslim,  Sunan  Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud dan sebagainya. Namun hanya disebut misalnya kitab Zubdatul Wa’idhin, Kitabul Hayah, Raunaqul Majalis dan sebagainya yang semuanya itu bukan Kitab Hadits. Maka  secara ilmiah tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Lebih  dari  itu,  lanjut Suwito,  Kitab  Durrotun  Nashihin mengandung  kisah-kisah  imajiner  yang  berbahaya  bagi   agama.Dicontohkan,  pada  halaman  8 dikisahkan  seorang  yang  namanya Muhammad  tidak  pernah  sholat  sama  sekali.  Lalu  pada  bulan Ramadhan  dia mengagungkan bulan itu dan mengqodhonya. Inti  dari kisah itu mengesankan, ungkap Suwito, seakan-akan semua orang tak usah  sholat,  cukup diqodho di bulan  Ramadhan.  Jadi  kewajiban sholat seakan tak berharga. Sedang nama Muhammad dalam kisah  itu yang disebut tidak pernah sholat sama sekali itu pun tidak jelas siapa orangnya. Padahal agama itu harus jelas bahwa itu dari Nabi Muhammad  SAW atau bahkan dari Al-Quran. “Jadi itu bukan  sekadar Hadits palsu, tetapi kisah imajiner,” tutur Suwito.

Masih pula di halaman 8, Kitab Durrotun Nashihin (yang asli, belum  diterjemahkan) itu memuat kisah Daud At-Toi yang  bermimpi tentang  surga.  “Kisah semacam itu tidak layak  untuk  pedoman,” tandas Suwito sambil menunjuk matan kitab ini, karena tidak jelas siapa Daud At-Toi itu, dan agama itu tidak bisa berpedoman  hanya kepada mimpi.

Dijelaskan,  dalam  Kitab Sunnah  Qoblat  Tadwin dijelaskan secara   metodologis tentang  sebab-sebab   penyelewengan   dan pemalsuan  hadits.  Di antaranya disebabkan oleh  pembuat  kisah-kisah  (qoshosh) yang dihubungkan dengan agama, atau  orang  yang cinta ibadah tapi dia bodoh dalam agama. Terhadap kasus ini, Nabi mengancam,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Man  kaddzaba  ‘alayya  muta’ammidan   falyatabawwa’ maq’adahu  minan  naar. Barangsiapa berbohong  atas  saya  secara sengaja maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya di  neraka. (Hadits Mutawatir/di jajaran paling kuwat).

Untuk  mengecek  masalah ini, lanjutnya, bisa  disimak  pada kitab  MinhajusSholihin karangan ‘IzzuddinBliq dari  Palestina yang  dalam pengantarnya dia menyebut dirinya  berkeliling  dunia sebagai utusan Dewan Dakwah. Kitab yang tebalnya 1024 halaman itu menyebut,  pemalsuan  terutama  dalam  hal  fadhilah  (keutamaan)membaca  surat-surat Al-Quran. Pada halaman 32  dicontohkan,  Nuh Bin  Abi  Maryam mengaku  membuat  hadits-hadits  palsu  tentang fadhilah  membaca  surat-surat  Al-Quran.  Pengakuan  itu  dengan kilah:  Kami  berdusta bukan untuk saya tetapi  demi  Nabi  (agar cinta kepada Nabi).

Yang  lebih  lucu  lagi,  lanjut  Suwito, (mengenai pembuatan hadits palsu) pada  halaman  31 –Kitab Minhajus Sholihin–disebutkan,  ada  penceramah di masjid  mengemukakan:  Man  qoola laailaaha  illalloh  kholaqolloohu min kulli  kalimatin  thoiron, minqoruhu  min  dzahabin wa riisyuhu min  marjaanin.  Barangsiapa mengucapkan Laailaaha illallohu, maka Allah membuatkan  tiap-tiap kata itu burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari mutiara.Ini disebut Hadits Nabi yang riwayatnya dari Ahmad bin Hanbal dan Yahya  bin  Ma’in. Saat itu Imam Ahmad bin Hanbal dan  Yahya  bin Ma’in  mendengarkan  ceramah ini langsung, dan kedua  ulama  yang disebut  itu saling memandang sambil bertanya: Apakah kamu  meriwayatkan  itu? Masing-masing mengatakan, tidak. Lalu kedua  ulama ini  menemui  penceramah, dan menyatakan diri:  Kami  ini  adalah Ahmad  bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, namun  tidak  meriwayatkan Hadits yang Anda sebutkan itu.

Jawab  penceramah, ” Alangkah bodohnya dunia ini.  Memangnya yang  namanya  Ahmad  bin Hanbal dan Yahya bin  Ma’in  itu  hanya kalian berdua?”

Dari  kenyataan itu, Suwito mengharapkan hadits-hadits  yang palsu  perlu  dihindari, sebab pemalsunya  sampai  sengotot  itu.Untuk itu perlu memberikan alternatif kitab-kitab yang jelas bisa dipegangi.  Banyak  kitab yang bisa  dipertanggung  jawabkan,  di antaranya  Minhajus Sholihin, Minhajul Qoshidin, Minhajul  Muslim lil  Jazairi,  Dalilul  Falihin  Syarah  Riyadhus  Sholihin dan sebagainya.  Saat ini masih banyak ayat-ayat Al-Quran yang  masih belum  banyak dipelajari, di samping hadits-hadits  shohih.  Maka hendaknya  umat Islam tidak disibukkan oleh kisah-kisah  imajiner yang tak bisa dijadikan pegangan seperti kitab yang telah dinilai memuat  hadits-hadits  palsu tersebut,  kata  Suwito  mengakhiri. (hht/ Jakarta, Pelita, 4/ 1 1994 ).

Sumber: Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.