Anekdot: Pamong bergaya delikan (petak umpet) berjurus nlengong dan ngeles

 

Pamong di desa Sering Gendro memainkan aneka kebijakan model delikan atau permainan petak umpet.

Jurus yang dipakai adalah nlengong, menacri celah lengahnya masyarakat, lalu diadakan aksi untuk kongkalikong dengan mbok rondo dan rekanannya.

Aksi-kasi nlengong curi kesempatan itu kadang dan sering konangan/ ketahuan, maka sudah disiapkan jurus ngeles. Akibatnya bertele-tele, tidak membawakan hasil untuk masyarakat, dan senantiasa tujuannya untuk mencari keuntungan bagi para pamong dan konco-konco kroni grup nlengong itu belaka.

Di saat masalahnya bertele-tele itu pula, pamong dan grup nlengong sudah siap beraksi untuk menlengong masyarakat lagi. Lalu bertele-tele lagi, hasilnya hanya kekalahan bagi masyarakat karena dikalahkan oleh aneka cara ngeles dan rekadaya lainnya. Demikian seterusnya. Dan yang paling gawat, mereka tidak perduli, menlengong yang diaksikan itu dalam perkara yang menabrak agama atau tidak. Seakan apa yang diaksikan serba halal belaka. Itu celakanya. Hingga orang yang tak suka menyebutnya, itu cara-cara PKI Komunis yang ga’ perduli agama.

Walaupun pamong Desa Sering Gendro itu memakai cara delikan/ permainan petak umpet, namun tidak menghasilkan rasa gembira dan terhibur. Adanya justru banyak pihak merasa dirugikan, bahkan banyak yang hidupnya jadi kurang jelas nasibnya. Itu menimbulkan banyak yang mengkel dan jengkel terhadap permainan delikan yang dimainkan para pamong bersama mbok rondo dan grup2 nlengong yang belum tentu hidupnya bermanfaat bagi sesama itu. Padahal sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Lha ini malah bikin mangkel dan sengsara.

Masih agak mending bila itu hanya berupa permainan belaka bagi anak2 yaitu yang di Jawa disebut delikan, sedang di Jakarta disebut ‘petak umpet’.

Karena dalam prmainana anak2 itu masing-masing terhibur dan suka ria, asal tidak main curang dan mengambil keuntungan untuk diri dan kelompoknya belaka.

Bagi yang mau baca tentang permainan delikan atau petak umpet, silakan.

***

Delikan, Permainan Petak Umpet Khas Jawa yang Bikin Lupa Waktu

Delikan menjadi salah satu dolanan tradisional paling populer di Jawa. (Michelesammons)

Petak umpet adalah permainan anak internasional yang dikenal sebagai delikan di Jawa. Kamu pernah memainkannya? Permainan sejuta umat tersebut memang cukup populer, dengan aturan yang sederhana; sembunyi dan cari!

Inibaru.id – Petak umpet, siapa tak mengenalnya? Entah siapa yang memainkannya kali pertama, tapi dolanan tradisional ini konon telah dimainkan sejak abad ke-2 dengan nama Apodidraskinda. Di Indonesia, orang Sunda menyebutnya Ucing Sumput, sedangkan masyarakat Jawa menamainya Delikan, meski ada yang menyebut nama lain.

Permainan yang dikenal luas sebagai Hide and Seek ini di Korea Selatan disebut Sumbaggoggil. Hm, banyak nama tapi dengan satu aturan yang universal, yakni sembunyi dan cari!

Di Jawa, petak umpet bisa dilakukan dengan melibatkan minimal dua pemain, meski bakal lebih seru jika melibatkan lebih dari tiga orang. Berbeda dengan dolanan outdoor tradisional lain di Jawa yang dilakukan saat malam menjelang, delikan cuma boleh dimainkan sebelum senja tiba.


Hompimpa yang mengawali permainan delikan. (Agunkzscreamo.blogspot)

Untuk memainkannya, semua pemain berkumpul lalu melakukan hompimpa, semacam undian, untuk menentukan siapa yang menjadi penjaga benteng sekaligus pencari pemain lain yang bersembunyi. Saat penjaga benteng menutup mata dan menghitung sesuai kesepakatan, pemain lain mulai mencari tempat aman untuk bersembunyi.

Begitu hitungan selesai, permainan pun dimulai. Dalam pencarian, saat penjaga menemukan pemain yang ndelik (bersembunyi), dia harus segera menuju benteng sembari meneriakkan nama pemain itu. Masing-masing daerah di Jawa punya sebutan sendiri saat tangan menyentuh benteng. 

Penjaga harus beradu lari dengan pemain yang ketahuan, karena kalau pemain tiba lebih dulu, dia lolos dari kemungkinan menjadi penjaga selanjutnya. Penjaga harus mencari semua pemain atau menyerah dan mengatakannya keras-keras.

Pemain yang “tertangkap” penjaga kemudian melakukan hompimpa untuk menentukan siapa penjaga selanjutnya. Begitu seterusnya!

(MG26/E03)/ inibaru.id, Jumat, 15 Nov 2019 17:23

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 242 kali, 1 untuk hari ini)