Previous Post
Tweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on Facebook
Read on Mobile

Anies Baswedan, JIL dan Syi’ah

Anies Baswedan Bangga Naik Mimbar Gereja/ suara-islam.com


by

Apakah kiprah/peran Anis Baswedan berimplikasi Positip ( penguatan ) terhadap Peningkatan/Dominasi Umat Islam ( Ahluss sunnah ) di Indonesia dalam bidang Ekonomi, Politik dan Syariat, atau sebaliknya bernilai Negatip (hanya tameng pihak/kelompok lain/minoritas) ? jawaban tersebut harus Ilmiyyah dan dengan data/fakta. Silahkan baca data dan fakta dibawah ini.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ»

“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad,Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Anis Baswedan lebih antusias menunjukkan simpati/ pujiannya terhadap syiah, memberi panggung di Paramadina. Pada saat yang sama menunjukkan ke khalayak  permusuhan terhadap wahhabi dengan cepat merespon penarikan buku ” dengan konten tuduhan terhadap wahhabi” artinya menurut dia syiah “lebih Islam/syar’i” dari Wahhabi?! Mungkin lingkungan sehari-hari Anis Baswedan bersama tokoh-tokoh/pegiat syiah.

Anis Baswedan: Syiah Indonesia seumur Islam di Indonesia

Anis baswedan dalam pembukaannya mengatakan bahwa tidak ada yang baru mengenai perbedaan dan keragaman di Indonesia. Syiah telah ada sejak Islam masuk di Indonesia. Yang mesti kita pertanyakan adalah mengapa tindak kekerasan itu baru terjadi akhir akhir ini bukan setahun yang lalu, bukan sepuluh atau seratus tahun yang lalu. “Disinilah kita akan menemukan jawaban yang lebih mendekati kebenaran ketimbang membahas perbedaan teologi syiah”, tandasnya.

[http://www.icc-jakarta.com/anis-baswedan-syiah-seumur-islam-di-indonesia/]

 Anies Baswedan‏@aniesbaswedan

23) Jika beda

sunni-syiah adalah sumber konflik maka harusnya wabah kekerasan itu ada seumur

islam di Nusantara #toleran

https://twitter.com/aniesbaswedan/status/203644245280702464

Dapat disimpulkan :

-penghujatan/pelaknatan terhadap Istri/Sahabat Nabi sejak awal Islam di Nusantara sudah ada ?

-ajaran/aqidah Syiah yang telah disesatkan/ dikafirkan oleh 4 Imam Mazhab sudah ada sejak awal Islam di Nusantara ?

-Perayaan Ghadir Qum berupa Pelaknatan terhadap Sahabat sudah ada sejak awal Islam di Nusantara ?

-berarti Ahlus Sunnah di Nusantara sejak awal sudah terbiasa/menerima ke tiga point diatas dan Syi’ah bagian dari Islam, supaya akur walau perilaku Syiah seperti 2 point pertama diatas?

Anies Baswedan: Ahmadinejad Perawakannya Kurus dan Kecil, tapi Tegas

Kamis, 29 Mei 2014 22:02

Cuplikan :

Rektor Universitas Paramadina ini pun mencontohkan sosok mantan Presiden Iran, Ahmadinejad yang memiliki perawakan kurus dan kecil, seperti Jokowi. Namun, Ahmadinejad dinilai memiliki ketegasan luar biasa.

“Oleh karena itu, jangan lihat perawakan seseorang, tapi lihat karakternya,” kata Anies. (*)
http://jateng.tribunnews.com/2014/05/29/anies-baswedan-ahmadinejad-perwakannya-kurus-dan-kecil-tapi-tegas

Seseorang Bersama yang Dicintai & Diidolakannya

https://abunamira.wordpress.com/2012/02/04/seseorang-bersama-yang-dicintai-diidolakannya/

Ahmadinejad: Sahabat Thalhah dan Zubair Telah Murtad

Dalam kampanye Pemilihan Presiden Republik Syiah Iran 2009 lalu, Mahmud Ahmadinejad, mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam adalah dua orang sahabat yang kembali ke ajaran Jahiliyah.

“Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!” kata Ahmadinejad.

Pemerhati aliran sehat di Indonesia, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menjelaskan, “Jadi Ahmadinejad mengatakan bahwa Talhah dan Zubair sudah murtad. Padahal mereka adalah dua sahabat nabi yang dijamin masuk surga.”

Menurut Ustadz Hartono, sapaan akrab beliau, hal gila tersebut dilakoni Ahmadinejad dalam rangka meraih simpati demi menyakinkan pendukungnya bahwa dia adalah seorang Syiah tulen.

“Ya samalah seperti di Indonesia, kalau ada pemimpin yang mau maju menjadi presiden dari kalangan abangan, maka untuk meyakinkan kelompok abangannya, dia akan menunjukkan bahwa dirinya abangan tulen,” tuturnya.

Hasilnya, Ahmadinejad, meraih simpati warga Syiah Iran yang merupakan mayoritas dan memenangkan pemilihan presiden kembali.

Ustadz Hartono mewanti-wanti umat Islam agar jangan tertipu dengan kesahajaan yang dilakukan Ahmadinejad. Karena dibalik kesahajaannya, Ahmadinejad adalah sosok penghina Islam.

http://news.fimadani.com/read/2014/11/10/ahmadinejad-sahabat-thalhah-dan-zubair-telah-murtad/

Siapa Sebenarnya Ahmadinejad? (1): Bernama Belakang Yahudi

https://votreesprit.wordpress.com/2012/10/09/siapa-sebenarnya-ahmadinejad-1/

Siapa Sebenarnya Ahmadinejad (2): Penghina Sahabat Nabi

https://votreesprit.wordpress.com/2012/10/17/siapa-sebenarnya-ahmadinejad-2-penghina-sahabat-nabi/

Siapa Sebenarnya Ahmadinejad (3-Habis): Seorang Syi’ah Rafidhah

Klaim Ahmadinejad soal Masjid Al-Aqsha. Tidak cukup hanya baik

https://votreesprit.wordpress.com/2012/10/18/siapa-sebenarnya-ahmadinejad-3-seorang-syiah-rafidhah/

Kritik Ahmadinejad, Aktris Iran Dicambuk 90 Kali

http://www.indopos.co.id/2011/10/kritik-ahmadinejad-aktris-iran-dicambuk-90-kali.html

Kamuflase Syiah di Gaza Dan al-Quds ( Palestina ) ! Ini Dia Pandangan Ahmadinejad Soal Masjid Al-Aqsa

http://lamurkha.blogspot.co.id/2015/05/kamuflase-syiah-di-gaza-dan-al-quds.html

Mengapa Kau Abaikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam?

Beliaulah yang HARUS engkau ikuti..

Allah Ta’ala berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١ [سورة آل عمران,٣١]

”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

(HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Yakin… Idolakan orang yang benar?? Semoga manfa’at

Twitter @IslamDiaries

***

Anies Baswedan Bangga Naik Mimbar Gereja

anies baswedan

Diberi kesempatan naik mimbar gereja, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan mengaku bangga karena merasa diberikan kehormatan untuk menyampaikan sambutan kepada jemaat di Gereja Sinar Kasih, Ambon, Ahad (25/1/2015) sore.

“Saya sering ke gereja. Saya sering berdialog, tetapi baru kali ini saya berdiri di mimbar gereja,” ungkap Anies seperti dikutip Kompas.com.

Anies mengaku baru pertama kali naik mimbar gereja, karena itu akan menjadi sejarah yang tak akan dilupakannya. Dia pun memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga gereja yang telah memberikan sebuah kehormatan dan sejarah baru baginya.

“Ini baru pertama kali saya berdiri di atas mimbar. Jadi, seumur hidup saya akan ingat selalu bisa berdiri di atas mimbar gereja ini,” ujarnya.

