Anekdot: Guru Ngaji Bikin Ronce2 Pohon Natal di Gereja Katolik


Setua ini baru dengar ada guru ngaji yang mengabdi ke agama lain sampai sebegitunya. Sampai2 dia bikin ronce2 pohon natal segala di gereja katolik.

Lhah, pohon natal itu kan rangkaian perayaan agomo orang lain, bukan agomonya guru ngaji itu. Kenapa kok sebegitu perdulinya sampai membikin ronce2 pohon natal di gereja? Apakah kitab yang dia ajarkan ketika mengaji untuk umat ini ada tuntunan yang begitu?

Masa’ sih ada guru ngaji yang begitu?

Ya, kabarnya ada.

Dari mana dia?

Guru ngaji di dusun Surobayan. Bahkan namanya pakai Kholis yang artinya orang yang ikhlas, murni, tulus, hanya untuk Allah Ta’ala.

Ha? Apakah itu juga untuk Allah Ta’ala?

Kalau niatnya sih kita tidak tahu. Tapi niat baik pun, itu harus sesuai dengan tuntunan agomo. Perbuatan yang mokhal2 yang ga’ sesuai dengan tuntunan agomo, walau diniati dengan ikhlas, ya tetap tertolak, tetap tidak jadi benar. Apalagi kalau itu merupakan perintis, contoh awal, maka akan mendapatkan aliran dosa dari orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa2 orang yang mengikutinya sama sekali.

Lhah, jadinya nabung dosa dong?

Ya, kalau tidak bertobat dan tidak mengumumkan mencabut perbuatannya itu.

Kenapa begitu?

Karena, urusan agomo itu tidak ada toleransi bab materi agomo itu sendiri. Itu sudah mengenai materi agomo orang lain. Jadi tidak boleh ikut campur.

Apa ada dalilnya?

Ya ada. Bahkan setiap Muslim biasanya hafal, yaitu ayat ‘Lakum diinukum waliyadiin’. (bagi kalian – orang2 kafir—agama kalian, bagiku –orang Muslim— agamaku). Itu di Al-Qur’an Surat al-Kafirun ayat 6.

Apakah kira2 guru ngaji itu tidak ingat adanya ayat itu, dan dari kelompok mana dia?

Kalau itu bukan dari kelompok terkemuka, mungkin ya tidak ada beritanya di media2. Lha ini konon dari kelompok NU (Nahdlatul Ulama). Makanya ada beritanya.

Lha kalau guru ngajinya saja seperti itu, lantas murid2 ngajinya seperti apa ya?

Ya, itulah persoalannya. Dan bagaimana pula kalau nanti dibangkitkan di akherat kelak akan bersama orang2 agomo lain? Toh nanti di akherat itu disebutkan dalam hadits, akan bersama orang yang dicintainya. Nah, ketika sebegitunya cintanya kepada orang agomo lain, bagaimana pula bila nanti digabungkan dengan mereka. Itu yang perlu diingatkan benar2. Agar kelompok NU itu mengingatkan warganya, jangan sampai malah nantinya dikumpulkan bersama agomo lain di akherat kelak.

Perbuatannya itu sendiri perlu dikoreksi, namun malah kadang masih mengeluarkan kata-kata ga’ mengenakkan kepada Umat Islam yang mentaati ayat ‘Lakum diinukum waliya diin’ itu disebut sebagai orang yang intoleran.

Kok bisa begitu ya? Kira2 kenapa ya?

Karena, di antaranya memang ada pentolan mereka yang tampaknya mencla mencle. Kemarin2 bilangnya, haram mengucapkan selamat natal bagi Umat Islam. Eh, begitu berambisi jadi pejabat, dia bahkan ngucapin selamat natal, itupun atas nama kristiani, dalam videonya.

Ha? kenapa begitu?

Ya itulah ruwetnya. Tapi kalau ada yang mengingatkan, belum tentu diterima.

Ya sudah, asal anak cucu kita dan teman2 kita tidak ikut ruwet yang seperti itu ya.

Ya semoga Allah merahmati Umat Islam yang istiqomah, di saat sebagian manusia ini justru bangga dengan dosa2nya. Dikhawatirkan, mereka itu termasuk mujaahiriin yang tidak diampuni. Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

 

Ilustrasi foto/ dok./ net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 325 kali, 1 untuk hari ini)