Ilustrasi: ibnujafar86.wordpress.com

Untuk mengaku bahwa yang berjasa dalam suatu keadaan hingga sesuai yang diharapkan penguasa, biasanya saling berebut. Kamilah yang berjasa, kami… bukan siapa-siapa tetapi kami…

Untuk mengakui bahwa pihaknya lah yang berjasa itu kadang-kadang sampai “menyewa” pihak-pihak yang mampu menyiarkannya, misalnya media massa.

Satu gambaran kecil, di masa Orde Baru zaman kepemimpinan Presiden Soeharto, ada apa yang disebut asas satu (yaitu) lima dasar. Siapa yang tidak mau berasaskan yang itu maka akan dilibas, dan diancam pembubaran. Hiruk pikuk tentang asas satu itu pun membahana di bumi Nusantara. Bagaimana tidak. Karena sampai sebegitu, dan itu bila diikuti, maka dikhawatirkan akan menabrak asas Tauhid, aqidah yang menyangkut keselamatan dunia dan akherat bagi Ummat Islam. Lha kok harus begitu. Kan sudah ada asas bagi Ummat  Islam.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .

Saya bersakis bahwa tiada Tuhan (yang disembah dengan benar) kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan rasul-Nya.

Kesaksian yang disebut syahadat itulah asas yang sangat menentukan, bahwa seseorang itu Muslim sejati ketika bersyahadat dan meyakini serta melaksanakan rangkaian-rangkaian dari syahadat itu untuk Allah Ta’ala. Hingga dengan bersyahadat itu, ketika diyakini secara benar, maka amal-amalnya pun diterima oleh Allah Ta’ala.

Sebalikya bila tidak, maka amal-amalnya muspra sia-sia. Sehingga kalau asas ini diadakan tandingannya dengan asas yang lain, maka dikhawatirkan akan membuyarkannya. Makanya adanya asas baru di bawah kepemimpinan Orde Baru mengandung masalah yang memukul batin Ummat Islam yang benar-benar meyakini Islam. Oleh karena itu, MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun tidak berani untuk mengiyakan sepenuhnya asas “paksaan” dari penguasa Orde Baru itu.

Makanya MUI mengkilahinya dengan “berasaskan PS dan Beraqidah Islam” yakni Tauhid. Ini karena perintah Allah tegas:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

36. sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS An-Nisaa’: 36).

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Asas dalam hidup ini menjadi sangat penting bagi Ummat Islam, karena sebegitu dahsyatnya ancaman dari Allah Ta’ala. Namun ketika terbentur “pemaksaan” dari pihak penguasa, maka Ummat Islam sangat merasa tertekan batinnya.

Dan lebih tertekan lagi, ketika di antara orang-orang yang tampaknya secara lahiriyah adalah tokoh-tokoh Islam, ternyata justru menjadi orang-orang yang tahu-tahu menugaskan diri sebagai pendukung-pendukung dalam menambah tekanan batin Ummat Islam tu. Dari situlah suksesnya penekanan batin itu menjadi merata, dan kalahlah Ummat Islam yang ingin mempertahankan aqidahnya secara utuh dan konsekuen.

Giliran asas satu (yaitu) lima dasar itu tadi dapat “dipaksakan” akibat dari dukungan orang-orang yang seperti tersebut, maka babak berikutnya adalah adanya media massa yang mempromosikan pihak tertentu bahwa telah berhasil menggoalkan asas satu lima dasar itu.

Pihak lain yang merasa paling berjasa –dalam menggoalkan asas satu lima dasar– maka sewot dengan adanya pihak yang dipromosikan itu, dan merasa dinafikan. Maka buru-buru atur strategi. Dipanggillah tokoh-tokoh dari satu media massa yang dianggap terpercaya untuk gantian mempromosikan pihak yang merasa paling berjasa dalam menggoalkan asas satu lima dasar itu.

Artinya, untuk melawan suara media massa yang telah mempromosikan pihak yang jasanya dianggap tidak seberapa namun diunggulkan itu tadi. Caranya, agar media massa yang dianggap terpercaya itu mewawancarai sang tokoh yang merasa paling berjasa itu.

Benar.

Berlangsunglah wawancara satu media massa dengan sang tokoh. Besoknya, dimuatlah hasil wawancara itu secara bersambung dan jadi benner, tulisan paling atas di koran, memanjang dari kolom satu sampai sembilan. Besuk-besuknya lagi pun masih diteruskan sambungannya, disertai gambar sang tokoh yang berpeci dan nyrengenges.

Tidak hanya itu. Setelah beredar berhari-hari sebagai benner di koran, ternyata kemudian muncul pula hasil wawancara itu jadi buku kecil dengan cover gambar sang tokoh yang berpeci dan nyrengenges itu dengan latar belakang warna hijau. Entah apa maksudnya, tapi saat tu warna hijau dianggp sebagai symbol Islami. Padahal secara isi, justru belum tentu demikian.

Dengan “perang media massa” dalam rangka perebutan “bahwa kamilah yang paling berjasa” dalam menggoalkan asas satu lima dasar itu, maka mungkin kemudian munculnya tokoh nyrengenges itu dianggap menjadi pemenangnya. Maka tidak tanggung-tanggung. Pewawancara itu tadi langsung diajak jalan-jalan ke luar negeri, dan begitu pulang ke Jakarta langsung sudah harus ke Senayan Jakarta, untuk apa? Untuk ukur baju seragam jas di gedung dingin Senayan Jakarta, masuk dalam jajaran apa yang sering disebut saudara anggota yang terhormat, yang segera dilantik. Sementara itu yang pewawancara satunya lagi (karena berdua dalam berwawancara) dan bahkan yang mengerjakan dan memuat hasil wawancara itu tampaknya belum mendapat bagian. Tapi belakangan diberi kapling di lembaga Islam yang terdiri dari ormas-ormas Islam, bahkan bercokol di sana hingga berlama-lama sampai entah kapan. Dan belakangan dibagi juga untuk menjadi anggota yang terhormat di gedung dingin tersebut.