“Berdiri di mimbar gereja ini yang pertama, jadi pertama itu bukan kedua kalinya, pertama itu baru sekali,” kata Anies yang disambut tepuk tangan para jemaat.

Dalam sambutannya, Anies memuji masyarakat Maluku yang ia anggap mampu keluar dari kemelut konflik kemanusiaan yang pernah terjadi. “Konflik itu bukan barang baru, tapi yang sangat luar biasa masyarakat di Maluku mampu melahirkan kedamaian dengan caranya sendiri,” pujinya.

“Negeri kita ini sangat mejemuk dan satu unsur yang sangat penting bahwa kita adalah satu saudara. Yang luar biasa itu di Maluku kita bisa sama-sama menyaksikan hadirnya kedamaian,” kata Anies.

red:adhila/suara-islam.com/Senin, 26/01/2015

***

Hadang Aliansi Anti-Syiah, Cendikiawan Muslim Dunia

Deklarasikan Persatuan Islam 

[ mereka pro syi’ah ]

Sepertinya masih ada harapan buat muslim di Indonesia untuk menyuarakan perdamaian dan persatuan, setelah sebelumnya wajah ramah muslim Nusantara tercoreng oleh khotbah-khotbah kebencian yang dikampanyekan lewat deklarasi Aliansi Nasional Anti-Syiah; sebuah ironisme yang seolah menampilkan muslim Indonesia sebagai umat yang arogan dan anti perbedaan. Tapi syukur Alhamdulillah, masih banyak para cendekiawan muslim yang mata hatinya melek dan bernurani bening menyebarkan aura positif di persada negeri….

Cendekiawan Muslim Sepakati 10 Butir Deklarasi Jakarta

Sejumlah cendekiawan muslim dari berbagai negara yang difasilitasi KAHMI Nasional dan Universal Justice Network di Jakarta, Minggu (4/5/2014), menghasilkan 10 poin Deklarasi Jakarta. Deklarasi ini berisi kesepakatan untuk menjaga kesatuan umat Islam di seluruh dunia.

Deklarasi Jakarta dibacakan oleh Ketua Dewan Pakar KAHMI Laode Kamaludin dan musafir dan cendekiawan muslim dari Washington Imam Muh Al Asi. Deklarasi itu lalu ditandatangani hampir semua yang hadir.

Hadir dalam Pertemuan tersebut antara lain Presidium KAHMI Anies Baswedan, Citizen Internasional Dr Muhideen Abdul Kadir [ syi’ah? ], AM Fatwa [ abu2/gado2], Saleh Khalid [syi’ah], Ketua DPP Partai NasDem Kurtubi, Sekjen KAHMI Subandrio [syi’ah], Haidar Bagir [syi’ah], Hermansyah [pro syi’ah], Husain Heriyanto [syi’ah]. Para cendekiawan dalam pertemuan itu dengan tegas mengutuk berkembangnya virus kebencian sektarian dan konflik internal di dalam umat Islam yang telah menelan banyak korban tak berdosa di banyak belahan dunia, khususnya di negara berpenduduk mayoritas muslim seperti di Asia Selatan dan Barat [ sikap pro syi’ah /antek liberal].”Kami memahami virus kebencian sedang menyebar ke negeri-negeri Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Karena itu, kami, para cendekiawan muslim, sepakat kepada poin-poin dalam deklarasi ini untuk menghadapi dan menghapuskan virus kebencian sektarian dan meluasnya konflik internal di dalam umat Islam,” tutur Laode Kamaluddin.

Sepuluh poin Deklarasi Jakarta berisi pernyataan bahwa pembunuhan terhadap sesama manusia berdasarkan warna kulit, keyakinan, etnis, dan agama adalah haram dan bertentangan dengan syariah, mendukung definisi muslim sesuai dengan deklarasi “Pesan Amman”, [ bodoh, mereka belum baca dengan benar deklarasi AMAN ] perbedaan di internal umat tidak boleh berujung pada pernyataan ‘kafir’ dan ‘sesat’ terhadap sesama muslim, dan jika itu yang terjadi, perbuatan itu dianggap haram dan bertentangan dengan syariah.

