Anekdot: Lakon Manusia


Ilustrasi. Foto/ytb

Di tengah gonjang-ganjing aneka masalah dari folitik hingga soal tetek mbengek (aneka macam), manusia di Desa Sering Gendro (DSG) yang dipimpin Lurah Abangan (berbaju abang alias merah) ada lakon manusia penipu yang mboten2 (tidak2).

Di kawasan Jowo Tengah ada cabe rawit (lombok usit) palsu.

Ha? Bisa bikin lombok palsu? Dari apa bahannya?

Sabar. Yang dipalsu itu warnanya. Cabe rawit bukan merah, lalu dipalsu jadi merah.

Caranya bagaimana?

Kabarnya, dengan cara dicat. Entah bagaimana caranya, pokoknya jadi cabe rawit merah, padahal aslinya bukan merah.

Waduh, bagai bibir palsu perempuan dong? Aslinya item njablu serem, tahu2 dicat merah pakai cat bibir hingga mangar2 mungkin. Itu berarti bibir palsu dong?

Ya, sebenarnya pemalsuan2 semacam itu juga sudah dibicarakan oleh para ulama, bahkan ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengancam wanita yang mengubah alisnya, bulu matanya dst.

Perbuatan semacam itu adalah mengikuti perintah setan. Silakan simak uraian (tanya jawab dari situs Islam) berikut ini.

***

Merapikan Alis

Pertanyaan:

Assallamualaikum Ustadz.

Saya mau bertanya mengenai hukum merapikan alis (dicukur sebagian sedikit saja) karena alis saya terlalu banyak bagaimana hukumnya? Syukron.

Dari: Asih

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ketika diusir oleh Allah, Iblis bersumpah di hadapan Rab semesta alam untuk menyesatkan seluruh hamba-Nya.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ( ) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata: Aku bersumpah dengan Keagungan-Mu ya Allah, sungguh akan aku sesatkan mereka semua, kecuali para hamba-Mu diantara mereka yang baik imannya.” (QS. Shad: 82 – 83).

Salah satu diantara misi besar iblis untuk menyesatkan manusia adalah memerintahkan mereka untuk mengubah ciptaan Allah,

وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ

“Sungguh aku akan perintahkan mereka untuk mengubah ciptaan Allah.” (QS. An-Nisa: 119)

Namun sebagian besar yang terjebak dalam larangan ini adalah para wanita. Allah jadikan, bagian dari keindahan wanita,  tidak ada bulu di wajah selain alis dan bulu mata. Untuk menjaga dari ulah mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang mencukur bulu alisnya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ اللَّهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُوتَشِمَاتِ، وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ، لِلْحُسْنِ المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

“Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya).

Makna Al-Mutanamishah

Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106).

An-Nawawi juga menegaskan, bahwa larangan dalam hadis ini tertuju untuk bulu alis,

وأن النهي إنما هو في الحواجب وما في أطراف الوجه

“Larangan tersebut adalah untuk alis dan ujung-ujung wajah..” (Sharh Shahih Muslim, 14/106).

Ibnul Atsir mengatakan,

النمص: ترقيق الحواجب وتدقيقها طلبا لتحسينها

“An-Namsh adalah menipiskan bulu alis untuk tujuan kecantikan…”

Ibnul Allan mengatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin,

وَالنَّامِصَةُ”: الَّتي تَأخُذُ مِنْ شَعْرِ حَاجِبِ غَيْرِهَا، وتُرَقِّقُهُ لِيَصِيرَ حَسَناً. “وَالمُتَنَمِّصَةُ”: الَّتي تَأمُرُ مَنْ يَفْعَلُ بِهَا ذَلِكَ

“An-Namishah adalah wanita yang mencukur bulu alis wanita lain atau menipiskannya agar kelihatan lebih cantik. Sedangkan Al-Mutanamishah adalah wanita yang menyuruh orang lain untuk mencukur bulu alisnya.” (Dalil al-Falihin, 8:482).

Beberapa ulama yang mengarang kitab kumpulan dosa-dosa besar, seperti Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair, demikian pula Al-Haitami dalam kitabnya Az-Zawajir ‘an Irtikab Al-Kabair menyebutkan bahwa salah satu diantara dosa yang masuk daftar dosa besar adalah mencukur atau menipiskan bulu alis. Karena terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Allah melaknat para wanita yang mencukur bulu asli di wajahnya, seperti bulu alis, meskipun itu untuk tujuan kecantikan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/19922-hukum-merapikan-alis.html

***

Demikianlah, para korban perintah setan telah melakukan perbuatan2 terlaknat, karena setan memerintahkan untuk mengubah khalqalLah (ciptaan Allah). Bahkan sebagian orang ada yang berani mengubah agama Allah, misalnya Islam yang sudah sempurna, masih dikotak-katik, lalu diubah jadi Islam Liberal, Islam Nusantara dan sebagainya… Na’udzubillahi min dzalik!.

***

Kembali ke mengubah lombok atau cabe dengan cara dicat, itu juga termasuk lakon mengubah ciptaan Allah dan untuk menipu.

Kenapa itu dilakukan?

Karena, konon cabe rawit merah harganya 60 ribu per kilo, sedang yang bukan merah hanya 30 ribu.

Waduh, sebenarnya ini penipuan yang serius juga secara agama, karena sudah mengubah ciptaan Allah dalam rangka menipu. (Berbeda dengan misalnya mengolah kayu jadi kursi, meja dan sebagainya, itu justru memanfaatkan kayu untuk kepentingan manusia. Itu kreatifitas yang bagus, insyaAllah. Dan bukan bermotif untuk menipu). Namun apa saking banyaknya penipu di Desa Sering Gendro pimpinan Lurah Abangan ini hingga seakan lakon manusia yang menipu itu bukan masalah yang dianggap besar lagi ya?

