(Foto: NET)


Jakarta – Sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo (Jokowi) yakni Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) hari ini kembali digelar oleh PN Jakarta Utara dengan agenda pembacaan Pledoi atau pembelaan dari terdakwa Ahok.

Menariknya, sidang pembacaan Pledoi Ahok yang digelar di Gediung Kementerian Pertanian Ragunan Jakarta selatan ini sama dengan saat sidang pembacaan Tuntutan oleh jaksa, dimana media dapat menayangkan secara langsung jalannya persidangan.

Sedangkan pada sidang-sidang pemeriksaan saksi seluruh media dilarang menayangkan secara live, bahkan ketika memasuki ruang sidang seluruh awak media diperiksa dengan ketat dan tidak diperbolehkan membawa alat peliputan.

Pada sidang pembacaan Pledoi ini, Ahok mengaku menyusun sendiri pembelaan yang akan dibacakannya nanti, bahkan menurutnya ia telah menyiapkan Pledoi sebelum 17 April 2017 lalu atau sebelum adanya pembacaan tuntutan dari JPU. namun karena ada permintaan jaksa dengan alasan belum siap menyusun dan mengetik tuntutan akhirnya sidang ditunda.

“Pledoi kan suka-suka saya, enggak ada batasan waktu, live lagi. Saya mau cerita empat sampai lima jam soal cita-cita saya mau jadi gubernur, paparin visi misi segala macam, pelanggaran enggak? Enggak lho, kan pledoi,” kata Ahok.

Pada sidang pembacaan tuntutan,Jaksa menyatakan Ahok bersalah dan melanggar pasal 156 KUHP. Jaksa menuntut Ahok satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Dalam tuntutan itu Jaksa menganggap Ahok tidak terbukti melakukan penodaan agama seperti dalam dakwaan pasal 156 a KUHP.

Tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa mendapat tanggapan dari berbagai kalangan, karena Jaksa dianggap melarikan tuntutan dari subtansi masalah yang sebenarnya, sehingga menimbulkan kekecewaan dari berbagai lapisan masyarakat karena terkesan adanya intervensi terhadap sidang kasus penistaan agama ini. (MH007)

Sumber: mediaharapan.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.040 kali, 1 untuk hari ini)