Aneh,
Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, Membela Salam Oplosan Agama?

 

Silakan simak yang beredar di medsos berikut ini.

 

***

 

Nell Hawadaa Chan membagikan tautan

Admin · 1 jam

 

[“sesungguhnya kesyirikan (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang sangat besar” [QS. Luqman : 13].]

 

(Berikut ini kutipan sebagian dari tulisan yang berjudul ‘Salam Lintas Agama Syubhat, Benarkah?’ oleh Muchlis M Hanafi di https://kemenag.go.id Rabu, 13 November 2019 05:44 WIB).

“Bila ditilik redaksinya dengan parameter MUI Jatim, tampaknya hanya dua dari lima salam pembuka agama yang dinilai berpotensi ‘merusak’ akidah seorang muslim bila diucapkan, yaitu salam Hindu (Om Swastiastu) dan salam Buddha (Namo Buddhaya). Tiga lainnya; salam Katolik (Shalom), salam Kristen (salam sejahtera bagi kita semua) dan salam Khonghucu (salam kebajikan), tidak membawa nama Tuhan. Makna dan maksudnya kurang lebih sama dengan assalaamu’alaikum. Hanya beda redaksi. Ikhtilaafun fil lafzhi, ittifaaqun fil ma’naa.

Dalam tradisi Hindu, kata Om simbol atau aksara suci untuk Tuhan. Terdiri dari kata A (Brahma/Pencipta), U (Wisnu/Pemelihara) dan M (Siwa/Pengembali apa yang ada di semesta ke asalnya). Ketiganya dikenal Tri Murti. Aksara AUM menjadi Om sebagai manunggalnya Tri Murti menjadi Tuhan. Maha Esa Tuhannya, beragam sifatnya. Swastyastu berasal dari kata Swasti (baik, sehat, selamat) dan Astu (semoga, berharap seperti itu). Jika disambung, makna bebasnya: Ya Tuhan, semoga semua orang dan semua makhluk hidup selalu dalam keadaan baik, sehat, dan selamat. Kurang lebih sama substansinya dengan salam umat Islam. Demikian pula dengan Namo Buddhaya (Terpujilah Buddha). Memang begitu faktanya. Bahkan, tidak sedikit kalangan ulama Islam, termasuk Buya Hamka, yang menduga Buddha Sidarta Gautama sebagai nabi

[selesai kutipan]

Tidak setiap yang disebut ‘tuhan’ oleh makhluk bisa dibenarkan.

Yesus bagi orang Nasrani disebut ‘tuhan’ atau ‘anak tuhan’ sementara Allah ta’ala – satu-satunya tuhan yang haq – berfirman:

مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَة

“Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar” [QS. Al Maidah: 75]

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib” [QS. Al-Maaidah : 116].

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah KAFIRLAH orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam” [QS. Al-Maaidah : 17].

Patutkah seorang muslim mengucapkan “Semoga Yesus memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan kepadamu” ? – karena Yesus dianggap tuhan atau anak tuhan oleh orang Nasrani, yang kemudian dianalogikan dengan Allah subhaanahu wa ta’ala. Maha Suci Allah dari orang yang membolehkan perkataan ini.

Anda tahu Namo Buddhaya artinya Terpujilah Buddha. Buddha yang mengajarkan penolakan keberadaan sosok mahakuasa sebagai pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta diatur oleh lima hukum kosmis (Niyama Dhamma), yakni Utu Niyama, Bija Niyama, Kamma Niyama, Citta Niyama, dan Dhamma Niyama [https://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha]. Lantas, patutkah seorang muslim mengucapkan “Namo Buddhaya”, memuji sosok yang mengajarkan ajaran yang menurut syari’at Islam dilarang dengan sangat keras, kemunkaran yang paling munkar ?

Mengherankan, jika ada seseorang yang bergelut dengan tashhiih Al-Qur’an dan mengetahui makna Om Swastiastu merupakan manifestasi ajaran ketuhanan Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa); membolehkan ucapan salam : “Semoga (kalian) selamat dalam lindungan tuhan tiga dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa”.

Trimurti bagi umat Islam adalah kesyirikan, kedhaliman paling besar di jagat raya.

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“sesungguhnya kesyirikan (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang sangat besar” [QS. Luqman : 13].

Seandainya nanti ada agama baru yang disahkan yang pemeluknya menyembah pohon mangga atau ada kepercayaan animisme yang menuhankan buto terong; apakah kita boleh mengucapkan salam :

“Semoga pohon mangga dan buto terong memberikan keselamatan dan keberkahan dalam hidupmu”

???