Poin lainnya berisi pernyataan semua perbedaan di antara muslim harus diselesaikan dengan dialog dan konsensus seraya tetap menjaga kehormatan satu sama lain, aktif bersama-sama membangun dan menjaga hubungan di antara mazhab serta organisasi Islam yang berbeda dan menghadiri kegiatan satu sama lain sebagai cara membangun, menjaga, dan mengembangkan persaudaraan, mempromosikan dan menjaga harmoni di antara semua kelompok muslim melalui media cetak, elektronik, dan media sosial.

Deklarasi Jakarta juga merekomendasikan agar sekolah-sekolah mengembangkan silabus dan kurikulum yang mendorong perdamaian, persaudaraan, serta persatuan di antara semua anggota masyarakat muslim, mendesak pemerintah untuk mengembangkan dan mengimplementasikan undang-undang yang memerangi ujaran kebencian dan mendorong pemidanaan yang lebih efektif terhadap pelanggaran atas undang-undang tersebut, menyadari konflik sektarian adalah jebakan yang bertujuan untuk melemahkan umat Islam, dan kami harus mencerahkan umat tentang jebakan itu. Serta akan aktif memediasi semua kelompok muslim yang berselisih agar bisa melakukan rekonsiliasi.

Dari banyak yang hadir, ada beberapa yang tidak bersedia ikut menandatangani deklarasi.

http://lamurkha.blogspot.co.id/2014/12/anis-baswedan-jil-dan-syiah.html

THURSDAY, DECEMBER 18, 2014

***

Benarlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ»

“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad,Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

***

Untuk membantah apa yang disebut deklarasi Jakarta yang ditandatangani di antaranya beberapa orang terindikasi syiah dan  mendukung definisi muslim sesuai dengan deklarasi “Pesan Amman” (versi mereka), maka perlu kita simak artikel berikut ini agar tidak terseret ke pemahaman model orang-orang yang menyebut dirinya cendekiawan Muslim padahal terindikasi syiah itu.

***

Risalah Amman Tidak Melarang Pengkafiran terhadap Syiah

the Amman Messagge

Yang dilarang adalah: Pengkafiran hanya karena berbeda mazhab fiqh.

Sedang pengkafiran terhadap syiah yang memang aqidahnya jelas berbeda dengan Islam, maka tidak tercantum larangan di dalam Risalah Amman.

Aqidah syiah jelas berbeda dengan Islam, di antaranya:

  • Syiah memiliki Tuhan dan Nabi yang berbeda dengan Tuhan dan Nabi-nya kaum Muslimin, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi –seorang ulama rujukan Syiah- mengatakan,

وحاصله إنا لم نجتمع على إله ولا على نبي ولا على إمام، وذلك أنهم يقولون أن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وسلم نبيه وخليفته بعده أبو بكر. ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذاك النبي، بل نقول إن الرب الذي خليفته أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا.

Kesimpulannya: kita (Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah) tidak satu Tuhan, tidak satu Nabi dan tidak satu Imam. Pasalnya, Tuhan yang mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) akui adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya sepeninggal beliau, sedangkan kami (Syiah Imamiyah) tidak mengakui Tuhan yang seperti ini. Akan tetapi Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah bukanlah Tuhan kami, dan Nabi itu pun bukanlah Nabi kami. (Al-Anwar Annu’maniyyah, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi, jilid 2, hlm. 278, Mu’assasah Al-‘Alami Lil Matbu’at, Beirut, Lebanon.)

Dengan keyakinan seperti ini, Syiah keluar dari kelompok kaum Muslimin yang tidak boleh ditakfir.

Larangan takfir (mengkafirkan) yang tercantum dalam Risalah Amman hanya berlaku pada tiga kelompok kaum Muslimin, mereka itu; Asy’ariyyah, Sufi dan Salafi. Titik! Dan tidak disebutkan “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah”, tentu para ulama tersebut mempunyai pandangan yang tajam dan alasan yang kuat mengapa “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah” tidak dimasukkan dalam deretan kelompok yang tidak boleh dikafirkan. Teks inilah yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin.

