Anekdot: Modin Anyar Mau Perangi Populisme Islam


 

Modin anyar diangkat oleh Lurah abangan (berbaju abang/ merah) di Desa Sering Gendro (DSG) bersama 5 punggawa baru, baru2 ini.

Modin anyar bernama Mutioro ini seorang pentolan Bolo Nuklun Mudo yang dikenal sering membubarkan pengjian2 Islam di mana2. Tapi pihaknya mengaku bahwa Islamnya lah yang paling sesuai dengan Desa Sering Gendro. Di antara amaliyahnya adalah suka njagain grejo2 terutama di acara natalan. Makanya sampai ada yang bilang, Lha “satpam grejo’ kok diangkat jadi modin.

Tiba2 modin anyar ini mbengok (teriak) sekencangnya, mau memerangi populisme Islam.

Serentak sontak masyarakat DSG terkejut. Lalu mereka menghubungi mbah google, cari makna populisme. Ketemu di sana begini:

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):

Populisme/ po·pu·lis·me/ n paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil (lihat KBBI).

Lha kalau ditambah lafal ‘Islam’ ya tinggal disematkan saja Islam itu di belakang makna tersebut.

Kalau maknanya seperti itu, kenapa modin anyar ini mau memerangi populisme Islam ya?

Warga DSG jadi ramai. Ada yang mempertanyakan ‘jane (sebenarnya) agamanya modin anyar ini apa ya?

Yang lain malah nantang modin anyar: ayo debat sama saya soal populisme Islam, debat terbuka di depan masyarakat DSG. Berani ga’?

Di medsos2 DSG pun ramai, bahkan sampai ada yang bilang, saya yaqin haqqul yaqin janjane (sejatinya) modin anyar ora mudeng (gagal faham) soal istilah populisme itu sendiri. Bahkan dia juga gagal faham soal Islam.

Ha? Gagal faham tapi mbengok (teriak) sekencang-kencangnya?

***

Penulis anekdot ini hanya ingin berkisah watu mendengarkan pengajian dhuha hari Ahad di Balai Muhammadiyah Solo Jawa Tengah waktu tahun 1970-an.

Entah saat itu sudah ada orang besar yang bicara tanpa tahu duduk soalnya, atau bahkan ada orang bicara soal agama namun tidak tahu duduk perkaranya. Yang jelas, dia mencontohkan dengan anekdot, kurang lebihnya begini.

Di deretan warung templek pinggir jalan, ada warung soto. Dari dalam warung ada seorang lelaki setengah tua menyibak kain penutup warung sambil keluar, sambil menyeka mulutnya pakai kacu (sapu tangan, dulu belum ada tisu), tampaknya berwajah sumringah seperti habis makan segar sekali. Orang itu menyahut orang di dalam warung dengan ucapan: Mungkin!

Lalu seorang yang memperhatikan penampilan lelaki yang keluar dari warung itu gantian masuk warung soto pinggir jalan ini.

“Bikinin soto yang mungkin Bu!” kata lelaki ini sambil mulai duduk di dingklik tempat duduk warung soto ini.

Pemilik warung mau tertawa, tapi takut dosa! Maka dibikinlah soto. Sang penjual soto ini memperkirakan, soto yang mungkin itu yang sambalnya banyak. Maka diberilah sambal banyak di soto itu, dan diberikan ke lelaki yang baru saja pesan soto ini.

Begitu lelaki ini mulai menyantap hidangan ‘soto yang mungkin’ yang dia pesan, langsung gebes2, kepedesan, sambil bilang: sotonya kemungkinan Bu!…

***

Demikianlah, kisah yang disampaikan oleh sang muballigh di Solo waktu itu tahun 1970-an. Ternyata kini ada modin anyar yang “mungkin” modelnya seperti pemesan soto yang ‘mungkin” itu!

Nah!

Ilustrasi. Foto suaracom/ theworldnews.net

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 483 kali, 1 untuk hari ini)