JAKARTA – Mengapa al-Qur’an menolak pemimpin kafir? Mengapa al-Qur’an memerintahkan memerangi orang-orang kafir musyrik yaitu Yahudi – Nasrani? Kecuali kafir dzimmi, kafir yang menerima aturan-aturan Islam, membayar jizyah, dan tidak memerangi Muslim.
Media-media sekuler, liberal, dan phalangis (Kristen), terus mencekokkan kepada setiap kepala Muslim, tentang doktrin toleransi, pluralisme, equality (kesamaan derajat), dan tidak bersikap rasis. Doktrin inilah yang terus dikampanyekan oleh mereka, tanpa jeda.
Muslim yang ingin menjalankan kehidupannya secara Islami, dan hidup di bawah aturan Syariah, dikatakan sebagai fundamentalis, ekstrimis, militan, dan tidak toleran. Dogma baru tentang toleransi, pluralisme, dan equality itu, sekarang menjadi ‘agama baru’, dan dipaksakan kepada Muslim.
Sekarang, mencuat polemik di berbagai media dan media sosial, terkait dengan Ahok, sebagai bakal calon gubernur DKI. Menggantikan Jokowi, yang mungkin akan menjadi presiden. Polemik ini semakin keras, dan intensitasnya semakin tinggi. Muslim di Jakarta menolak Ahok, dan bukan hanya FPI.

Sejumlah media di Jakarta, dan secara terang-terangan mengecam sikap Ormas Islam seperti FPI, yang menolak Ahok, karena Ahok statusnya sebagai kafir (Kristen), dan bukan semata dia sebagai minoritas Cina.

Secara empirik, kekafiran seseorang itu, pasti secara inheren (melekat) melahirkan sikap anomali, dan mempunyai dampak sangat negatif dalam kehidupan. Misalnya, secara karakter seorang yang menyandang status ‘kafir’ itu, memiliki sikap sombong, arogan, tidak memiliki nurani, dan cenderung diktator.

Wagub DKI Ahok2
Lihat, bagaimana karakter dan gaya kepemimpinan Ahok, selama menjadi wakil gubernur DKI. Gaya bicara, tutur katanya, sikapnya terhadap bawahannya, dan kepada orang lain, tidak sedikitpun menunjukkan adanya empati.
Seakan Ahok itu ‘superior’ dan ‘raja diraja’, yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Ahok seakan seorang ‘super leader’. Sehingga, tidak peduli dengan pendapat, dan kritikan. Bagaimana kalau Ahok menjadi gubernur DKI? Mayoritas penduduk DKI adalah Muslim, pasti Muslim di DKI akan bernasib malang?
Sikapnya terhadap orang yang lemah, miskin, para pedagang kaki lima, para buruh, dan orang-orang yang hidupnya terlunta, dan tidak memiliki tempat tinggal, hidup di bantaran kali, dia dengan mudah mengatakan : ‘Usir dan Gusur’.
Apakah DKI Jakarta ini milik moyangya Ahok? Bagaimana Ahok berani sekasar itu? Setiap orang memiliki hak dasar, yang harus dihormati, yaitu hak hidup. Mereka tidak boleh diperlakukan secara semena-mena, dan wajib dilindungi.
Partai Gerindra dan Prabowo yang menyebabkan Ahok bisa menjadi wakil gubernur, dihinakannya. Bukan hanya Gerindra yang dihinakan, tapi juga Prabowo. Begitu sikap Ahok. Tak tahu diuntung. Karena, sikapnya yang sangat sombong, dan tidak tahu diri.
Apa yang terjadi selama Ahok menjadi wakil gubernur DKI, dan kemungkinan akan menggantikan Jokowi? Tentu, yang sangat menyakitkan melarang Muslim berjualan kambing di trotoar, dan menyembelih kambing di sekolah, kantor, bahkan di masjid-masjid. Alasan kotor. Padahal, ini bagian dari syiar Islam.
Sampai-sampai tahun ini, Masjid Istiqlal tidak lagi melakukan penyembelihan hewan qurban. Mungkin takut dengn instruksi Ahok. Tidak ada takbiran, dan aktifitas lainnya, yang bernilai syi’ar Islam.
Kantor-kantor di lingkungan DKI, tak lagi berani memanggil penceramah atau da’i, berceramah di lingkungan Pemda DKI. Bahkan, banyak kepala dinas diganti oleh orang-orang phalang (Kristen).
Sekarang terus digembar-gemborkan tentang orang Islam, tidak becus bekerja, korup, dan malas. Maka, penggusuran penjabat-pejabat DKI, yang Muslim berlangsung, digantikan pejabat yang phalang (Kristen).