Larangan takfir ini dilanggar oleh Syiah. Mereka justru mengkafirkan tiga kelompok di atas (Asya’ari, sufi dan salafi) dan seluruh kaum Muslimin yang tidak mengenal atau mengikuti imam zamannya (tentu yang dimaksud adalah 12 imam Syiah) maka ia mati jahiliyah, mati di luar Islam. (Lihat Emilia Renita Az, 40 Masalah Syiah, Buku Pedoman Dakwah IJABI, hal 98).

Kemudian larangan takfir juga berlaku untuk semua kaum Muslimin yang percaya pada Allah, meyakini Rasulullah, dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam. Sehingga yang berbeda atau menyalahi keyakinan ini –menurut Risalah Amman- maka larangan takfirnya tidak berlaku, atau dengan kata lain bisa masuk dalam kelompok yang bisa dikafirkan. (kata-kata yang tebal inilah yang merupakan batasan pembeda antara kelompok Islam yang boleh divonis kafir atau tidak, kelompok Islam yang lurus akidahnya atau menyimpang).

Inilah ulasannya.

***

Syiah Berlindung di Balik Risalah Amman

JUMAT, NOVEMBER 02, 2012  LPPI MAKASSAR

the Amman Messagge

 Menyambut Seminar Internasional “Persatuan Umat Islam Sedunia” di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia, Makassar, atas kerjasama dengan Kudebes Iran, Senin, 5 Nov 2012

Risalah Amman atau Amman Message adalah sebuah nota kesepahaman antar-mazhab dalam Islam yang ditandatangani oleh ratusan ulama lintas mazhab dan negara dari segenap penjuru dunia, merupakan seruan persatuan umat Islam sedunia, agar tidak terpecah belah meskipun berbeda mazhab.

Secara khusus, orang-orang Syiah menjadikan Risalah Amman sebagai legitimasi keabsahan mazhab mereka. Karena itu kita dapati akhir-akhir ini Syiah sering menjadikannya sebagai tameng untuk mengadakan taqrib (pendekatan atau penyatuan) antara Sunni dan Syiah. Sering kali mereka mengobralnya kepada masyarakat Islam bahwa “Syiah salah satu mazhab dalam Islam”.

Salah satu bukti getolnya Syiah mensosialisasikan Risalah Amman adalah diterbitkannya bukuMenuju Persatuan Umat yang dilengkapi dengan teks Risalah Amman. Buku ini pada awalnya berjudul Satu Islam, Sebuah Dilema yang merupakan kumpulan tulisan para cendikiawan muslim Indonesia, di antaranya Quraish Shihab, Jalaluddin Rakhmat, Nurkholis Majid, dsb. Sehingga dengan usaha-usaha yang dilakukan orang-orang Syiah, tidak terhitung lagi betapa banyak kaum Muslimin yang terkecoh oleh Syiah melalui Risalah Amman.

Namun bukan berarti kami ingin mempertanyakan keabsahan Risalah Amman itu sendiri, karena nota kesepahaman ini telah ditandatangani oleh 552 ulama dari berbagai belahan dunia yang menunjukkan keasliannya dan kebenaran isinya, Insya Allah. Kami lebih kepada usaha untuk mencermati poin-poin yang tertuang dalam Risalah Amman tersebut, terutama pada poin pertama.

Poin Pertama Risalah Amman

Untuk mendapat pengakuan, sering kali orang Syiah mengutip sebagian teks dari poin pertama Risalah Amman yang berbunyi, “Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.”

Memang tidak mungkin kita menyalahkan teks ini, apalah artinya kami di hadapan ratusan ulama yang ikut tanda tangan menyetujui isi teks Risalah Amman ini. Namun kami mengajak pembaca mencermati lebih mendalam poin ini. Mazhab yang dimaksud di sini adalah pandangan seseorang dalam masalah fiqh, dan bukan mazhab akidah. Artinya semua yang melaksanakan ibadah-muamalah yang sesuai dengan kedelapan mazhab di atas adalah muslim, tidak boleh dikafirkan.

