MENIT 01.30: Ust. Somad hafizhahullah mengatakan: “….Allaahu munazzahun ‘anil jihat as-sitt, kata aqidah Thahawiyah. Allah itu suci dari enam arah…”

MENIT 01.43: Kemudian Ust. Somad hafizhahullah mengatakan: “Dia tak di atas, Dia tak di bawah”

* * *

TANGGAPAN:

Sisi Ke-1: Ust. Somad hafizhahullah sepertinya kurang tepat dalam menukil ungkapan Imam at-Thahawi (wafat: 321-H). Berikut ini adalah ungkapan beliau—rahimahullah—sebenarnya:

لا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

Artinya; “Allah itu tidak dilingkupi oleh arah yang enam sebagaimana halnya makhluk.” [Syarh al-‘Aqidah at-Thahawiyyah: 1/267, Cet. Mu-assasah ar-Risalah, 1417-H]

Sisi Ke-2: Di samping kurang tepat dalam menukil lafaz ungkapan Imam at-Thahawi, Ust. Somad hafizhahullah juga melakukan kekeliruan fatal dengan menyalahartikan maksud at-Thahawi. Maksud yang ingin dicapai oleh Ust. Somad adalah; menepis anggapan bahwa Allah itu di atas. Ini terbukti dari ucapan Ust. Somad sendiri pada MENIT 01.43; “Dia tak di atas, Dia tak di bawah”. Sementara at-Thahawi tidak memaksudkan demikian.

Untuk memahami maksud ungkapan at-Thahawi di atas, harus melihat juga ucapan beliau setelahnya. Dalam matan kitab yang sama (al-‘Aqidah at-Thahawiyyah), Imam Abu Ja’far at-Thahawi rahimahullah mengatakan:

وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ، وَهُوَ مُسْتَغْنٍ عَنِ العَرْش وَمَا دُونَهُ، مُحِيطٌ بِكُلِّ شَىْءٍ وَفَوْقَهُ، وَقَدْ أعْجَزَ عَنِ الإِحَاطَةِ خَلقَهُ.

“al-‘Arsy dan al-Kursi itu benar adanya. Namun Allah tidak butuh pada ‘Arsy dan pada apa-apa yang ada di bawahnya. Allah meliputi segala sesuatu dan Dia berada di atasnya. Sungguh Dia telah menjadikan makhluk-Nya tidak mampu meliputi (hakikat-Nya).”

Dari ungkapan—yang terlewatkan oleh Ust. Somad ini—nampak jelas sekali bahwa at-Thahawi tidak memaksudkan seperti yang dimaksudkan oleh Ust. Somad. Sama sekali tidak nyambung, antara penjelasan Ust. Somad hafizhahullah dengan maksud yang diinginkan oleh at-Thahawi rahimahullah.

Sisi Ke-3: Agar lebih jelas lagi apa maksud ucapan at-Thahawi tersebut, mari simak komentar Ibnu ‘Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah (wafat: 792-H) selaku pen-syarah ‘Aqidah Thahawiyyah berikut ini:

وَقَوْلُ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللَّهُ: (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ) هُوَ حَقٌّ، بِاعْتِبَارِ أَنَّهُ لَا يُحِيطُ بِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، بَلْ هُوَ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ. وَهَذَا الْمَعْنَى هُوَ الَّذِي أَرَادَهُ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ، لِمَا يَأْتِي فِي كَلَامِهِ: أَنَّهُ تَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ. فَإِذَا جُمِعَ بَيْنَ كَلَامَيْهِ، وَهُوَ قَوْلُهُ: (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ) وَقَوْلُهُ: (مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ) عُلِمَ أَنَّ مُرَادَهُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَحْوِيهِ شَيْءٌ، وَلَا يُحِيطُ بِهِ شَيْءٌ، كَمَا يَكُونُ لِغَيْرِهِ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، وَأَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْمُحِيطُ بِكُلِّ شَيْءٍ، الْعَالِي عَنْ كُلِّ شَيْءٍ.لَكِنْ بَقِيَ فِي كَلَامِهِ شَيْئَانِ:أَحَدُهُمَا : أَنَّ إِطْلَاقَ مِثْلَ هَذَا اللَّفْظِ – مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الْإِجْمَالِ وَالِاحْتِمَالِ – كَانَ تَرْكُهُ أَوْلَى، وَإِلَّا تَسَلَّطَ عَلَيْهِ، وَأَلْزَمَ بِالتَّنَاقُضِ فِي إِثْبَاتِ الْإِحَاطَةِ وَالْفَوْقِيَّةِ وَنَفْيِ جِهَةِ الْعُلُوِّ، وَإِنْ أُجِيبَ عَنْهُ بِمَا تَقَدَّمَ، مِنْ أَنَّهُ إِنَّمَا نَفَى أَنْ يَحْوِيَهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، فَالِاعْتِصَامُ بِالْأَلْفَاظِ الشَّرْعِيَّةِ أَوْلَى.