Sampai2 dikabarkan bahwa anak Pak Lurah disebut dalam kasus rangkaian korupsi Bansos untuk masyarakat karena ada pandemi corona pun beritanya sayup2. Padahal itu menyangkut ketidak manusiawian yang angat tinggi. Lha wong santunan untuk penderita atau yang terdampak derita pandemi kok ya tega2nya dimalingi yang kabarnya secara ramai2 bahkan yang telah tertangkap adalah pembantunya Pak Lurah. Benar2 ngisin-isini (sangat memalukan) itu. Dan itu dari golongan abangan (maksudnya yang biasa pakai baju abang/ merah).

Tulisan ini sebenarnya hanya ingin mengemukakan keprihatinan. Sekalinya ada yang kreatif, bukannya positif, eh malah nambahi jenis2 tipu menipu yang sudah beraneka macam jenisnya. Sampai cabe yang merupakan bumbu masakan atau perlengkapan untuk lauk pun diubah warnanya dengan cat yang membahayakan ketika dimakan. Kalau diterus-teruskan yang model beginian, apa tidak takut murkanya Allah terhadap penduduk Desa Sering Gendro ini secara keseluruhan?

Ingatlah kaum Nabi Syu’aib, diingatkan jangan curang dalam takaran dan timbangan, lalu ngeyel, maka diazab Allah Ta’ala, dan diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Hud : 94-95 yang bunyinya,

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (94) كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ

“Dan tatkala datang azab Kami (Allah). Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa”. (Terjemah
Al-Qur’an Surat Hud : 94-95(.

Azab yang nyata telah dikisahkan dengan wahyu, mengenai orang yang curang mengenai takaran dan timbangan.

Lhah, di Desa Sering Gendro ini kecurangan, penipuan, kebohongan, merajelela dengan aneka jenis2nya. Kecurangan dalam hal takaran dan timbangan seakan merata. Sampai2 kadang jembatan yang sedang diresmikan oleh para pejabat, dengan cara upacara gunting pita (na’udzubillah kalau sampai pakai sesajen sembelihan kepala kerbau dan sebgainya berarti merupakan perbuatan syirik/ kemusyrikan akbar/ besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena minta keselamatan kepada selain Allah Ta’ala) tahu2 ketika para pejabat dan istri2 mereka berjalan di atas jembatan yang baru itu sebagai tanda peresmian, ambrollah jembatan itu dan langsung mereka tercemplung ke air… (silakan saja cari berita2 macam itu di mbah google dan semacamnya). Itu di antaranya akibat kecurangan yang melekat, kait berkait antara para pejabat dan pemborong, hingga bahan bangunannya tidak memenuhi syarat, karena biayanya dikorupsi ramai2. Ambrollah jembatan yang baru saja jadi dan sedang diresmikan itu. Nah!

Kemungkinan dengan masih adanya Umat Islam yang shalih, yang doanya diijabahi Allah Ta’ala, mereka beristighfar minta ampun ke Allah Ta’ala, dan masih ada yang mencegah kemunkaran2 (keburukan2), sehingga azab tidak langsung ditimpakan di negeri Sering Gendro ini, walaupun orang2 Islam yang taat agama ini tampaknya dibenci oleh mereka yang berbaju abang tersebut. Seharusnya mereka tahu dirilah, bukan malah mentang2 lagi di atas angin, lalu semena-mena.

Manusia2 curang, penipu, durjana dsb hendaknya sadar; tidak langsung diazab di dunia ini, karena masih adanya penduduk Muslim yang mereka itu beristighfar minta ampun ke Allah Ta’ala. Sedang Allah tidak mengazab suatu kampung yang penduduknya beristighfar.

Sadarlah wahai manusia2 durjana, jangan malah memusuhi Umat Islam ya…

Marilah kita berazam, bertekat bulat untuk jadi orang baik, bertekad mencegah kemunkaran lebih2 kemusyrikan dosa terbesar seperti yang dipimpin seorang ketua Bolo Nuklun yaitu ritual upacara kemusyrikan ruwatan untuk anak Pak Lurah beberapa waktu lalu. Seharusnya golongan Bolo Nuklun itu mengingatkan pemimpinnya yang menjerumuskan ke kemusyrikan semacam itulah. Dan bahkan kalau mampu jadi orang yang sangat berguna bagi sesama. Sudah saatnya kita hentikan ‘lomba saing2an dalam keburukan’ yang sudah sangat merisaukan ini. Mari kita mulai fastabiqul khairaat. Berlomba-lomba lah kalian dalam kebaikan2. Karena negeri Sering Gendro ini rupanya dilihat dari lakon2 manusia yang curang dsb itu sudah di tepi jurang benar2. Sudah sangat mengerikan dan mengenaskan.

Semoga Allah meridhoi kita semua yang taat patuh mengikuti aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya secara istiqomah dan tidak takut dengan aneka celaan dan bahkan cacian atau bahkan ancaman dan sebagainya. Ingat. Memang untuk jadi orang baik pun ada resikonya, apalagi jadi orang jahat, penipu dan pendusta; lebih besar resikonya di dunia dan lebih2 di akherat kelak. Itulah yang harus kita pikirkan benar2 bagi diri kita masing2.

Sekian. Alhamdulillah, shalawat dan salam untuk Rasulillah, para sahabat dan pengikut2nya yang setia sampai akhir zaman.

Wassalamu’alaikum warahmtullahi wabarokatuh.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 313 kali, 1 untuk hari ini)