Anekdot: Modin Anyar Dibujuk Wong Kafir Walan Tardho




Ilustrasi Jalan Brebes-Tegal ambles. Foto: brebeskab.go.id./  15 Februari 2021

 

Amblesnya jalan raya yang longsor karena kena hujan ataupun gempa, insyaAllah masih mudah didandani dengan diurug dan dibangun lagi. Tapi kalau amblesnya iman, keyakinan dalam dada, ketika sudah hilang dari dada, berganti dengan kekafiran atas bisikan orang kafir dan sebagainya, maka belum tentu mudah dibangun lagi. Maka hati2, jangan malah mendekat-dekat pada bisikan yang bisa mengambleskan iman. Semoga saja kita bisa menjaga iman sampai akhir hayat, dan jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Muslim, yakni yang imannya benar. . Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Modin anyar di Desa Sering Gendro yang diangkat oleh Lurah Abangan (berbaju abang/merah) dikenal sebagai penggerak njagain rumah2 pemujaan wong kafir walan tardho.

Entah itu mengikuti jejak siapa, tampaknya dia mangkreng di pemahaman semacam itu, hingga sebagian golongan dia yang masih sayang2 kepada Islamnya mengharamkan cara macam itu. Soalnya sudah ada ayat tegas: Lakum diinukum waliyadiin. Bagi kalian (wong2 kafir) agama kalian, dan bagiku (wong Islam) agamaku (Islam).

Gerakan yang tadinya dia pimpin itu bahkan menunjukkan ketidak sukaannya terhadap pengajian2 Islam yang dianggap tidak sesuai dengan pemahaman dia dan seperkoncoan yang melindungi aneka macam tradisi yang belum tentu sesuai dengan ayat suci dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga gerakan dia dan seperkoncoannya itu menampakkan diri sangat benci kepada yang menegakkan ayat-ayat suci dan sabda Nabi secara murni dan konsekuen, sebaliknya justru sangat membela dan ngayomi terhadap para perusak Islam sampai yang sudah difatwakan sesatnya bahkan murtadnya oleh para ulama tingkat dunia. Misalnya aliran sesat Ahmadiyah yang jelas2 memiliki Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad, dan aliran sesat syiah (rafidhah) yang jelas2 terbukti di pengadilan resmi bahwa mereka menganggap Al-Qur’an tidak murni lagi, tapi malah oleh Modin anyar (yang entah masih cinta Islam atau tidak itu) justru sesumbar mau melindungi firqoh perusak2 Islam (alfiroqud dhoollah wal hadamah) itu.

Bahkan bukan hanya terhadap aliran2 sesat perusak dan pemalsu Islam, dia pasang badan untuk membelanya. Malahan mumpung diangkat jadi modin, tampaknya dia sengaja menunjukkan dirinya lebih akan dekat lagi dengan pihak kafir yang dalam Al-Qur’an disebut walan tardho… (tidak bakalan rela terhadap Umat Islam kecuali bila Umat Islam mengikuti keyakinan mereka. Lihat QS Al-Baqarah: 120). Dan modin anyar itupun buru2 sowan datang ke pusat penyembahan kaum walan tardho itu, dan dibisiki agar aturan yang dibuat oleh para menteri soal pendirian rumah ibadah itu diubah (sesuai kemauan orang kafir walan tardho tersebut tentunya).

Tidak berapa lama kemudian, Modin anyar ini dibisiki lagi oleh pihak walan tardho itu, agar sang modin mengubah pelajaran Islam, yang dinilai menyinggung pihak wong kafir ataupun kaum walan tardho.

Nah di situ jelas sekali benarnya ayat walan tardho tersebut, dan langsung dibisikkan ke Modin anyar itu, agar dia seperti kerbau yang dicokok hidungnya untuk diblusukkan sesuai dengan kemauan kaum walan tardho.

Resiko dari bisikan itu, bila Modin anyar itu lebih pilih mengikuti desakan kaum walan tardho tersebut, maka jelas2 berkhianat terhadap agamanya (Islam), yang hal itu sama sekali Modin anyar itu tidak punya hak sedikitpun untuk mengutak-katiknya, apalagi mengubah sesuai dengan kemauan kaum walan tardho.

Mengenai Islam, apalagi tingkatnya hanya Modin anyar (yang oleh sebagain orang yang tak suka disebutnya centeng gereja). Lha wong Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jelas2 Utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi yang jadi penghulunya para anbiya’ wal mursalin saja diancam keras oleh Alah Ta’ala bila berani mengutak-atik Islam. Silakan baca firman Allah Ta’ala ini:

{ وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47) وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (48) وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ (49) وَإِنَّهُ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكَافِرِينَ } [الحاقة: 44 – 50]

44. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, [Al Haqqah:44]

45. niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. [Al Haqqah:45]

46. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. [Al Haqqah:46]

47. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. [Al Haqqah:47]

48. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. [Al Haqqah:48]

49. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). [Al Haqqah:49]

50. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). [Al Haqqah:50]

الوجيز للواحدي (ص: 1130)

{ولو تقول علينا بعض الأقاويل} يعني: النبي صلى الله عليه وسلم لو قال ما لم يُؤمر به وأتى بشيءٍ مِنْ قِبَل نفسه

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, [Al Haqqah:44] maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seandainya berkata sesuatu yang tidak diperintahkan dengannya dan membawa sesuatu dari arah dirinya sendiri, (maka langsung diancam oleh Allah Ta’ala):

niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.

Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu [Al Haqqah: 45, 46, 47].

Nah! Nabi Utusan Allah Ta’ala saja diancam sekeras itu apabila berani mengadakan sesuatu dari dirinya sendiri atas nama (agama) Allah. Apalagi manusia biasa yang bukan nabi. Apalagi malah mengikuti bisikan orang kafir, misalnya. Betapa lebih besar dan dahsyat lagi ancamannya.

Wahai Pak Modin anyar. Silakan dicamkan benar2 ayat-ayat ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala itu. Bahkan silakan baca baik2. Kakek sampean, Mbah Kyai Bisri Musthofa (ayahnya ayah sampean) telah berjasa kepada Umat Islam ini menyusun Kitab Tafisr Bahasa Jawa, Al-Ibriz, 30 Juz dan dipelajari di pesantren2 dan Umat Islam di Jawa pada umumnya. Jasa baik kakek sampeyan itu jangan dikhianati dengan malah mengikuti bisikan pihak lain yang sangat berat ancamannya dalam ayat2 suci itu.

Monggo disimak tafsir tulisan Kakek sampeyan baik2, agar kita mampu menghargai warisan ilmu yang telah digoreskan dalam kitab tafsir yang berharga itu.

Semoga peringatan ini bermanfaat bagi penulis dan juga Pak Modin anyar serta Umat Islam pada umumnya.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 495 kali, 1 untuk hari ini)