Ungkapan Syaikh (at-Thahawi) rahimahullah; (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ), adalah ungkapan yang haq jika dilihat dari sisi; Allah itu tidak diliputi oleh sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Bahkan sebenarnya, Allah-lah yang meliputi segala sesuatu, dan sekaligus Dia berada di atas segala sesuatu tersebut. Inilah makna yang diinginkan oleh Syaikh (at-Thahawi) rahimahullah, dengan indikasi ucapan beliau; (أَنَّهُ تَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ), “Dia itu Maha Tinggi, meliputi segala sesuatu, dan Dia berada di atas segala sesuatu”. Jika kedua ucapan beliau ini, yaitu ucapan (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ) dan (مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ) digabung dan dikompromikan, maka bisa diketahui bahwa maksud beliau adalah; tak satupun yang melingkupi Allah dan tak satupun yang meliputi-Nya, tidak sebagaimana makhluk (yang bisa dilingkupi dan diliputi oleh sesuatu). Dialah yang Maha Tinggi, Dialah yang justru meliputi segala sesuatu, yang Maha Tinggi di atas segala sesuatu.

Namun pada ucapan beliau (at-Thahawi) ini, tersisa dua permasalahan. Salah satunya adalah; bahwa melepas begitu saja ungkapan semacam ini tanpa penjelasan dan perincian—sementara ia masih bermakna global dan bersifat multi tafsir—, sebaiknya yang demikian ini ditinggalkan. Karena jika tidak, ungkapan seperti ini bisa dieksploitir. Sehingga menimbulkan makna yang kontradiktif; antara peniadaan jihah (arah) dengan penetapan bahwa Dia di atas. Sekalipun bisa dijawab dengan jawaban di atas (bahwa maksudnya adalah; Allah itu tidak diliputi oleh sesuatu apapun), namun tetap saja berpegang teguh pada lafaz-lafaz yang syar’i itu jauh lebih baik.” Selesai nukilan dari penjelasan Ibnu Abil ‘Izz. [lih. Syarh al-‘Aqidah at-Thahawiyyah: 1/267-268, Cet. Mu-assasah ar-Risalah, 1417-H]

Adapun Syaikh Bin Baz rahimahullah, memberikan komentarnya sebagai berikut:

” مراده الجهات الست المخلوقة، وليس مراده نفي علو الله واستوائه على عرشه، لأن ذلك ليس داخلاً في الجهات الست، بل هو فوق العالم ومحيط به، وقد فطر الله عباده على الإيمان بعلوه سبحانه، وأنه في جهة العلو “.

Yang beliau (at-Thahawi) maksudkan adalah; makhluk berupa arah yang enam (yaitu; atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang). Beliau tidak bermaksud menafikan ketinggian Allah dan Istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy. Karena ketinggian Allah dan Istiwaa’-Nya tersebut tidak termasuk dalam cakupan arah yang enam. Bahkan Allah itu di atas alam, dan Dia meliputinya. Allah telah menanamkan fitrah kepada hamba-hamba-Nya di atas keimanan akan ketinggian-Nya. Bahwasanya Dia berada di atas.” [at-Ta’liqat al-Atsariyyah ‘ala al-‘Aqidah at-Thahawiyyah, hal. 16. Berdasarkan penomoran Syamilah]

Jika Ust. Somad hafizhahullah sudi kiranya merenungkan jawaban Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat: 728-H) berikut ini, niscaya perkaranya akan lebih jelas dan gamblang, bahwa penafian “jihah” pada keberadaan Allah itu tidak bisa ditolak dan tidak juga bisa diterima mentah-mentah, perlu perincian. Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