Please, jangan bawa-bawa nama ulama yang mereka berlepas diri dari perkataan Anda. Ulama dulu ada yang membolehkan (memulai) salam kepada orang kafir (beberapa riwayatnya ada dalam kitab Mushannaf Ibni Abi Syaibah, begitu juga dalam Ahkaamu Ahlidz-Dzimmah li-Ibnil-Qayyim), akan tetapi bukan dengan versi lafadh yang mengandung kekufuran dan kemunkaran. Semua ulama yang Anda sebutkan tidak ada kaitannya dengan substansi tulisan Anda. Hanya sekedar penghias semata, talbis bagi orang yang tidak pernah atau tidak bisa baca kitab.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya'”

اهدنَا لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Tunjukilah kami jalan keluar yang benar dari perselisihan mereka, sesungguhnya Engkau Maha pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, bagi siapa yang Engkau kehendaki”

Umat Islam patut berbela sungkawa atas opini ini.

Agama masyarakat kita plural, akan tetapi jangan memasyarakatkan pluralisme agama.

https://kemenag.go.id/…/salam-lintas-agama-syubhat–benarka…



 

KEMENAG.GO.ID

Salam Lintas Agama Syubhat, Benarkah?

Kebiasaan para pejabat Muslim dalam mengucap salam pembuka semua agama di acara resmi tengah disorot. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mengeluarkan taushiyah atau imbauan dan seruan dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 agar tidak melakukan salam lintas agama, karena dinilai syubhat…

https://www.facebook.com/groups/AlfirqahAnnajiah/permalink/2602314373209883/

 

***

 

 

  • Tulisan berjudul ‘Salam Lintas Agama Syubhat, Benarkah?’ oleh Muchlis M Hanafi di https://kemenag.go.id Rabu, 13 November 2019 05:44 WIB itu ditutup dengan begini:

Imbauan MUI Jatim sangat relevan bagi yang merasa imannya akan terganggu bila ia mengucap salam lintas agama. Demikian pula bagi masyarakat umum yang tidak ada kepentingannya dengan salam tersebut. Sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan mengucapkannya. Namun jangan larang atau ragukan iman orang yang karena tuntutan hubungan pergaulan harus berucap. Dalam situasi seperti ini, kita harus berupaya menemukan virtus in medio, kebajikan/ keutamaan yang terletak di antara dua sifat berlebihan. Seperti kata Aristoteles, keutaman atau kebajikan (al-fadhiilah) terletak di tengah-tengah; tidak terlalu ketat sampai berlebihan (tafriith) dan tidak terlalu kendor (ifraath). Itulah wasathiyyah yang perlu ditegakkan melalui konsep moderasi beragama. Intinya, dalam beragama diperlukan sikap luwes dan bijaksana sehingga antara berislam dan bernegara bisa saling sinergi. Demikian, wallahu a’lam.

Muchlis M Hanafi (Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama) 

Demikianlah akhir dari tulisan Salam Lintas Agama Syubhat, Benarkah?’ tersebut.

Ada fp yang berkomentar singkat:

Bermunculan orang2 yang lebih membela hawa nafsunya dibanding membela Islamnya. Mereka berkomentar ataupun bahkan menulis sanggahan terhadap imbauan MUI Jatim agar Pejabat Muslim dan Umat Islam tidak gunakan salam agama lain. Cukup salam Islam saja. Sanggahan2 mereka yang tidak punya ilmu Islam (walau tokoh bahkan pejabat sekalipun) sangahan2 mereka itu tidak perlu digubris, sebenarnya. Bahkan, yang tingkatnya doktor bahkan doktor tafsir di perguruan tinggi terkemuka pun, sebenarnya justru perlu diragukan pembelaannya terhadap Islam, ketika menyanggah imbauan MUI Jatim itu. Justru perlu dikasihani, karena sampai ada yang seakan lupa ayat ‘lakum diinukum waliyadiin’, yang intinya untuk berlepas diri dari agama selain Islam, malah merujuk ke Aristoteles yang memang bukan Muslim, agar bersikap tengah2, lalu diberi embel2 wishdom, lalu dibikin jalan baru antara bersikap dalam beragama dan bernegara, hingga ujung2nya pun bikin jalan baru yang dianggap jalan tengah di luar jalan Islam.

Entah merasa hebat atau tidak merasa sudah menjual agamanya kalau seperti itu, wallahu a’lam.

(nahimunkar.org)

 

 


 

(Dibaca 669 kali, 1 untuk hari ini)