Jangan salahkan masyarakat bila ada yang menilai, mumpung jadi pejabat, yang penting jalan-jalan (dan hura-hura?).

Kata mantan Mantan Menko Perekonomian era Gus Dur, Rizal Ramli, kebanyakan para pejabat itu senangnya melakukan perjalanan.
Buktinya, anggaran jalan-jalan saja sampai ditingkatkan empat kali lipat,

“Biaya perjalanan dinas jaman SBY itu, naik 4 kali lipat, dari Rp 8 triliun menjadi Rp 32 triliun. Anggaran perjalanan ini sangat jomplang bila dibanding dengan anggaran pertanian yang hanya Rp 15,5 triliun,” ujar Rizal.
Coba saja anggaran jalan-jalan itu dipangkas, lalu untuk diberikan kepada anak-anak SD agar gizinya baik, hingga jadi anak-anak yang cerdas.

Mending kalau dengan anggaran jalan-jalan sangat besar itu mereka mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Tidak. Yang ada justru: kondisi ekonomi Indonesia makin kelam ke depan. Pertumbuhan ekonomi justru mengalami kemunduran terus, dari target 7% malah kini menjadi 5%.

Dengan kenyataan seperti itu, kalau boleh berkomentar, sepertinya Demokrasi berdekatan dengan akronim plesetan (yang geDe lemoe yang kecil dikerasi/ yang besar gemuk alias makmur dan bersenang-senang, yang kecil yaitu rakyat dikerasi dan dizalimi). Sudah begitu, ujung-ujungnya ya gampang saja, tinggal ceikik saja. Apa yang dicekik?
Naikkan pajak ini dan itu. Gampang kan. Paling hanya pada pingsan, ‘kali.
Semoga saja tidak demikian, dan barokah dari Allah dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya yang selama ini banyak yang jadi pelengkap penderita atas kedurjanaan makhluk yang berhati tega.

Inilah beritanya.
***

Anggaran Perjalanan Dinas Jomplang, Anggaran Dinas Presiden Rp 32 Triliun, Sektor Pertanian Hanya Rp 15,5 Triliun

Kamis, 21/08/2014 – 22:11

JAKARTA, (PRLM).- Mantan Menko Perekonomian era Gus Dur, Rizal Ramli mengingatkan anggaran perjalanan dinas dalam RAPBN 2015 masih cukup besar. Jumlahnya jomplang dibanding dengan anggaran pertanian. Menyoroti masalah perjalanan dinas yang begitu tinggi.
“Biaya perjalanan dinas jaman SBY itu, naik 4 kali lipat, dari Rp 8 triliun menjadi Rp 32 triliun. Anggaran perjalanan ini sangat jomplang bila dibanding dengan anggaran pertanian yang hanya Rp 15,5 triliun,” ujar Rizal dalam diskusi “Membedah RAPBN-2015”, bersama Prof Hendrawan Supratikno dan pengamat akademisi Universitas Pelita Harapan (UPH), John Riyadi, di Jakarta, Kamis, (21/08/2014).
Menurut Rizal, kebanyakan para pejabat itu senangnya melakukan perjalanan. Tentu hal ini harus menjadi perhatian pemerintahan mendatang. “Karena itu, sebaiknya perjalanan dinas ini dipotong Rp10 triliun, lalu sebagian dananya untuk memperkuat anggaran pertanian. Sehingga tinggal Rp 22 triliun,” tukasnya.
Atau sisa anggaran perjalanan dinas yang masih ada, lanjutnya, bisa digunakan untuk mencerdaskan anak-anak SD di Indonesia. “Setiap satu anak mendapat satu telur setiap hari, sehingga anak-anak SD ini bisa pintar nantinya, karena mendapat protein,” imbuhnya.
Terkait postur RAPBN 2015 yang saat ini dirasa sangat berat bagi presiden mendatang, karena itu perlu direvisi demi merealisasikan sejumlah program yang menjadi prioritas. Kalau tidak dibongkar, maka rakyat takkan percaya, karena tak punya terobosan canggih. Jokowi diperkirakan hanya bertahan dua tahun,” kata Rizal.
Dengan membongkar RAPBN tersebut, kata Rizal, maka pertumbuhan ekonomi nasional tidak hanya akan naik menjadi 5%. Namun juga bisa mencapai 7%. “Bahkan dalam tahun berikutnya bisa mencapai double digit,” tegasnya.

Apalagi posisi RAPBN 2014 ini, lanjut pendiri Econit ini, saat ini seperti perangkap batman. Karena APBN saat ini dalam kondisi quatro defisit. “Defisit perdagangan, transaksi berjalan, neracara pembayaran dan defisit anggaran. Kebanyakan masalah di negeri kita ini kan mis managemen,” terangnya.
Sementara itu, akademisi UPH, John Riyadi mengakui kondisi ekonomi Indonesia makin kelam ke depan. Pertumbuhan ekonomi justru mengalami kemunduran terus, dari target 7% malah kini menjadi 5%. “Begitu juga bank-bank yang mengalami likuiditas ketat. Sehingga pengusaha kesulitan untuk melakukan investasi,” terangnya.

Diakui John, indikator ekonomi nasional saat ini cukup berbahaya. Makanya, harus cepat membenahi diri. “Saya perkirakan dalam tempo 6-9 bulan ini suku bunga di AS akan naik. Lihat saja dari nota-nota yang beberkan The Fed. Kalau suku bunga naik, maka bukan tidak mungkin rupiah sampai Rp13.000. Target mereka seperti itu,” pungkasnya. (Sjafri Ali/A-88)*** pikiran-rakyat.com
***

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, artinya, “Apabila ada hamba atau pemimpin yang diamanahi mengurusi umat lalu ia tidak berusaha keras untuk membantu dan tidak pula setia kepada umat, maka Allah mengharamkan surga baginya.” (Riwayat Muslim).
Perintah kepada para pemimpin agar tidak berbuat kejam dan zalim kepada rakyatnya merupakan pilar membangun suatu bangsa. Kezaliman yang dimaksud diantaranya penindasan dan perampasan hak-hak rakyat. Pemimpin juga diperintahkan untuk menyeru dan mencegah terjadinya perbuatan munkar. Bukan hanya diam melihat keterpasungan rakyatnya dalam penderitaan, sementara dirinya hidup dalam kemewahan.
Bahkan, Rasulullah pernah berdoa, yang artinya, “Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku (memimpin rakyat) lalu ia bersikap kejam, maka kejamilah dirinya. Dan barang siapa memegang urusan umatku dan ia bersikap sayang, maka sayangilah dirinya.” (Riwayat Muslim).
Pelajaran dari hadis tersebut diantaranya; Rasulullah meminta kepada Allah untuk memberi balasan yang setimpal kepada apa yang telah dilakukan para pemimpin. Selain itu, bentuk perhatian Rasulullah kepada urusan umat menjadi teladan bagi kita semua dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin. Jangankan kepada rakyat, hidup bertetangga saja kita diperintahkan untuk saling peduli dan saling memperhatikan.
Menjadi seorang pemimpin tidak semestinya meninggalkan kesederhanaan dan kepedulian terhadap orang lain. Pemimpin yang bijak tentu akan berlaku santun kepada siapa saja, terlebih-lebih kepada orang yang mengikutinya. Dalam hal ini, Allah telah memerintahkan kepada setiap pemimpin untuk merendahkan diri di hadapan rakyat atau orang yang dipimpinnya, terutama orang-orang yang beriman. (QS. Asy-Syuara: 215).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 256 kali, 1 untuk hari ini)