” يُقَالُ لِمَنْ نَفَى الْجِهَةَ: أَتُرِيدُ بِالْجِهَةِ أَنَّهَا شَيْءٌ مَوْجُودٌ مَخْلُوقٌ؟ فَاَللَّهُ لَيْسَ دَاخِلًا فِي الْمَخْلُوقَاتِ. أَمْ تُرِيدُ بِالْجِهَةِ مَا وَرَاءَ الْعَالَمِ؟ فَلَا رَيْبَ أَنَّ اللَّهَ فَوْقَ الْعَالَمِ مُبَايِنٌ لِلْمَخْلُوقَاتِ .وَكَذَلِكَ يُقَالُ لِمَنْ قَالَ: اللَّهُ فِي جِهَةٍ: أَتُرِيدُ بِذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ فَوْقَ الْعَالَمِ؟ أَوْ تُرِيدُ بِهِ أَنَّ اللَّهَ دَاخِلٌ فِي شَيْءٍ مِنْ الْمَخْلُوقَاتِ؟ فَإِنْ أَرَدْت الْأَوَّلَ فَهُوَ حَقٌّ ، وَإِنْ أَرَدْت الثَّانِيَ فَهُوَ بَاطِلٌ.

Kepada mereka yang menolak jihah (arah), kita katakan: ‘apa yang anda maksud dengan jihah? Apakah ia adalah sesuatu yang ada berwujud makhluk? (Jika ya), maka Allah tidaklah berada di dalam (atau dilingkupi oleh) makhluk-Nya. Atau jika yang anda maksud dengan jihah adalah apa yang ada di balik alam? Maka tidak ragu lagi bahwa Allah itu di atas alam (tidak di dalam alam), terpisah dari segenap makhluk-Nya.

Demikian pula dikatakan kepada orang yang mengatakan, ‘Allah berada pada suatu jihah (arah)’; apakah anda memaksudkan (dengan perkataan tersebut) bahwa Allah itu berada di atas alam? Atau anda memaksudkan bahwa Allah berada di dalam (atau diliputi oleh) makhluk-Nya? Jika anda memaksudkan yang pertama, maka itulah yang benar. Namun jika anda memaksudkan yang kedua, maka itulah yang batil.” [Majmu’ al-Fatawa: 3/42] 

Simpulannya; apa yang dimaksudkan oleh at-Thahawi jauh berbeda dengan apa yang dimaksud oleh Ust. Somad hafizhahullah. Fatal sekali, justru Ust. Somad hafizhahullah menarik ucapan at-Thahawi ke arah yang berlawanan dengan maksud at-Thahawi sendiri.

* * *

MENIT 02.05: Ust. Somad hafizhahullah berkata; “Kalau Dia bisa ditunjuk, ‘di mana Allah’. Allah ada di atas, maka batallah ayat;

ولم يكن له كفوا أحد

Dan tidak ada seorangpun yang setara (semisal) dengan-Nya.

Kalau bisa Dia ditunjuk, Allah di atas, berarti sama dengan lampu di atas.

* * *

TANGGAPAN

Sisi Ke-1: Ketika di Haji Wada’, Nabi berkhutbah di ‘Arafah. Setelah menyampaikan khutbahnya, disebutkan bahwa:

فقال بأصبعِه السبابةِ يرفعُها إلى السماءِ ويُنْكِتُها إلى الناسِ: اللهمَّ اشهد، اللهمَّ اشهدْ

Nabi mengangkat telunjuknya ke arah langit lalu mengarahkannya kepada manusia (di hadapannya) seraya berkata: ‘Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah,….” [Abu Dawud: 1/358, no. 1905, lih. Shahih Sunan Abi Dawud no. 1905]

Sisi Ke-2: Dalam Shahih al-Bukhari (3/873, no. 1739) disebutkan bahwa Nabi menengadahkan kepalanya ke langit sambil berkata; “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan?, Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan?.”

Riwayat tersebut dijadikan dalil oleh para ulama bahwa Allah itu di atas [lih. Al-‘Aqidatu Fillah, hal. 192, Cet.-12 Darun Nafais, 1419-H, Dr. Sulaiman ‘Umar al-Asyqar]

Nabi menetapkan bahwa Allah di atas, bahkan beliau mengisyaratkan dengan telunjuk dan kepala beliau ke arah atas. Dengan sikap Nabi yang demikian ini, apakah kita akan mengatakan bahwa Nabi telah menyetarakan Allah dengan awan yang juga berada di atas…?? Tentu tidak. Maha Suci Allah.

