Anekdot: Kedok Toleransi

 


Video:

https://youtu.be/NsK5xRWjmRc

 

Wadyabala Bolo Nuklun di masa kekuasaan lurah abangan (berbaju abang/ merah) di Desa Sering Gendro sering ndisiki kerso (mendahului kemauan). Boleh jadi juga kemajon (kebablasan).

Belum lama ini penduduk desa Sering Gendro dikejutkan adanya sekolah SD milik Bolo Nuklun di kampung Jombang mengajak murid-muridnya (yang sebagian masih ingusan) datang ke gereja yang ada salibnya besar banget. Mereka mengadakan acara di dalam gereja itu. Anak-anak SD gereja beracara dalam gereja dan ditonton anak2 SD dari pihak Bolo Nuklun yang dihadirkan ke situ. Katanya, anak-anak itu untuk diajari toleransi. (Lha kok khawatir banget ya, memangnya kalau ga’ didatangkan ke acara di gereja sejak masih anak-anak sekolah SD, nantinya akan jadi wong radikal? Lha nanti kalau kecantol dengan gadis gereja, lalu nikah dan jadi murtad ngikut istrinya yang kafir itu bagaimana? Itu bukankah menjerumuskan ke neraka untuk selama-lamanya?).

Tingkah guru-guru sekolahan SD milik Bolo Nuklun itu bikin geleng2 kepala sebagian Umat Islam. Benar-benar kemajon alias kebablasan, itu Namanya.

Bolo Nuklun yang muda pun ada yang cari sensasi. Agar tidak kalah kemajonnya (kebablasannya), maka di kampung Malang, wadyabala Bolo Nuklun yang tergabung dalam kelompok nebeng nama orang terkenal yang sudah meninggal, mengadakan maulidan selawatan tari2an di vihara tempat ibadah orang bukan Islam.

Dengan menyebut-nyebut toleransi, mereka mengadakan acara itu di Bulan November 2019/ Rabi’ul Awwal 1441H. Media2 yang ditengarai suka membesar-besarkan peran pihak2 yang kemajon itu pun memberitakannya, seolah kegiatan mereka itu begitu bagusnya.

Peringatan maulid Nabi, shalawatan, ketika dilangsungkan di vihara, walaupun yang hadir hanya beberapa gelintir orang, tapi karena berkedok toleransi, dan bicaranya ke media dicanggih-canggihkan, maka sebagian media ya memuatnya, bahkan diberi gambar foto segala. Padahal itu kalau diadakan di cakruk atau gubuk ronda, dan tanpa kedok toleransi segala, mungkin media tingkat desa pun belum tentu memberitakannya.

Rupanya kedok toleransi, dan menggandeng orang kafir dan semacamnya, dianggap merupakan salah satu hal yang masih laku dijual. Setidaknya untuk berita. Karena kalau Maulid Nabi itu hanya menggandeng gerombolan sesat, belum tentu mudah dijual pula. Aliran sesat seperti syiah pun rupanya kini sementara sudah kurang dilirik oleh sebagian wadyabala Bolo Nuklun untuk dijadikan rekanan. Trennya Toleransi dan menghadapi yang radikal, kalau malah menggandeng aliran sesat, kemungkinan ga’ laku.

Mereka lupa, dedengkot penghulu yang menikahkan orang2/ pasangan2 beda agama justru baru saja meninggal dunia karena kangker hati. Diobatkan sampai ke negeri komunis China pun, ternyata tidak sembuh juga. Sudah payah2 sampai ucapannya menyakiti Islam, tahu2 akhirnya meninggal juga. Sedangkan ridho’ yang dicari dari orang kafir belum tentu diperoleh pula. Padahal sensasi yang ditempuh sudah luar biasa. Di antaranya dengan cara mensinisi cadar dan membela pakaian wanita yang sebagian auratnya terbuka, disertai tulisan  di akun Facebooknya di mana menyertakan foto wanita bercadar posisi atas dan wanita busana tradisonal dengan dada terbuka:

Saya lebih suka menikmati foto di bawah. Apa saya salah? Lha, ini selera ku. Apa agama sampai begitu otoriternya atau jangan-jangan umatnya yang terlalu bernafsu hingga selera pun mesti ‘sesuai’ perintah agama? Kalau begitu benar agama itu sudah jadi biang kerok dan otoriter. Sudah saatnya agama yang demikian layak dilupakan. Ayo…tinggalkan agama!”

Terhadap tulisan itu, perlu disikapi, Na’udzubillahi min dzalik! (kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian).

Entah bertobat atau tidak, itu urusan dia, yang belum lama ini mninggal dunia setelah mengidap sakit berat, kanker hati. Yang jelas, seharusnya yang dicari itu ridho Allah, bukan ridho manusia, apalagi manusia-manusia kafir ataupun mengaku Islam tapi pro pihak kafir.

Ridho Allah itulah yang benar-benar berharga sangat besar, dan yang memperolehnya hanyalah orang-orang mukmin lagi beruntung.

{وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ } [التوبة: 72]

Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. [At Tawbah:72]

Apakah mungkin, ridho dari Allah itu diraih dengan cara2 bikin2 sensasi dengan kedok toleransi dan sebagainya demi mencari ridho orang kafir ataupun pihak2 yang pro wong kafir?

Sedangkan Allah Ta’ala sudah jelas berfirman:

{وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ} [الزمر: 7]

… dan Dia (Allah) tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya;…. [Az Zumar:7]

Sebelum di akherat kelak akan mentok sana-sini tidak ada jalan keselamatan karena amaliyah ketika di dunia jauh dari yang diridhoi Allah Ta’ala, maka sebaiknya kita berhenti dari bikin2 aneka rupa yang kemajon (kebablasan) yang tak sesuai dengan agama kita, Islam yang diridhoi Allah Ta’ala.

Ok, buanglah segala kedok itu, carilah ridho Allah… semoga saja ya…

Ilustrasi foto panjimas  14 Dec 2016

(nahimunkar.org)