.

Oleh Yusuf Utsman Baisa

  • Kita takut dan khawatir akan naiknya seorang Presiden yang terpilih karena dukungan pihak-pihak asing dan para konglomerat yang rakus, ambisius dan menghalalkan segala cara.

Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan pernyataan terbuka dari Presiden SBY yang mengarahkan rakyatnya untuk tidak memilih calon presiden yang memiliki rencana akan melakukan nasionalisasi asset Negara. Sebuah pernyataan yang semestinya tidak perlu diungkapkan di hadapan khalayak, karena hal ini bisa menjadi pengarahan yang buruk dan bertentangan dengan cinta rakyat kepada negerinya dan kekayaan alam yang dikandungnya. Ini suatu hal yang “memilukan” dan “memalukan”.

 “Memilukan” karena pernyataan dan pengarahan ini bisa menjadi arahan kepada sebaliknya seolah-olah dia berkata : “pilihlah calon presiden yang akan membiarkan asset-asset Negara dikuasai oleh pihak asing!”, sudah tentu hal ini menyakiti hati setiap orang yang mengerti bahwa diantara penyebab miskinnya negeri ini adalah karena kekayaan alamnya disedot habis oleh pihak asing.

“Memalukan” karena pernyataan ini diungkapkan oleh seorang Presiden yang semestinya mendidik dan mengarahkan rakyatnya kepada sikap patriot dan siap berkorban dalam melindungi negeri ini dari setiap pihak yang akan merebutnya dan menguasainya. Malah justru memberikan ungkapan yang sebaliknya.

Masih segar dalam ingatan kita akan tingkah-laku Presiden yang lalu, duduk menjadi presiden hanya tiga tahun, namun telah mampu menjual puluhan asset Negara kepada pihak-pihak asing, diantaranya Tanker kapasitas besar kelas dunia (VLCC), Indosat dan lain-lainnya. Sungguh miris dan menyakitkan.

Kita melihat dan belajar dari Negara-negara Teluk di Timur Tengah sana, negeri mereka tidak lain hanyalah padang pasir yang gersang, tidak memiliki kekayaan alam kecuali barang tambang yang mereka kuasai dengan baik, hingga menjadi asset nasional yang sangat bermanfaat untuk segenap penduduk negeri mereka, adapun pihak asing yang bekerja disana hanyalah sebagai joiner dan para pekerja semata.

Namun lihat apa hasilnya ? mereka menjadi kaya raya karena “asset nasional” itu dan pendapatan perkapita mereka tertinggi di Dunia.

Bangsa Indonesia hidup bergelimang dalam curahan kekayaan alam yang berlimpah-ruah, kekayaan itu ada di setiap tempat dan letak, baik di daratan maupun lautan. Namun apa yang terjadi ? rakyatnya miskin dan negaranya kaya akan hutang yang bertumpuk-tumpuk, setiap muncul pemerintah baru, semakin bertambah pula tumpukan beban hutang mereka.

Kita mengharapkan munculnya sosok Presiden yang akan datang adalah seorang pemberani, cinta kepada rakyatnya, melindungi negerinya, tidak menambah beban hutang negara bahkan bersungguh-sungguh membayarnya dan mau membawa rakyatnya kepada kewibawaan sebuah bangsa merdeka serta lepas dari penjajahan dengan segala jenisnya.

Kita takut dan khawatir akan naiknya seorang Presiden yang terpilih karena dukungan pihak-pihak asing dan para konglomerat yang rakus, ambisius dan menghalalkan segala cara. Mereka siap mengeluarkan biaya ratusan triliun rupiah untuk mendapatkan dukungan dan membeli suara sebanyak-banyaknya. Segala fasilitas dan media mereka kerahkan secara berlebihan, agar calon ini bisa menang dan uang mereka akan kembali dengan berlipat ganda.

Kita telah mengerti dan belajar dari pengalaman bahwa yang membuat negeri ini miskin adalah para pemimpin bangsa yang bangga terhadap kedudukan dan kekuasaan mereka, masa jabatan mereka gunakan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri dan keluarga mereka, setiap peluang bisnis dijadikannya sebagai proyek yang akan disiasati untuk jadi sapi perah yang akan terus mengalirkan dana guna memenuhi kepentingan diri sendiri, konco-konco dan membiayai operasional partai mereka.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Presiden SBY dengan segala jasa baiknya, saya mengutarakan kekecewaan yang mendalam atas ungkapan yang telah dilontarkannya, kalau itu adalah ungkapan orang yang sedang berkampanye, maka hal ini tidak layak dilakukannya, karena beliau berposisi sebagai seorang presiden yang harus berpihak kepada seluruh rakyatnya tanpa kecuali.

Kalau ungkapan itu adalah bagian dari kebijakannya maka hendaknya disampaikan secara khusus kepada orang-orang yang terkait dengan kebijakan itu, bukan di hadapan media dan forum terbuka yang menyaksikannya.

Sampai kapan kita akan terus saling menghadang ? sampai kapan ketidak-dewasaan dalam berpolitik akan terus ada pada diri kita ?

-Diambil dari status Facebook : Ustadz Yusuf Utsman Baisa

DPP PERHIMPUNAN AL-IRSYAD/ Written by Administrator

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.176 kali, 1 untuk hari ini)