Ilustrasi, Makam Nyai Sedah Mirah, seorang selir alias gundik  dari 40 selir Pakubowono X Raja Kasunanan Surakarta (Solo) Jawa Tengah yang memerintah tahun 1893-1939/foto  deskgram.net


Permohonan untuk Pak Kyai Ma’ruf Amin

Pak Kyai Ma’ruf Amin dan Umat Islam pada umumnya, mohon disadari, manusia2 jahiliyah dulu di Arab, menamakan berhala2nya dengan nama orang-orang shaleh. Itupun mereka jadi musuh Allah Ta’ala, dan diberantas oleh Islam. Karena memuja dan minta pertolongan kepada berhala orang shaleh itu. Hingga disebut musyrik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan selainNya. Diancam neraka, kekal di dalamnya, bila mati dalam keadaan belum bertobat, tidak dalam keadaan Muslim (beragama Islam secara benar).

Nah sekarang, seorang selir alias gundik bernama Sedah Mirah (artinya sirih murah, konon tercantik dari 40 selir Pakubowono X Raja Kasunan Surakarta (Solo) Jawa Tengah yang memerintah tahun 1893-1939) sudah mati lama, lalu kuburannya di Kartosuro Solo Jawa Tengah dipuja-puja orang untuk ngalap berkah, cari pesugihan, pangkat dsb. (Di sisi kuburan terlihat di foto ada kotak amal…)

Itu melebihi sesatnya manusia jahiliyah yang sudah sangat sesat. Karena orang jahiliyah memuja berhala orang shaleh untuk sebagai sarana (wasilah) mendekatkan diri kepada Allah. Itupun dinyatakan sebagai perbuatan syirik akbar (kemusyrikan besar) hingga diberantas oleh Islam. Karena penyembahan kepada Allah tidak boleh pakai sarana pemujaan kepada selain-Nya.

Nah, kalau mayat seorang gundik/ selir, kuburannya dipuja, itu untuk mendekatkan diri kepada siapa? Sedang yang pakai sarana pemujaan pada nama orang shaleh yang telah meninggal pun telah diberantas oleh Islam dan dinyatakan sebagai perbuatan syirik akbar, kelakuan kaum musyrik jahiliyah di Arab tersebut. Mari kita simak penjelasan singkat Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal berikut ini:

Rasul Memerangi Orang Musyrik

Kenapa Rasul sampai memerangi orang Quraisy? Jawabnya, karena mereka telah berbuat syirik. Karena mereka telah beribadah kepada selain Allah dengan menjadikan mereka (orang shaleh yang sudah meninggal, red NM) sebagai perantara atau bertawassul pada mereka. Jadi bukanlah mereka meminta kepada orang shalih dan selain Allah secara langsung. Lihatlah kesyirikan yang terjadi di masa silam seperti yang disebutkan dalam ayat,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3).

Inilah sebab mengapa sampai Rasul memerangi mereka.

Ini berarti kita diperintahkan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan kesyirikan itu sudah teramat jelas yaitu memalingkan salah satu ibadah pada selain Allah. Siapa saja yang berbuat syirik, maka terhapuslah amalnya walaupun ia makhluk yang paling mulia. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 65-66).

Hanya Allah yang memberi taufik./ rumaysho.com

Demikianlah, betapa sesatnya.

Bahkan lebih mengherankan lagi, kini ada tokoh terkenal yang sedang berkampanye agar dipilih kembali untuk memimpin negeri ini. Dia belum lama ini punya cucu malah dinamakan mirip nama selir atau gundik yang kuburannya dipuja-puja kaum musyrikin zaman kini itu. Yaitu Sedah Mirah (artinya sirih murah).

Sebenarnya masalah itu urusan dia dan para pemuja kuburan gundik tersebut. Hanya saja, dari kenyataan itu dapat dibaca, ke mana arah kecenderungan dia dan mereka.