Flag-of-Israel2

Bandingkan dengan apa yang terjadi di Israel. Sebuah negara yang lahir sejak tahun 1948. Zionis-Israel merampas tanah-tanah rakyat Palestina, dan menggantinya menjadi pemukiman Yahudi. Rakyat diusir, dipaksa pergi, dan sumber kehidupan mereka hancurkan.

Zionis-Israel adalah sebuah negara yang sangat ‘rasis’, dan tidak ada yang disebut dengan toleransi, dan tidak pernah menghargai etnis lain. Etnis lain diluar Yahudi, dianggap sebagai ‘kotoran’ yang dibuang dan dimusnahkan.
Orang-orang pribumi nasibnya persis seperti yang sekarang dialami orang-orang Palestina. Adakah ini nanti akan dihadapi orang-orang Betawi di Jakarta? Mungkin.
Di mana di Jakarta bagian utara, lahir-lahir ‘enclave’ (kantong) Pecinan, mulai dari Kelapa Gading, Pandai Indah Kapuk, sampai BSD (Bumi Serpong Damai), Alam Sutera, dan lainnya, perlahan-lahan mengusir kaum pribumi.
Secara demografis (kependudukan) telah terjadi pergeseran, di mana kaum pribumi, termasuk Betawi menjadi minoritas, digantikan kelompok etnis Cina.
Dengan menyebut orang-orang Palestina sebagai ‘teroris’, maka kemudian dengan mudah Zionis-Israel menodongkan senjata mereka kepada Muslim Palestina, dan kemudian pergi atau dipenjara.
Lebih tragis. Sekarang Muslim tidak boleh lagi melaksanakan shalat di Masjid al-Aqsha. Bahkan, selama hari libur Yahudi yang disebut Sukkot, yang berakhir Rabu malam, ratusan orang Yahudi sayap kanan telah mengunjungi Masjidil Aqsha, dan kemudian berbagai bentrokan dengan jamaah Muslim Palestina.
Menurut Kementerian Penerangan Palestina mulai enam bulan lalu, sejak larangan terhadap 300 pemuda Palestina dari masjid al-Aqsha oleh polisi Israel, dan kemudian yang diizinkan para pemukim Yahudi untuk masuk Masjid al-Aqsha.
Orang-orang Yahudi mengklaim Masjid al-Aqsha adalah Kuil Sulaiman, dan menjadi milik Yahudi. Nasib al-Aqsha seperti telur diujung tanduk. Mungkin, kalau Muslim tidak ada lagi rasa kepemilikannya, suatu saat al-Aqsha akan berubah menjadi Kuil Sulaiman.
Begitulah nasib Muslim yang hidup dibawah penguasa kafir. Mereka diperbudak. Tidak boleh melaksanakan keyakinan syariahnya.
Suatu saat, ini bisa terjadi atas kota Jakarta, berubah menjadi tempat tempat tinggal bagi orang kafir. Kemudian, mereka akan menghancurkan kehidupan Muslim dengan berbagai cara.
Terutama menguasai sumber ekonomi, dan memperbudak Muslim. Persis yang dilakukan olen Zionis-Israel terhadap Muslim Palestina. Dengan menguasai sumber ekonomi itu, kemudian mereka bertindak apa saja. Seperti yang sekarang terjadi di Tanah Abang. [dimas] voaislam.com, Kamis, 21 Zulhijjah 1435 H / 16 Oktober 2014 09:00 wib
***
Petunjuk dari Allah Ta’ala

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [التوبة/73]

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. At-Taubah [9] : 73)
Allah memerintahkan tidak bersikap lembut terhadap orang-orang kafir dan munafiqin bahkan memerintahkan berjihad melawan mereka dan bersikap keras atas mereka. Sementara itu Allah Ta’ala memerintahkan bersikap lunak dan hormat terhadap mukminin. Sungguh Allah telah berfirman, yang artinya:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ [الشعراء/215]

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 215)
Ayat itu tampaknya benar-benar diselisihi. Terutama oleh pentolan-pentolan yang mengaku Islam namun sepak terjangnya lebih kongkrit dengan orang kafir, Nasrani, aliran sesat seperti Syiah, LDII, Ahmadiyah, Bahai dan sebagainya. Bahkan mereka rela bertungkus lumus (bersusah payah) membela gereja liar seperti Yasmin, pengikut syaithan seperti Lady Gaga, pentolan sex menyimpang seperti Irsyad Manji. Mungkin tokoh NU yang masih Islami mengelus dada melihat oknum-oknum yang duduk di jajaran kepengurusan kini bahkan bicara di televisi beserta pentolan Ansor Banser tampak sekali menyelisihi ayat tersebut di atas. Padahal mereka atas nama NU dan Ansor dalam kasus Ahok yang kafir kitabi namun arogan dan mengusik Islam ini.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.239 kali, 1 untuk hari ini)