Anekdot: Dikhawatirkan, akan Banyak yang Kena Gejala Sableng


Baru saja lurah abangan (berbaju abang/merah) di desa Sering Gendro mengangkat modin baru. Ketika sang modin diangkat, langsung barisan Bolo Nuklun mawuk-mawuk, mencak-mencak. Bagaimana ini, biasanya yang diangkat jadi modin itu kan dari barisan Bolo Nuklun. Kok ini malah hansip tuwek diangkat jadi modin ini bagaimana? Iki piye cah?

Lalu anak muda Bolo Nuklun sesumbar. Kalau caranya gitu, modin yang diangkat dari hansip tuwek, bukan dari Bolo Nuklun, maka kami tidak akan cawe-cawe ikut-ikut untuk memberantas radikaisme. Wis garapen dewe, silakan kerjain sendiri.

Modin yang dari hansip tuwek pun justru lantang, mengobarkan untuk memberantas apa yang ditugaskan oleh lurah abangan untuk memberantas apa yang disebut radikalisme. Lalu tokoh dari kelompok Muham berteriak: Kalau gitu lembaganya jangan disebut Lembaga kemodinan, tapi ganti saja dengan Lembaga deradikalisme.

Mendapat tantangan seperti itu, modin dari hansip tuwek lantang lagi bicara soal agama. Sebagai modin kan perlu ngomong soal agama, dan kaitannya dengan tugas dari lurah abangan untuk memberantas liberalism, eh salah, radikalisme maksudnya. (wah salah itu tadi, karena memang yang telah difatwakan haramnya oleh Lembaga keulamaan di Desa Sering Gendro 2005 dan tentunya agar diberantas itu adalah sepilis-yakni sekulerisme, pluralism agama, liebrailsme agama; karena merelatifkan benarnya Islam, menganggap Islam itu relative sama benarnya dengan agama-agama lain; anggapan itu menurut Islam adalah kemusyrikan baru, sedang kemusyrikan adalah dosa terbesar yang bisa mengeluarkan dari Islam alias jadi murtad). Lihat ini: https://www.nahimunkar.org/dididik-faham-inklusivisme-pluralisme-agama-dan-multikulturalisme-akhirnya-berani-nyatakan-tuhan-membusuk/ ).

Sebagai modin baru, rupanya banyak mendapat perhatian selain banyak protesan. Saat itu pula ada tv manca desa yang punya cabang di Desa Sering Gendro ini mewawancarai modin baru. Hasil wawancara pun menyebar, ramai di masyarakat.

Saking ramainya, kemudian ada judul besar di media2 sosial: Blunder Menag “Semua agama adalah rahmat bagi alam semesta”, Netizen: Kalau gitu pindah Kristen aja Pak Menag

Arti kata blunder adalah kesalahan serius atau memalukan yang disebabkan oleh kebodohan, kecerobohan, atau kelalaian/ lektur.id

Sampai-sampai ada yang berkomentar:


قال الذهبي: الجاهل لا يعلمُ رُتبةَ نفسِه، فكيفَ يعرفُ رتبةَ غيره؟
«سير أعلام النبلاء» (11/ 321)

Orang jahil itu tidak tahu posisinya sendiri, jadi bagaimana dia tahu posisi orang lain? (Siyar A’Lam An-Nubala’, Az-Zahabi, 11/321).

Kenapa perkataan modin itu jadi ramai?

Karena dia katakan, “Semua agama adalah rahmat bagi alam semesta”

Lalu ada yang membahas singkat:

Bicara agama harus pakai dalil

Bicara agama harus pakai dalil. Bila ada orang Islam berbicara agama tapi tanpa dalil, maka tinggal ditimbang, bagaimana dalilnya dalam Islam.

Mengenai agama selain Islam, menurut firman Allah Ta’ala adalah:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥ [ آل عمران:85-85]

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Al ‘Imran:85]

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang murtad dan bergabung dengan orang-orang kafir. Amal shalihnya tertolak; tidak diterima. Karena kembalinya ke neraka. (Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Referensi: https://tafsirweb.com/1217-surat-ali-imran-ayat-85.html )

Bila memang semua agama itu rahmat bagi seluruh alam, maka tidak akan ada ancaman dari Allah Ta’ala dalam QS Ali ‘Imran ayat 85 tersebut. https://www.nahimunkar.org/blunder-menag-semua-agama-adalah-rahmat-bagi-alam-semesta-netizen-kalau-gitu-pindah-kristen-aja-pak-menag/

Walaupun persoalannya sudah jelas, yakni modin baru di Desa Sering Gendro itu bicara agama tanpa ilmu, tetapi ada juga komen yang seakan benar namun sejatinya komen dari orang yang pikirannya ada gejala sablengnya.

Apa itu. Yaitu komen yang bentuknya begini:

Kalau begitu benar dong, kata-kata pentolan Bolo Nuklun itu, yaitu selain Bolo Nuklun, salah kabeh. Mau jadi khotib kek, modin kek, lebai kek, pokoknya kalau dipegang selain Bolo Nuklun itu salah semua. https://www.nahimunkar.org/parahsaid-aqil-katakan-selain-nu-salah-semua-kecuali-ini/

Kenapa komen yang membenarkan perkataan pentolan Bolo Nuklun itu ada gejala sablengnya?

Karena, bukan karena modin baru yang dari omongannya jelas jahil tentang agama itu menjadi bukti bahwa omongan pentolan Bolo Nuklun itu benar.

Justru pentolan bolo nuklun itulah yang termasuk harus dibabat oleh modin baru karena omongan yang menyalahkan semua pihak selain golongannya itulah yang juga disebut ‘radikal abis/ poll’

Maka harus disikat habis oleh modin baru yang ditugasi oleh lurah abangan untuk memberantas radikalisme. Maka tidak usah jauh2 mencarinya, di depan mata sudah ada.

Ha? Mau membabat pentolan Bolo Nuklun?

Bukankah justru selama ini wong kuwi yang bengak-bengok soal radikalisme? Ternyata justru dialah pentolan ‘radikal poll/abis’?

Antara yang ditugasi memberantas dan yang akan diberantas, belum jadi dilaksanakn, baru berupa teriakan-teriakan saja sudah menjadikan sebagian orang seakan mengidap gejala virus sableng. Karena yang satu pihak membenarkan ucapan pentolan Bolo Nuklun, dengan adanya modin baru yang bukan dari Bolo Nuklun, bicara agama justru memperlihatkan kebodohannya hingga sangat memalukan itu, merupakan bukti bahwa ucapan pentolan Bolo Nuklun itu benar. Yaitu selain Bolo Nuklun kalau jadi khatib, modin, lebai dan sebagainya salah semua.

Lantas satu pihak pembela modin baru tentu akan membelanya se-jadi-jadinya. Pembelaan itu tentunya bagai terkena virus sableng juga. Karena sejatinya tidak bisa dibela dari sisi manapun.

Jadi hasilnya apa?

Dikhawatirkan, hasilnya hanyalah menambah jumlah manusia yang seakan terkena atau bahkan mengidap virus sableng.

Kalau toh begitu ya wajar lah.

Ha? Kenapa?

Lha wong belum lama ini diadakannya pemilihan lurah yang dimenangkan lurah abangan di Desa Sering Gendro ini kan para orang-orang gila juga punya hak pilih, hingga ikut pilihan lurah? Ya Bukan?

Ooo, ya ya… Jadi sekarang mulai memanen hasilnya?

Dikhawatirkan begitu, tapi semoga saja tidak begitu.

  • Ilustrasi kbbi-cari

(nahimunkar.org)

(Dibaca 521 kali, 1 untuk hari ini)