Anekdot Lampiran Perlur Arak – Tuak Dicabut

Geger Perlur (peraturan lurah) soal pembolehan arak-tuak omben2 mabuk menjadikan Desa Sering Gendro gonjang-ganjing. Dedengkot Kampung Bali memuji Lurah Abangan (berbaju abang alias merah) yang membikin Perlur pembolehan arak-tuak itu dipujinya sebagai pemimpin yang arif terhadap kearifan lokal.

Weleh weleh, memuji apa menjilat…?

Dibalik itu ternyata tidak ada atau jarang yang memuji Lurah Abangan sebegitunya. Yang ada justru fikiran waras yang menyayangkan atas kengawuran Lurah Abangan dan bahkan mengecamnya. Di mana2. Sampai-sampai, para pembela Lurah Abangan kedodoran, hingga melontarkan kata-kata ala Fekai anti agama. Pada mabuk agama ya… pura2 ga’ doyan miras… kurang lebihnya seperti itu lontaran yang pating pecotot di medsos.

Sudah sampai sebegitu penjilatan dan pembelaan yang dilakukan sebagian pendukung Lurah Abangan, eh tahu2 Lurah Abangan malah mencabut Lampiran Perlur pembolehan arak-tuak yang telah dibikinnya dan diumumkan terang2an beberapa hari lalu itu. Keadaan pun jadi tambah ramai. Yang sudah terlanjur bersuara keras sampai menuduh penolak perlur itu sebagai orang yang mabuk agama, tiba2 jatuh tersungkur kehilangan muka. Tetapi tidak mau diam. Pikiran dan hatinya mendidih.

Tampaknya pembela arak-tuak yang mengutip perkataan mirip lontaran fekai anti agama itu menemukan celah untuk menutupi mukanya yang telah hilang. Maka dilontarkan seolah dia peduli banbget soal ancaman neraka. Sehingga dilontarkanlah: Mereka pura2 ga’ doyan miras, lalu menolak perlur yang membolehkan arak-tuak. Itu namanya munafik belaka. Lhah kan yang munafik itu justru tempatnya di kerak neraka, dan itu banyak orangnya kan?

Padahal, kata2 flintiran macam itu gampang saja dibalikin. Yang masih menolak pembolehan arak-tuak saja kau bilang di kerak neraka, lha yang membela perlur arak tuak terus tempatnya di neraka bagian mana?

Di sisi lain, ada yang seakan berpenampilan sholih, mengajak umat untuk sujud syukur atas kebaikan Pak Lurah Abangan yang telah mencabut lampiran perlur pembolehan arak tuak.

Buru2 ajakan orang itu disahut orang. Lha sampean ketika perlur pembolehan arak tuak jadi ramai, sampean tidur lagi mingkem. Lha kok ketika dicabut langsung siuman?

Ada juga yang nyahut: Sur, perlur yang mencabutnya itu nomor berapa? Kayak ga’ tahu aja lagak lagu Bapak yang satu itu, kalau sebatas di bibir mah sudah banyak yang keluar dari bibir beliau belum tentu nyata…

Para pakar di Desa Sering Gendro ada yang memandang dikeluarkannya perlur arak tuak itu untuk meredam masalah kerumunan yang menimpa Pak Lurah, masalah anak Pak Lurah yang disebut konon terkait kasus pengentitan Bansos, Masaah bancaan Bansos oleh wong2 berbaju abang, masalah dibunuhnya 6 warga Muslim dan aneka masalah. Sedangkan pencabutan perlur arak tuak itu juga hal sebagian belaka, karena peredaran Miras dan bukan dimasukkan dalam daftar yang dilarang impor arak tuak justru ada di UU Cipakerja. Makanya UU Ciptakerja itu ya harus dihapus. Ada beberapa UU yang memang bukan demi kepentingan masyarakat tapi tampaknya demi kepentingan entah siapa yang hanya untuk mengumbar nafsu kapitalisme liberalisme. Maka selama itu masih ada, justru permainan2 model perlur arak tuak itu merupakan mainan baru yang kapan2 bisa dimainkan dengan lebih bisa mengosak-asik rakyat. Ga’ percaya? Ya ga’ apa-apa…

Ilustrasi foto/rpblk

(nahimunkar.org)

(Dibaca 254 kali, 1 untuk hari ini)