Sisi Ke-3: Sahabat yang mulia ‘Umar bin al-Kaththab radhiallahu’anhu juga pernah mengisyaratkan pada Allah dengan menunjuk ke atas langit. Sebagaimana dalam riwayat berikut Ibnu Abi Syaibah (wafat: 235-H) berikut ini:

لما قدم عمر الشام استقبله الناس وهو على البعير فقالوا: يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا يلقاك عظماء الناس ووجوههم، فقال عمر: لا أراكم ههنا، إنما الامر من ههنا – وأشار بيده إلى السماء

Tatkala ‘Umar datang ke negeri Syam, orang-orang lantas menemuinya. Saat itu beliau tengah berada di atas ontanya. Orang-orang itu berkata: “Wahai Amirul-Mukminin, sekiranya engkau mengendarai kuda yang gagah lagi tegap, niscaya para pembesar dan para tokoh akan menemuimu”. Maka ‘Umar menjawab: “Aku tidak memandang pada perintah kalian. Perintah itu hanya datang dari sana—seraya mengisyaratkan tangannya ke langit” [lih. Al-Mushannaf Ibn. Abi Syaibah, jilid 19/no. 36111, tahqiq: Syaikh Prof. Dr. Sa’ad asy-Syatsri, Dar Kunuz Isybilia, Cet. 1/1436-H, dan pen-tahqiq menyatakan riwayat ini shahih]

Imam adz-Dzahabi asy-Syafi’i dalam kitabnya al-‘Uluw (hal. 62) menyebut sanad riwayat ini dengan ungkapan “isnaduhu kasy-syams” (sanadnya sejelas matahari). Syaikh al-Albani dalam Mukhtashar al-‘Uluw (no. 46 hal. 102-103) menyebutkan bahwa riwayat ini shahih berdasarkan kriteria al-Bukhari dan Muslim. [lih. Itsbat Shifatil ‘Uluw, hal. 149, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, tahqiq: Dr. Ahmad ‘Athiyyah al-Ghamidi, Maktabah al-‘Ulum wal Hikam, Cet. 1/1409-H]

Riwayat dari ‘Umar ini sangat jelas menunjukkan bahwa menunjuk ke arah langit untuk mengisyaratkan keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas, bukanlah hal yang terlarang di mata Sahabat, tidak sebagaimana anggapan Ust. Somad hafizhahullah.

Sisi Ke-4: Adanya kesamaan penyebutan sifat tidak melazimkan kesamaan dalam hakikat sifat. Hakikat keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, tentu jauh beda dengan lampu di atas yang dijadikan permisalan oleh Ust. Somad. Lagi pula, untuk bisa berada di atas, lampu butuh untuk melekat atau bergantung pada benda lain. Sementara tak ada satu pun ulama salaf (yang menetapkan Allah itu di atas) yang menganggap Allah itu butuh kepada langit atau melekat pada ‘Arsy-Nya.

Lantas, siapa sebenarnya yang melakukan tasybih…??

MENIT 02.48: Ust. Somad hafizhahullah mengatakan: “lalu apa makna; ‘Allah duduk di atas kursi’..??”

MENIT 02.53: Ust. Somad lanjut mengatakan; “maknanya adalah ‘kuasa’. Itu makna ‘ar-Rahmaanu ‘alal ‘Arsys-tawaa’, (demikian) kata aqidah Asy’ariyyah, Abul Hasan al-Asy’ary.”

* * *

TANGGAPAN

Sisi Ke-1: Tak satupun ulama Salaf yang menetapkan Allah di atas, yang lantas memaknai ayat (الرحمن على العرش استوى) dengan ungkapan; “Allah duduk di atas kursi”. Namun justru Ust. Somad yang memaknainya demikian. Lagi-lagi ini memunculkan pertanyaan:

Siapa sebenarnya yang telah melakukan tasybih…??

Siapakah di antara ulama salaf yang menafsirkan “ar-Rahmaanu ‘alal ‘Arsys-tawaa” dengan ungkapan; “Allah duduk di atas kursi”…?? Jika ada, di manakah kita bisa mendapati tafsiran tersebut dalam kutub turatsiyyah (kitab-kitab terdahulu) para imam ahlussunnah…?? Di manakah kita bisa menemukan tafsiran tersebut dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahumullahu jami’an...?? Jika tidak ada, maka jangan-jangan tafsiran tersebut hanya ungkapan Ust. Somad sendiri untuk menggiring opini umat bahwa menetapkan Allah di atas ‘Arsy melazimkan membayangkan Allah duduk di atas kursi…??

Sisi Ke-2: Melalui takwil (istawaa menjadi istaulaa) beliau di atas, jelas sekali bagaimana Ust. Somad telah melakukan tahrif atau mengubah makna tanpa dalil atau qorinah yang kuat. Inilah jenis takwil yang terlarang. Bukan cuma tanpa qorinah yang kuat, produk takwil tersebut justru berlawanan dengan banyak dalil-dalil qath’i yang ada.

