Para ulama meneriakkan takbir usai mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti Syi’ah di Masjid Al-Fajr, Jalan Cijagra, Bandung, Minggu (20/04/2014). Ulama mendesak pemerintah Indonesia untuk melarang penyebaran paham dan ajaran Syi’ah, serta mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga yang terkait dengan ajaran Syiah di seluruh Indonesia. FOTO : FRINO BARIARCIANUR/http://kabarkampus.com

BANDUNG– Sekretaris Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Tardjono Abu Muas dalam keterangannya kepada redaksi mengatakan, ANNAS akan melakukan deklarasi anti Syiah di Cimahi. Tepatnya acara itu digelar di Masjid Al Furqon Komplek Puri Cipageran Indah 1 Blok F Cimahi Utara- Cimahi Jawa Barat pada hari Ahad, 24 Dzulhijjah 1435 H / 19 Oktober 2014 jam: 09.00-11.30 wib. Insya Allah Ta’ala.
Sususnan acaranya menurut Tardjono, sebelum pembacaan deklarasi akan diawali orasi oleh K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc. MA (Ketua ANNAS), Ustadz Drs. H. Ade Bunyamin (Mubaligh Kota Cimahi), Ustadz H. Oman (MUI Kabupaten Bandung Barat) dan Ustadz M. Roinul Balad (Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia Jawa Barat).
Mengingat pentingnya acara ini, ANNAS mengundang kaum Muslimin agar hadir dalam gelaran deklarasi anti Syiah tersebut.
Rencananya setelah di Kota Cimahi, kata Tardjono, dalam waktu singkat akan digelar pula acara yang sama di Garut, Subang dan wilayah-wilayah lain sebagai amanah Musyawarah Ulama pasca Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), 20 April 2014.
Sebagai informasi, ANNAS dibentuk dan dideklarasikan oleh ratusan ulama dari Nusantara di hadapan ribuan kaum Muslimin di Masjid Al Fajr Kota Bandung, Ahad 20 April 2014. Dari musyawarah Ulama pasca Deklarasi ANNAS itu dan hasil Diklat ANNAS, 20-21 September 2014 terbentuklah beberapa halaqoh ANNAS di berbagai wilayah, diantaranya halaqoh ANNAS Wilayah Jawa Barat Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

Syi’i busungkan dada

Dari hari ke hari, aktivitas gerakan sesat Syi’ah kini terasa semakin berani. Salah seorang dedengkot Syiah yang selama beberapa puluh tahun bertaqiyyah, kini telah berani tampil membuka baju kemunafikannya dan membusungkan dada menyatakan “kami Syi‘i“, merayap memasuki ranah politik menyusup di lembaga politik strategis.
Pembiaran politik terhadap perkembangan Syi’ah hanya merupakan bom waktu bagi terjadinya proses radikalisasi. Sementara itu penguatan Syi’ah pun akan mendapat reaksi nyata yang tak akan kalah radikalnya. Oleh karenanya, pencegahan dan penindakan merupakan suatu keniscayaan. (azmuttaqin/arrahmah.com/siaran pers)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 580 kali, 1 untuk hari ini)