Dalam percaturan fermainan folitik, begitu nggembos kekuasaan yang telah memaksakan asas satu lima dasar itu, dan kekuasaan lengser ke wakilnya, maka segera nggembos pula asas satu lima dasar tersebut.

Apakah jabatan-jabatan yang diperoleh oleh orang-orang tersebut ikut nggembos?

Ada dua macam. Pihak yang berhasil mengklaim jasa tersebut, karena sudah dua periode jadi menteri, maka diganti yang lain, yaitu sekjennya. Itu sebelum Soeharto lengser. Tetapi pihak dari media massa yang dipanggil tadi sampai kini masih menikmati limpahan tersebut.

Kalau begitu, sebenarnya mereka belum tentu mulus dalam “memperjuangkan Islam” walau duduk di lembaga Islam?

Perkara itu hanya Allah yang Maha Tahu. Dan manusia kan diberi kesempatan bahkan dianjurkan bertaubat. Barangkali saja dengan adanya sentilan semacam ini mereka bertaubat, ya Alhamdulillah…

Tapi ya jangan dibilang sebagai penghalang dakwah dong?!

Siapa yang bilang. Ini kan hanya tanya, Apakah Anda pernah jadi penghalang dakwah sebenarnya?

Masa’ tanya saja tidak boleh?

Kan yang namanya sayang sesama Muslim itu: mau mengingatkan di kala seharusnya mengingatkan. Dengan adanya pengingatan seperti ini, disamping menunjukkan kasih sayang sesama Muslim, masih pula mengandung peringatan secara luas, hingga akan berhati-hati dalam bertindak. Karena semua itu dicatat oleh Malaikat dan akan dihisab/ diperhitungkan dan dipertanggung jawabkan  di akherat kelak. Sehingga kesalahan yang lalu itu tidak terulangi, makanya lebih hati-hati, apalagi untuk berkolaborasi dengan yang sesat-sesat misalnya. Membela yang sesat dan mensisinisi yang benar, semoga tidak terjadi lagi. Kan begitu.

Adapun justru malah kongkalikong dengan yang sesat-sesat dan menggunakan kedudukannya, misalnya, ya itu urusan mereka dengan Allah Ta’ala, yang penting sudah diperingatkan! Atau sampai menganggap orang Budha di Burma yang membunuhi Muslimin Rohingya itu mereka sebut hanya kasus biasa-biasa saja, dan ikut mulut-mulut yang  menafikannya, itu juga urusan mereka dengan Allah Ta’ala. Yang penting sudah diingatkan, hingga kelak di akherat sudah terbukti datangnya hujjah di dunia.

Oleh karena itu,  bahkan bukan sayang namanya, kalau ada sesuatu yang seharusnya diingatkan namun dibiarkan saja. Hawa nafsu saja yang membalik-balik soal masalah ini. Jadinya justru yang seperti tulisan inilah mestinya yang dilakukan sesama Muslim itu, yakni tawaashau bil haqqi watawaashau bisshabr.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

1. demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Lantas kenapa menulis-nulis seperti ini. Apakah tidak ada kerjaan lain apa?

Bukan begitu. Ini kan contoh yang sangat berharga. Sehingga perlu diingatkan, agar menjadi pelajaran bagi siapapun, di manapun, dan kapanpun. Agar jangan sampai merasa dirinya atau bahkan mengaku dirinya/ kelompoknya/ ormasnya berjuang untuk Islam atau berda’wah Islam atau bahkan mengaku da’wahnya lah yang paling benar, padahal entah sengaja atau tidak justru mengandung unsur dukungan terhadap kedhaliman. Padahal Allah jelas mengharamkan kedhaliman. Di samping itu Allah telah wanti-wanti agar kita tidak membela orang yang berkhianat .

وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥)

…dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (QS An-Nisaa’: 105)

Ummat Islam ini jangan sampai ditipu-tipu lagi, atas nama da’wah atau perjuangan Islam, sedangkan isi sejatinya mengandung unsur mendukung kedhaliman, dan demi keuntungan diri sendiri atau keluarga atau kelompok atau golongan atau ormas atau partai. Bukan untuk Islam. Itulah sejatinya penghalang da’wah Islam, namun berbaju Islam.

Di samping itu, menjadi peringatan penting pula bagi Ummat Islam pada umumnya, ketika seseorang bertaqwa, maka Allah jadikan furqon baginya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ  [الأنفال : 29]

29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan[607]. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal: 29).

[607] Artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.

Dengan furqon dari Allah Ta’ala itu hingga si taqwa mampu membedakan mana da’wah Islam yang murni dan mana yang mendukung kedhaliman. Ketika sudah tahu seperti itu, namun kemudian malahan ikut-ikutan kelompoknya hingga ikut arus mendukung kedhaliman, maka berarti furqon pemberian Allah Ta’ala itu disia-siakan. Dari situ dikhawatirkan hilang pula ketaqwaannya. Apa tidak rugi?

Gejala itu tinggallah menyisakan orang-orang yang tidak takut celaan orang-orang yang mencela. Atau kalau memang dukungan kepada kedhaliman itu sampai pada tingkat murtad, maka Allah akan mendatangkan kaum yang beriman dengan sifat-sifat keimanannya serta tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Sebagaimana telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (54) إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57)  [المائدة : 54 – 57]

54. Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.

55. Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

56. dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi waliya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

57. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS Al-Maaidah: 54-57).

(Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 814 kali, 1 untuk hari ini)