Anekdot: Meniru Solidaritas Tikus?


Ilustrasi. Bahaya Ruwatan Kemusyrikan. Foto/ ytb -jurnalistikislami.

NU 1930 Haramkan Sedekah Bumi (Adat Sesajen), NU 2020 Usung Kemusyrikan Pimpin Ruwatan Gibran Calon Walikota Solo
https://www.nahimunkar.org/nu-1930-haramkan-sedekah-bumi-adat-sesajen-nu-2020-usung-kemusyrikan-pimpin-ruwatan-gibran-calon-walikota-solo/

***

Desa Sering Gendro pimpinan Lurah Abangan (berbaju abang/ merah) terkena musibah wabah corona alias covid-19 yang memang mendunia. Jalanan relatif tidak macet seperti biasanya, karena banyak yang bekerja cukup dari rumah secara online, tidak perlu ngantor kecuali sesekali. Bahkan murid dan mahasiswa serta guru dan dosen pun belajar- mengajarnya dari rumah, online. Hingga jalanan relatif tidak macet.

Hanya saja, ramainya macam2 persoalan justru bertalu-talu mencuat. Ini dan itu bisa dijadikan isu untuk mencuat hingga ramai seantero nasional Desa Sering Gendro itu. Bahkan sepertinya ‘petugas2 khusus’ pembuat isu untuk mengalihkan isu penting agar tidak terendus pun lebih sibuk super sibuk. Hingga isu2 yang belum pernah tampil pun tampil menggema di mana2.

Itu sebenarnya musibah yang entah korbannya siapa dan yang sukses siapa, tapi keadaan Desa Sering Gendro semakin banyak gendro2 (kegaduhan2) yang tak perlu.

Walau jalanan relatif tidak macet, namun banyak juga yang selama musibah Corona ini tidak pulang kampung. Tidak bisa melihat kampung yang sudah dirindukan selama 10-an bulan.

Salah satu saudara di desa mengabarkan kepada saudaranya di kota yang sudah lama tidak pulang ke Desa.

+’Kang, di desa banyak tikus. Hama tikus lagi menggila di sini… sawah2, ladang, kebun, bahkan rumah2 di mana2 banyak tikus…’

-Apa tidak digropyok rame2? Tanya saudaranya yang di kota lewat telepon ketika lagi komunikasi itu.

+’Ya, kadang2 digropyok… tapi aneh… begitu ada tikus mati karena digropyok, malah besuknya datang tikus2 yang banyak, entah dari mana, kita tidak tahu… Itu benar-benar aneh. Padahal, manusia saja ketika ada yang meninggal di musim wabah corona ini, jarang2 yang melayatnya, menta’ziyahinya. Eh, malah tikus, kalau ada yang mati justru tikus2 ramai2 pada datang… aneh kan? Mungkin manusia agar meniru tikus, barangkali?’ ucap yang di desa.

-Wah aneh tenan! Apakah itu merupakan solidaritas (setia kawan) model tikus ya? Yang jelas, musibah hama tikus itu dari Allah Ta’ala, agar manusia introspeksi diri, mengoreksi dosa2nya, apalagi dosa besar bahkan terbesar yakni kemusyrikan seperti ruwatan sesajenan dan sebagainya yang kini malah diusung oleh ketua ormas Islam terbesar di Desa Sering Gendro ini dalam rangka membuang sial (sukerto) katanya, ala kemusyrikan ruwatan (yang mintanya kepada Betoro Kolo, bukan Allah Ta’ala), agar anak Lurah Abangan yang mencalonkan diri sebagai bayan dusun Surokerto itu selamat dan sialnya (sukertonya) hilang, katanya. Musibah berupa hama tikus Itu sangat ringan sebenarnya kalau Allah hanya memberi cobaan berupa hama tikus. Karena ormas Islam mengusung kemusyrikan ruwatan, itu jelas2 penentangan terang2an terhadap Islam tapi atas nama ormas Islam. Ngakunya Islam tapi malah mengusung dan menghidupkan kemusyrikan.

+’Wah saya kurang tahu soal itu ya. Yang jelas, hama tikus pun masih berlangsung, semoga tidak menjadi-jadi dikirim musibah yang lebih besar lagi… karena memang tingkah polah manusia2 di desa Sering Gendro ini dalam menentang Islam memang sudah sebegitunya. Dan kalau diingatkan, belum tentu terima. Itulah masalahnya. ‘

***

Dari dialog semacam itu, ada yang terselip sesuatu yang bikin jengah. Solidaritas ala tikus malah tumbuh. Sedangkan solidaritas sesama sebangsa bahkan sesama muslim, bahkan ketika tetangganya mendapatkan musibah kematian, justru tampak hilang, terkikis.

Kalau masalahnya seperti ini, apakah perlu meniru solidaritas ala tikus? Tapi solidaritasnya kan dalam rangka merusak? Cari makan sambil merusak?

Ya, kalau seperti itu, berarti solidaritas ala tikus itu merupakan ibrah (pelajaran/ peringatan) bahwa manusia2 yang cari makan sambil merusak, bahkan merusak agama Islam, contohnya ormas Islam terbesar justru mengusung dan menghidupkan kembali kemusyrikan ruwatan, itu adalah cari makan sambil merusak Islam. Itu jauh lebih buruk dari sekadar solidaritas ala tikus yang cari makan sambil merusak tanaman. Na’udzubillahi min dzalik! (kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian).

{يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ} [البقرة: 9 – 12]

9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. [Al Baqarah:9]

10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. [Al Baqarah:10]

11. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. [Al Baqarah:11]

12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al Baqarah:12]

Faham?

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 129 kali, 129 untuk hari ini)