MENJELANG akhir pekan pertama bulan Oktober 2012, ada dua nama yang menarik perhatian publik. Pertama, Novel Baswedan dan Abu Bakar Ba’asyir. Novel adalah perwira menengah dengan pangkat Komisaris Polisi (Kompol), atau setingkat Mayor pada Angkatan Darat.

Novel Baswedan yang sejak kecil dikenal cerdas dan baik hati ini merupakan putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Salim Baswedan dan Fatimah, asal Semarang. Oleh karena itu tak heran bila Novel Baswedan menjadi salah satu perwira terbaik yang ditugaskan institusi kepolisian untuk berkiprah di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), sebagai salah satu penyidik, sejak 2006. Bahkan, Novel menjadi salah satu penyidik terbaik yang dimiliki KPK.

Di KPK, Novel Baswedan menjadi Wakil Ketua Satgas kasus korupsi pengadaan alat simulasi roda dua dan roda empat pada Korps Lalu Lintas (Korlantas) dan sempat bersitegang dengan aparat sejawatnya di kepolisian saat menggeledah Kantor Korlantas Mabes Polri (tanggal 30-31 Juli 2012). Kasus ini melibatkan perwira tinggi Kepolisian RI berbintang dua, Irjen Pol Djoko Susilo.

Selain itu, Novel juga pernah menjadi penyidik dalam kasus Muhammad Nazaruddin (mantan Bendaharwan Partai Demokrat), yang kasus korupsinya diduga melibatkan Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat), dan Angelina Sondakh, juga dari Partai Demokrat. Sebagaimana sudah diketahui umum, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga Presiden RI.

Novel Baswedan juga pernah menyidik kasus suap cek pelawat (traveler’s check) yang mengakibatkan Nunun Nurbaeti, istri Mantan Wakapolri Adang Daradjatun, dijebloskan ke penjara. Kasus cek pelawat terkait pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia periode 2004. Cek pelawat itu dibagi-bagikan kepada sejumlah anggota DPR RI yang mempunyai suara menentukan terpilih tidak-nya Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior BI.

Beberapa kasus korupsi lainnya seperti kasus suap dana penyesuaian infrastruktur daerah (DPID) dengan terdakwa Wa Ode Nurhayati, juga ada peran Novel sebagai penyidik. Juga kasus suap pengurusan izin hak guna usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit PT Hardaya Inti Plantations (HIP) dengan tersangka Amran Batalipu, Yani Ansori, Gondo Sudjono, dan Hartati Murdaya.

Sebagaimana dikisahkan wartawan Seputar Indonesia (SINDO), ketika Novel Baswedan beserta sejumlah rekan penyidik lainnya menangkap Bupati Buol Amran Batalipu pada tanggal 5–6 Juli 2012 di Buol, Sulawesi Tengah, mendapat perlawanan sengit dari puluhan pendukung Amran Batalipu.

Ketika institusi Kepolisian RI menarik sejumlah perwiranya dari KPK, pasca mencuatnya kasus korupsi pengadaan alat simulasi roda dua dan roda empat pada Korps Lalu Lintas (Korlantas), ia memilih menjadi pegawai tetap KPK, dan sudah dikabulkan. Dalam hal ini Novel merupakan satu dari 28 penyidik Kepolisian RI yang sudah diangkat KPK jadi pegawai tetap. Sebelum bertugas di KPK, Novel pernah bertugas selama tujuh tahun di Mapolda Bengkulu. Pada 1999 hingga 2005, Novel menjabat sebagai Kasatserse Polda Bengkulu.

Ketika menjabat sebagai Kasatserse Polda Bengkulu, salah seorang anak buah Novel melakukan tindakan melanggar hukum yang menyebabkan seorang tersangka kasus pencurian sarang burung walet meninggal dunia dengan luka tembak (2004).

Bambang Widjojanto Wakil Ketua KPK, menegaskan, kasus tersebut sudah selesai di tahun yang sama. Bahkan, Novel tidak berada di lokasi kejadian dan tidak melakukan penembakan seperti yang dituduhkan kepadanya. Namun, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Sutarman menegaskan penangkapan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kompol Novel Baswedan tetap dapat dilakukan.

Sehingga, pada  hari Kamis tanggal 4 Oktober 2012 sekitar pukul 20.00 – 21.00 wib, datang utusan dari Polri untuk bertemu Novel. Kedua utusan tadi meminta Novel Baswedan untuk bertemu Kepala Satuan Reserse Kriminal (Korseskrim) Polri Yasin Fanani.