Tidakkah Ust. Somad menyadari bahwa panutan beliau dalam masalah aqidah, Abul Hasan al-Asy’ary rahimahullah, justru menyebut takwil Istiwaa’ (tinggi di atas) menjadi Istaulaa (berkuasa) sebagai produk takwil sekte Mu’tazilah…??

Dalam kitabnya, Maqalatul Islamiyyin, Imam Abul Hasan al-Asy’ary rahimahullah (wafat: 324/330-H) mengatakan:

وقالت المعتزلة أن الله استوى على عرشه بمعنى استولى

Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa makna ‘Allah itu ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya’ adalah; Istaulaa (berkuasa).” [lih. Maqalatul-Islamiyyin: 1/261, tahqiq: M. Muhyiddin ‘Abdul Hamid].

Dalam kitabnya yang lain, Risalatun Ila Ahli ats-Tsagar, Abul Hasan al-Asy’ary juga mengatakan:

وليس استواؤه على العرش استيلاء كما قال أهل القدر لأنه عز وجل لم يزل مستوليا على كل شيء

Istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy tidaklah bermakna Istaulaa (berkuasa), sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul Qadr (Mu’tazilah). Karena Allah itu senantiasa berkuasa atas segala sesuatu.” [lih. Risalatun Ila Ahli ats-Tsagar, hal. 234, tahqiq: tahqiq : ‘Abdullah bin Syakir Al-Junaidy; Maktabah al-‘Ulum wal Hikam, Cet. 2/1422-H]

Sementara dalam kitab terakhirnya, al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah (hal. 83-84), Abul Hasan al-Asy’ary memaparkan bahwa takwil Istiwaa’ menjadi Istaulaa akan menghilangkan keistimewaan ‘Arsy. Sehingga tak ada bedanya ‘Arsy dengan bumi, jika Istawaa ‘alal ‘Arsy dimaknai Istaulaa ‘alal ‘Arsy (berkuasa atas ‘Arsy). Tak ada bedanya ‘Arsy dengan tempat-tempat yang kotor. Karena Allah juga “berkuasa” atas semua tempat di muka bumi, termasuk tempat-tempat yang kotor. [lih. Tabshiru Dzawil ‘Uqul bi-Haqiqati Madzhabil Asya’irah fil Istidlal bi-Kalamillahi war-Rasul, hal. 101-102, Dr. Ahmad Muhammad an-Najjar, Cet. 1/1431-H]

Lihatlah, justru menurut Imamnya Mazhab Asy’ariyyah, penakwilan Istiwaa’ menjadi Istaulaa (kuasa)—sebagaimana takwil yang dilakukan oleh Ust. Somad—adalah pendapat sekte Mu’tazilah. Namun justru Ust. Somad hafizhahullah salah alamat dengan mengatakan ini adalah aqidahnya Abul Hasan al-‘Asy’ary. Padahal tokoh-tokoh Asy’ariyyah mengakui bahwa beliau berpendapat demikian (yakni: menetapkan Allah di atas ‘Arsy), seperti ar-Razy (lih. Muhashshilu Afkar al-Mutaqaddimin wal Muta-akhkhirin, hal: 437), dan al-Amidy (lih. Abkarul Afkar: 1/461). Namun sayang keduanya justru menyelisihi pendapat sang guru.

Sisi Ke-3: Simak juga perkataan al-Baqillani rahimahullah (wafat: 402-H), seorang tokoh besar Mazhab Asy’ariyyah, berikut ini:

ونقول: استواؤه لا يشبه استواء الخلق

“Kami mengatakan: ‘Istiwaa’-Nya tidak sama dengan istiwaa’ makhluk.” [lihat kitab beliau; al-Inshaf fima Yajibu I’tiqaduhu, hal. 64]

Lihatlah bagaimana al-Baqillani menetapkan sifat Istiwaa’ bagi Allah tanpa tasybih. Juga, beliau tidak menakwilkannya menjadi Istaulaa.

Jadi sebenarnya, dalam ber-mazhab Asy’ary pun, Ust. Somad tidak mengikuti Salaf-nya ‘Asya’iroh. Yang diikuti oleh Ust. Somad dalam masalah ini bukanlah Abul Hasan al-Asy’ary dan pembesar Asya’iroh terdahulu (mutaqaddimin), melainkan tokoh-tokoh Asya’iroh yang hidup belakangan (muta-akhkhirin) semisal ar-Razy yang wafat tahun 606-H (lih. Asas at-Taqdis: 202-203).

(Bersambung ke 3/3, insyaAllah)

(nahimunkar.org)