Yang jadi persoalan justru sikap Kyai Ma’ruf Amin, kenapa masih mau sebagai pendamping sang tokoh itu. Kyai Ma’ruf Amin adalah tokoh Islam bahkan ketua umum MUI (Majlis Ulama Indonesia). Sedang ulama itu adalah pewaris anbiya’ (Nabi-Nabi). Nabi-nabi itu tugas utamanya adalah menegakkan Tauhid (penyembahan hanya murni kepada Allah Ta’ala) dan memberantas syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya).

Manusia sebagai makhluk, itu diciptakan adalah untuk menyembah hanya kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Untuk itu, Allah Ta’ala mengutus Rasul-Rasul untuk umat masing-masing, sedang Rasulullah terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk seluruh manusia.

Dalam hal ibadah kepada Allah itu tinggal mengikuti Rasul tersebut. Nah, kemusyrikan itulah yang diberantas pertama kali dan seterusnya oleh Rasul-Rasul Allah. Kemudian setelah wafatnya Rasul terakhir maka para Ulama lah yang berkewajiban memberantas kemusyrikan itu karena sebagai pewaris anbiya’.

Ketika kini ada pemimpin ulama malah berdampingan dengan sosok yang seperti tersebut, maka semoga saja fungsinya sebagai ulama pewaris anbiya’ lebih dipilih, ketimbang mengejar dunia yang belum tentu tercapai, sedang agamanya telah tergadai.

Apakah dengan kondisi yang seperti ini, masih mau menyanjung prestasinya, bahkan sampai berani memlintir ayat demi membelanya, wahai Pak Kyai Ma’ruf Amin dkk? Sadarlah…

Sampai-sampai keturunan pendiri NU pun marah dengan tingkah P Kyai Ma’ruf Amin yang mempermainkan ayat sampai dua kali demi menyanjung junjungannya itu. (Dapat dilihat di sini: Ma’ruf Amin Dua Kali Mempermainkan Ayat Al-Qur’an, Keturunan KH Wahab Hasbullah Jombang Marah).

Posisi Kyai Ma’ruf Amin serba sulit. Satu sisi, sebagian Kaum Nahdliyin (warga NU) sampai marah seperti tersebut. Demikian pula kebanyakan Umat Islam. Di sisi lain, kelompok-kelompok yang didukung Kyai Ma’ruf Amin pun tidak menyukainya bahkan sudah menyalahkannya, karena dianggap tidak mampu mendongkrak elektabilitas capres yang didukungnya itu.

 Bahkan belakangan, ketika Pak Kyai Ma’ruf Amin sakit dan tidak dapat keluar rumah untuk berkampanye, malah disyukuri dan disalahkan oleh pihak yang dibela Kyai Ma’ruf Amin berkaitan pilpres 2019. Kelompok-kelompok itu adalah para pembela penista agama, dan bahkan menolak syari’at Islam, terang-terangan menolak perda syari’at dan juga syari’at tentang poligami. Secara petunjuk Islam, mereka adalah orang-orang munafik.

 {وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا} [النساء: 61]

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An-Nisaa’: 61)

Sebagai orang Islam, tidak sampai taraf ulama pun tahu bahwa manusia-manusia munafik yang menolak syari’at Islam itu adalah musuh-musuh Allah. Ketika Kyai Ma’ruf Amin menceburkan diri bergabung dengan mereka, bahkan mendukung mereka bahkan sampai berani memlintir ayat demi menjunjung mereka, maka betapa mengerikannya keberanian yang sangat tanpa perhitungan secara Islam itu.

Oleh karena itu bila salah langkah yang sangat salah secara agama itu masih saja diteruskan, maka betapa ruginya, wahai Pak Kyai Ma’ruf Amin. Sisa umur yang kemungkinan masih bermanfaat, paling kurang jangan disia-siakan, apalagi justru untuk menghapus seluruh kebaikan yang lalu. Jangan sampai. Itu saja.

Sekian.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.121 kali, 1 untuk hari ini)