Apakah kita menganggap seseorang itu keluar dari statusnya sebagai muslim hanya karena dia sujud di atas tanah karbala? Apakah dia langsung divonis kafir karena dia tidak bersedekap dalam shalat? Apakah seseorang boleh dikafirkan hanya karena dia tidak mengucapkan “Amin” dalam shalat? Apakah seseorang murtad hanya karena mengusap kaki dalam wudhu dan tidak membasuhnya? Apakah kita boleh menganggap kafir seseorang hanya karena dia mengorientasikan pandangan fiqhnya pada mazhab ja’fari? Tentu jawaban dari ini semua adalah ‘tidak’.

Seseorang tidak boleh dikafirkan hanya karena berbeda mazhab fiqh, inilah yang dimaksud dalam bunyi poin di atas.

Berikutnya mari kita perhatikan teks selanjutnya dari poin pertama ini, “Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.” (pada poin ini tidak disebutkan ‘percaya pada imamah’ yang merupakan pokok keyakinan Syiah)

Pada teks ini larangan takfir (mengkafirkan) hanya berlaku pada tiga kelompok kaum Muslimin, mereka itu; Asy’ariyyah, Sufi dan Salafi. Titik! Dan tidak disebutkan “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah”, tentu para ulama tersebut mempunyai pandangan yang tajam dan alasan yang kuat mengapa “Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah” tidak dimasukkan dalam deretan kelompok yang tidak boleh dikafirkan. Teks inilah yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin.

Larangan takfir ini dilanggar oleh Syiah. Mereka justru mengkafirkan tiga kelompok di atas (Asya’ari, sufi dan salafi) dan seluruh kaum Muslimin yang tidak mengenal atau mengikuti imam zamannya (tentu yang dimaksud adalah 12 imam Syiah) maka ia mati jahiliyah, mati di luar Islam. (Emilia Renita Az, 40 Masalah Syiah, Buku Pedoman Dakwah IJABI, hal 98)

Kemudian larangan takfir juga berlaku untuk semua kaum Muslimin yang percaya pada Allah, meyakini Rasulullah, dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, sertatidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam. Sehingga yang berbeda atau menyalahi keyakinan ini –menurut Risalah Amman- maka larangan takfirnya tidak berlaku, atau dengan kata lain bisa masuk dalam kelompok yang bisa dikafirkan. (kata-kata yang tebal inilah yang merupakan batasan pembeda antara kelompok Islam yang boleh divonis kafir atau tidak, kelompok Islam yang lurus akidahnya atau menyimpang)

Selanjutnya mari kita bandingkan poin-poin ini dengan akidah Syiah.

Pertama, Syiah memiliki Tuhan dan Nabi yang berbeda dengan Tuhan dan Nabi-nya kaum Muslimin, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi –seorang ulama rujukan Syiah- mengatakan,

وحاصله إنا لم نجتمع على إله ولا على نبي ولا على إمام، وذلك أنهم يقولون أن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وسلم نبيه وخليفته بعده أبو بكر. ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذاك النبي، بل نقول إن الرب الذي خليفته أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا.

Kesimpulannya: kita (Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah) tidak satu Tuhan, tidak satu Nabi dan tidak satu Imam. Pasalnya, Tuhan yang mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) akui adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya sepeninggal beliau, sedangkan kami (Syiah Imamiyah) tidak mengakui Tuhan yang seperti ini. Akan tetapi Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah bukanlah Tuhan kami, dan Nabi itu pun bukanlah Nabi kami. (Al-Anwar Annu’maniyyah, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi, jilid 2, hlm. 278, Mu’assasah Al-‘Alami Lil Matbu’at, Beirut, Lebanon.)

Dengan keyakinan seperti ini, Syiah keluar dari kelompok kaum Muslimin yang tidak boleh ditakfir.