Ketika itu Novel Baswedan menyatakan bersedia untuk bertemu Kepala Satuan Reserse Kriminal (Korseskrim) Polri Yasin Fanani, bila diizinkan pimpinan KPK, namun pimpinan yang ada saat itu yaitu Busyro Muqoddas tidak memberikan izin.

Keesokan harinya, Jum’at 05 Oktober 2012, sekitar pukul 20:00 wib seseorang yang mengaku bernama Kombes Dedi Riyanto yang konon berasal dari Direskrimum Polda Bengkulu bersama lima orang lain mendatangi KPK.  Mereka bertemu pimpinan KPK dengan membawa surat perintah penggeledahan dan penangkapan dengan alasan Novel Baswedan melanggar pasal 351 ayat 2 dan 3 KUHP.

Upaya penjemputan paksa terhadap Novel, menurut Bambang Widjojanto (Wakil Ketua KPK), merupakan tindakan kriminalisasi terhadap KPK. Apalagi, menurut Bambang, surat penggeledahan yang mereka bawa belum mendapat persetujuan dari pengadilan.

Saat upaya penjemputan paksa berlangsung, di sekitar gedung KPK, menurut keterangan Bambang, ada sekitar dua kompi personel polisi berjaga-jaga. Rupanya KPK tak gentar, dan tetap berkomitmen mencegah terjadinya upaya penjemputan paksa terhadap Novel Baswedan. Kini, Novel berada dalam safe house KPK.

Ba’asyir ke Nusakambangan

Sementara itu, ketika upaya penjemputan paksa terhadap Novel Baswedan sedang berlangsung, ustadz Abu Bakar Ba’asyir dipindahkan ke LP Batu Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Semula, ustadz Abu Bakar Ba’asyir berada dalam Rutan Bareskrim Polri, Jakarta.

Menurut keterangan Sonhadi (juru bicara Jamaah Ansharut Tauhid), ustad Ba’asyir dipindahkan Densus ke Nusakambangan pada hari Jumat tanggal 5 Oktober 2012 malam, sekitar pukul 22:45 wib. Proses pemindahan berlangsung sepihak tanpa ada pemberitahuan sebelumnya kepada pihak kuasa hukum maupun keluarga ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Lebih parah lagi, menurut Sonhadi, pemindahan itu ditempuh melalui jalan darat, yang tentunya sangat berat dan melelahkan untuk pria seusia ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Sementara itu menurut keterangan Hasyim Abdullah (asisten pribadi Ba’asyir), pemindahan itu dilakukan secara mendadak, dirinya baru diberitahu sekitar pukul 21:00 wib. Namun Hasyim sempat melepas keberangkatan Ba’asyir dari Gedung Barekrim Mabes Polri, Jakarta, menuju Cilacap, Jawa Tengah, malam itu juga, Jumat 05 Oktober 2012, sekitar pukul 22:45 wib. Saat itu Ba’asyir megenakan peci dan gamis putih. Seperti biasa, dia tampak tenang.

Sebelumnya, ustadz Abu Bakar Ba’asyir telah divonis 15 tahun penjara, karena terbukti melakukan pidana dalam dakwaan subsider dengan Pasal 14 Jo Pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme. Dalam uraian putusan hakim, ustadz Abu Bakar Ba’asyir dinilai terbukti merencanakan atau menggerakkan pelatihan militer bersama Dulmatin alias Yahya Ibrahim alias Joko Pitono.

Menurut pemberitaan MetroTV, ustadz Abu Bakar Ba’asyir tiba di Dermaga Pulau Nusakambangan, Cilacap, pada hari Sabtu tanggal 06 Oktober 2012, sekitar pukul 08:40 wib. Upaya pengamanan pemindahan Ba’asyir ke Lembaga Pemasyarakatan Batu Nusakambangan terlihat sangat ketat. Selain melibatkan personel Kepolisian Resor Cilacap, juga melibatkan Brimob Polda Jawa Tengah dan Kodim Cilacap.

***

Nah, apakah proses upaya pejemputan paksa terhadap Novel Baswedan ada kaitannya dengan proses pemindahan sepihak Ba’asyir ke Nusakambangan? Wallahu a’lam.

Yang jelas, perhatian media massa seperti tercurah menyoroti gedung KPK yang saat itu digeruduk sejumlah aparat polisi yang hendak menangkap rekan sejawatnya sendiri, bernama Kompol Novel Baswedan. Pada saat bersamaan, upaya pemidahan sepihak terhadap diri Abu Bakar Ba’asyir berlangsung mulus, aman, dan terhindar dari sorotan media massa.

(tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 2.365 kali, 1 untuk hari ini)