Kedua, rukun Iman dan rukun Islam yang dimaksud dalam poin di atas tentunya rukun Iman yang enam dan rukun Islam yang lima yang selama ini kita kenal dan telah menjadi ijma’ kaum Muslimin.

Sedangkan Syiah memiliki rukun iman dan rukun Islam sendiri, yang berbeda dengan ijma’ kaum Muslimin.

Rukun Iman versi Syiah, (1) Tauhid, (2) Adalah (percaya pada keadilan ilahi), (3) Nubuwwah, (4) Imamah, (5) Al-Ma’ad (percaya pada hari akhir)

Rukun Islam versi Syiah, (1) Shalat, (2) Puasa, (3) Zakat, (4) Khumus (kewajiban mengeluarkan seperlima harta), (5) Haji, (6) Jihad, (7) Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, (8) Tawalla (membenci apa yang dibenci Rasul saw dan ahlul baitnya), (9) Tabarra (mencintai apa yang dicintai Rasul saw dan Ahlul Baitnya), (10) Amal Shaleh (Lihat buku 40 Masalah Syiah, Emilia Renita Az, Buku pedoman dakwah IJABI).

Rukun Iman dan Rukun Islam yang berbeda menegaskan kembali bahwa Syiah keluar dari kelompok Islam yang tidak boleh divonis kafir.

Ketiga, tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam. Salah satu pokok ajaran dalam Islam yang sangat fundamental dan telah disepakati dalam agama Islam dari dulu sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat adalah keaslian Al-Qur’an, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Sedangkan Syiah mengingkari keaslian Al-Qur’an, mayoritas ulama Syiah berpandangan demikian demikian, di antaranya, Al-Fadhl bin Syadzan An-Naisaburi, Furat bin Ibrahim Al-Kufi, Al-Ayyasyi, Al-Qummi, Al-Kulaini, Ali bin Ahmad Al-Kufi, Muhammad bin Ibrahim An-Nu’mani, Al-Mufid, Abu Manshur Ath-Thubrusi, Abul Hasan Al-Irbili, Al-Faidh Al-Kasyani, Al-Hurr Al-‘Amili, Hasyim Al-Bahrani, Muhammad Baqir Al-Majlisi, Ni’matullah Al-Jaza’iri, Yusuf bin Ahmad Al-Bahrani dan masih banyak lagi. Inilah ulama-ulama Syiah yang menjadi rujukan sepanjang abad. Bahkan seorang ulama Syiah yang sangat kesohor dan kuburannya sangat diagungkan oleh Syiah –sebagai bukti pemuliaan mereka terhadapnya- An-Nuri Ath-Thabarsi menulis satu kitab khusus yang menetapkan dan menegaskan akan adanya perubahan pada Al-Qur’an (Fashl Khithab Fi Istbat Tahrifi Kitabi Rabbil Arbaab), bahkan dalam muqaddimah bukunya tersebut ia mengetengahkan hampir 40 nama ulama Syiah yang mendukung pendapatnya! Sehingga pendapat mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak asli lagi sudah menjadi akidah dan ajaran pokok Syiah.

Tiga batasan yang dilanggar Syiah ini semakin menegaskan bahwa Syiah bukanlah kelompok Islam yang lurus akidahnya dan keluar dari  kelompok-kelompok Islam yang tidak boleh divonis kafir menurut Risalah Amman yang telah ditandatangani oleh lebih dari 500 ulama sedunia.

 Oleh: Muh. Istiqamah, Wakil Sekretaris LPPI Makassar

(lppimakassar.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 14.179 kali, 1 untuk hari ini)
Next Post

Related Post

Elektabilitas Jokowi-Maruf Merosot, Jokowi Dinilai Gagal Sebagai Petahana
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengendarai motor baru berkelir hijau beraliran custom untuk berkeliling Kota

Related Post

Jakarta Tutup 3 Griya Pijat Pelacuran di Kawasan Pondok Indah
foto By Eramuslim JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Anies Baswedan kembali menetapi janjinya untuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *