Sisi Ke-4: Mari sejenak membaca kisah yang menakjubkan berikut ini. Agar semakin nampak jelas kesalahan fatal orang-orang yang mentakwil istawaa menjadi istaulaa.

Abu Sulaiman bin Dawud rahimahullah menuturkan:

“Suatu ketika kami berada di sisi Ibnul A’rabi (wafat: 231-H). Tiba-tiba seorang laki-laki datang lantas bertanya: ‘apa makna firman Allah ini…??:

ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. [QS. Thaha: 5]

Ibnul A’rabi rahimahullah menjawab:

هو على عرشه كما أخبر عز و جل

Maknanya; Dia berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang telah Dia—‘azza wa jalla—kabarkan.”

Laki-laki itu lantas menimpali:

يا أبا عبد الله ليس هذا معناه، إنما معناه استولى

Wahai Abu ‘Abdillah (Ibnul A’rabi), bukan itu maknanya. Akan tetapi maknanya adalah Istaulaa (Dia berkuasa).”

Ibnul A’rabi menjawab:

اسكت! ما أنت وهذا لا يقال: استولى على الشيء إلا أن يكون له مضاد فإذا غلب أحدهما قيل: استولى

Diam kamu! Apa taumu dalam masalah ini..?! Tidaklah dikatakan seseorang ‘istaulaa’ (menguasai) sesuatu melainkan dia memiliki lawan (sengketa). Jika salah seorang di antara keduanya berhasil mengalahkan yang lain, barulah dia dikatakan ‘istaulaa’ (telah menguasai).”

Kisah tersebut shahih, diriwayatkan oleh al-Lalika-i dalam Syarh Ushuli I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (3/399, no. 666, tahqiq: Ahmad bin Mas’ud Hamdan).

Berdasarkan penjelasan Imam Ibnul A’rabi tersebut, maka secara bahasa, mustahil kita akan menakwil istiwaa’ dengan makna istaulaa. Karena akan melahirkan konsekuensi makna yang batil, bahwa Allah sebelumnya tidak berkuasa atas ‘Arsy. Dia baru berkuasa (istaulaa) terhadap ‘Arsy setelah Dia merebutnya dari selain-Nya. Maha Suci Allah dari sifat yang demikian.

* * *

Sisi Ke-5: Adapun ucapan-ucapan para Imam Salaf—yang lebih dulu daripada Abul Hasan al-Asy’ary—tentang penetapan mereka atas sifat istiwaa’ bagi Allah, maka jumlah mereka sangatlah banyak. Semuanya menetapkan, bahwasanya Allah itu tinggi di atas ‘Arsy tanpa takyif (membagaimanakannya), tanpa tasybih dan tamtsil (menyerupakan atau memisalkannya dengan istiwaa’-nya makhluk), tanpa tahrif (merubah lafaz atau maknanya dengan takwil). Mereka menolak takwilan-takwilan Mu’tazilah dan ta’thil Jahmiyyah yang mengarah kepada penolakan bahwa Allah itu berada di atas ‘Arsy.

Di antara mereka ada nama-nama besar seperti; [1]

  1. Imamul Maghazi Muhammad bin Ishaq (wafat: 150-H).Lihat ucapan beliau dalam kitab: al-‘Azhamah (2/460), karya Abus-Syaikh al-Ashbahani.
  2. Imam Abu Hanifah (wafat: 150-H). Lihat ucapan beliau dalamkitab: Syarh al-Fiqh al-Akbar (hal. 25), karya Abu Manshur al-Maturidi. Muraja’ah: Abdullah bin Ibrahim al-Anshari. Cet. India – 1321-H.
  3. Imam Malik bin Anas(wafat: 179-H). Lihat nukilan ucapan beliau dalam kitab: al-Asma was-Shifat (2/305-306), oleh al-Baihaqi. Juga dalam As-Sunnah (1/280), oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.
  4. 4.      Imam Hammad bin Zaid(wafat: 179-H). Lihat ucapan beliau dalamkitab: Siyar A’lamin Nubala (7/461), oleh adz-Dzahabi. Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar (hal. 143), juga oleh adz-Dzahabi.
  5. Imam Ibnul Mubarak(wafat: 181-H). Lihat nukilan ucapan beliau dalam kitab: as-Sunnah (1/111), oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Juga dalam kitab:  ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah (hal. 40), karya ad-Darimi.
  6. Imam Abu Yusuf al-Qadhi(wafat: 182-H). Beliau adalah murid sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah. Lihat nukilan ucapan beliau dalam kitab: Syarh al-Fiqh al-Akbar (hal. 25), karya Abu Manshur al-Maturidi.
  7. Imam bin al-Hasan asy-Syaibani(wafat: 189-H). Beliau juga murid sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah. Lihat nukilan ucapan beliau dalam kitab: Syarh al-Fiqh al-Akbar (hal. 25), karya Abu Manshur al-Maturidi.
  8. Imam asy-Syafi’i(wafat: 204-H). Lihat nukilan pendapat beliau dalam kitab: ‘Aqidatus Salaf wa Ashhabul Hadits (hal. 118 dan 189), oleh ash-Shabuni.
  9. Imam Sa’id bin ‘Amir ad-Dhaba’i(wafat: 208-H). Beliau adalah salah seorang guru dari Imam al-Bukhari. Lihat nukilan pendapat beliau dalam kitab: Khalqu Af’alil ‘Ibad (2/17), oleh Imam al-Bukhari.
  10. 10.  Imam Muhammad bin Yusuf al-Firyabi(wafat: 212-H).Beliau juga salah seorang guru Imam al-Bukhari. Beliau ini bahkan sampai menganggap kafir orang yang menolak Allah itu di atas ‘Arsy. Lihat kitab: Khalqu Af’alil ‘Ibad (2/39), oleh Imam al-Bukhari.

Termasuk juga nama-nama besar ini; Imam Qutaibah bin Sa’id (wafat: 240-H), Imam Ahmad bin Hanbal (wafat: 241-H), Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli (wafat: 258-H), Imam Zur’ah ar-Razi (wafat: 264-H), Imam al-Muzani asy-Syafi’i (wafat: 264-H), Imam Abu Hatim ar-Razi (wafat: 277-H), Imam ‘Isa at-Tirmidzi (wafat: 279-H), Imam al-Kirmani (wafat: 280-H), Imam ‘Utsman ad-Darimi (wafat: 280-H), Imam Bakr bin Abi ‘Ashim (wafat: 287-H), Imam Ja’far bin Abi Syaibah (wafat: 297-H), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di antara murid-murid Imam asy-Syafi’i—selain al-Muzani yang telah disebutkan di atas—ada nama-nama besar seperti; Imam Bakr al-Humaidi asy-Syafi’i (wafat: 219-H), Imam Ya’qub al-Buwaithi asy-Syafi’i (wafat: 231-H), Imam bin Suraij asy-Syafi’i (wafat: 306-H), Imam Ibnu Khuzaimah asy-Syafi’i (wafat: 312-H), dan lain-lain (lihat Ta’liqah ‘ala Syarhis Sunnah lil Imam al-Muzani, hal. 10-19, Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr).

Mereka semuanya mengikuti jejak sang guru (Imam asy-Syafi’i) dalam menetapkan ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya.

* * *

REFLEKSI

Al-Qur’an banyak sekali memuat ayat-ayat yang semua maknanya bermuara pada satu titik kesimpulan; bahwa Allah itu di atas, Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya. Terkadang al-Quran mengisyaratkan keberadaan Allah di atas dengan menyebut sifat-Nya yang Maha Tinggi, seperti dalam ayat-ayat berikut ini:

وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Dialah yang Maha Tinggi dan Maha Agung [QS. al-Baqarah: 255]

سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu yang Maha Tinggi.” [QS. al-A’la: 1]

Terkadang al-Quran dengan tegas berbicara tentang “al-Fauqiyyah” yang menyebut Allah itu berada “fauq”, yaitu di atas. Seperti pada ayat ini:

 يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka (para malaikat itu) takut kepada Tuhan mereka yang ada di atas mereka.” [QS. an-Nahl: 50]

Terkadang al-Quran mengungkapkannya dalam konteks ayat-ayat Allah yang diturunkan dari-Nya, dan urusan-urusan-Nya yang diatur dari langit ke bumi. Seperti dalam ayat:

يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍۢ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” [QS. as-Sajdah: 5]

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran.” [QS. al-Hijr: 9]

Terkadang al-Quran menyebutkan bahwa amalan-amalan yang baik naik kepada-Nya, demikian pula dengan naiknya para Malaikat menuju Allah. Seperti dalam ayat:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ ٱلْكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلْعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya...” [QS. Fathir: 10]

تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍۢ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [QS. al-Ma’arij: 4]

Semua ayat ini—dan masih banyak lagi yang lainnya—kendati dalam konteks yang berbeda-beda, begitu selaras dalam memberikan konklusi makna yang sama, bahwasanya; Allah itu di atas. Belum lagi jika kita bicara hadits-hadits yang begitu banyak jumlahnya, yang tegas dan lugas menyebut Allah di atas langit, ber-istiwaa di atas ‘Arsy-Nya.

Jika sifat Allah yang satu ini harus ditolak, maka konsekuensinya akan ada banyak ayat dan hadits shahih yang harus ditolak atau harus ditakwil maknanya. Juga akan muncul anggapan batil bahwa Allah berbicara lain, namun memaksudkan yang lain. Sementara tidak ada satupun riwayat yang menyebut bahwa Nabi pernah mentakwil atau menafsirkan ayat-ayat tersebut kepada makna yang lain.

* * *

Kita hanya menetapkan Allah berada di atas, Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, semata-mata karena Allah sendiri yang mengabarkan hal tersebut dalam banyak ayat al-Quran. Pantaskah ketika Allah berfirman tentang diri-Nya:

أأمنتم من في السماء

Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas langit…” [QS. al-Mulk: 16]

kemudian dengan lancangnya kita justru menolak keberadaan Allah di atas langit…??

قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ

Katakanlah, siapakah yang lebih tahu, Allah atau kalian…??” [QS. Al-Baqarah: 140]

Rasullullah juga demikian. Beliau menetapkan keberadaan Allah di atas ‘Arsy dalam banyak hadits yang Shahih. Kisah Mi’raj beliau adalah sebesar-besar dalil akan keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas segenap makhluk-Nya.

Lantas, apakah kita akan mengatakan Allah itu tidak berada di atas, sementara menurut Ibnu ‘Abil ‘Izz al-Hanafi (wafat: 792-H) dalam Syarh Aqidah at-Thahawiyyah (1/312, 2/191); ada lebih dari 1000 dalil yang menyebut Allah itu Maha Tinggi dan berada di atas…?? Apakah kita akan menolak keberadaan Allah di atas langit hanya karena persangkaan akal kita yang dhaif lagi kerdil…?? Inilah aqidah ahlussunah sejati tentang sifat-sifat Allah.

* * *

Pertanyaan “di mana Allah”, dan jawaban “Allah di atas langit”, tidak berarti menyamakan Allah dengan makhluk, tidak berarti menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk yang lazim menempati ruang. Juga bukan berarti menganggap Allah itu butuh tempat, atau dilingkupi oleh makhluk ciptaan-Nya berupa tempat atau ruang. Perkaranya tidak sebagaimana yang diungkapkan oleh Ust. Somad pada MENIT 02.38: “Kalau Allah itu duduk di atas kursi (baca: ‘Arsy), berarti kursi itu lebih besar daripada Dia.”

Padahal—sekali lagi—menetapkan Allah berada di atas ‘Arsy tidak melazimkan Allah itu butuh kepada ‘Arsy, tidak juga berkonsekuensi ‘Arsy itu lebih besar daripada Allah. Bukankah langit—yang berada di atas bumi—jauh lebih besar daripada bumi…?? Kendati demikian, langit tidak butuh bumi sebagai tumpuan untuk tetap eksis. Padahal langit adalah makhluk. Maka bagaimana lagi dengan al-Khaliq…??

* * *

Dalam sebuah kitab aqidah Asy’ariyyah yang masyhur dan lazim dijadikan pegangan di Pondok-Pondok Pesantren Nusantara, al-Jawahir al-Kalamiyyah, karya Syaikh Thahir al-Jazairi (wafat: 1338-H/1920-M), termaktub pertanyaan sebagai berikut:

ما المراد بالاستواء في قوله سبحانه وتعالى: الرحمن على العرش استوى

Apa maksud ‘istiwaa’ dalam firman Allah subhanahu wata’ala: ‘Ar-Rahman ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy”..??

Syaikh Thahir al-Jazairi rahimahullah lantas menuliskan jawabannya:

المراد به استواء يليق بجلال الرحمن جل وعلى. فالاستواء معلوم والكيف مجهول. استواؤه على العرش ليس كاستواء الإنسان على السفينة أو الدابة أو السرير مثلا. فمن تصور مثل ذلك فهو ممن غلب عليه الوهم لأنه شبه الخالق بالمخلوقات مع أنه قد ثبت في العقل والنقل أنه ليس كمثله شيء، فكما أن ذاته لا تشابه ذات شيء من المخلوقات كذلك ما ينسب إليه سبحانه وتعالى لا تشابه شيئا مما ينسب إليها.

Maksudnya adalah; Istiwaa’ yang layak dengan keagungan ar-Rahman yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi. Makna Istiwaa’ sudah diketahui (yaitu; tinggi di atas), sementara bagaimana (hakikatnya) adalah perkara yang tidak diketahui. Istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy, tidaklah seperti Istiwaa’-nya manusia di atas bahtera atau di atas hewan, atau di atas ranjang misalkan. Siapa yang memiliki gambaran demikian (pada dirinya), maka dia telah keliru karena dia telah menyamakan Allah Sang Pencipta dengan makhluk. Padahal akal dan naql (al-Quran & as-Sunnah) telah menetapkan bahwa tidak ada suatu apapun yang semisal dengan-Nya.

Sebagaimana dzat-Nya sedikit pun tidak sama dengan dzat makhluk, maka demikian pula dengan (sifat-sifat-Nya) yang dinisbatkan pada diri-Nya (jelas tidak sama dengan sifat makhluk). [lih. al-Jawahir al-Kalamiyyah, hal. 11-12]

Syaikh Thahir al-Jazairi rahimahullah menetapkan sifat istiwaa’ bagi Allah, dan beliau tidak men-tasybih Istiwaa’-nya Allah dengan Istiwaa’-nya makhluk. Karena memang, kesamaan nama atau makna sifat tidak melazimkan adanya kesamaan hakikat pada sifat tersebut. Aqidah Asy’ariyyah mengakui Allah punya sifat mendengar dan melihat (sami’un bashir), makhluk juga punya sifat yang sama. Lantas, bagaimana konsep teologi Asy’ariyyah menjawab “kesamaan” tersebut? Masih dalam kitab al-Jawahir, Syaikh Thahir memberikan jawabannya:

لكن سمعه سبحانه وتعالى ليس كسمعنا… بصره سبحانه وتعالى ليس كبصرنا

akan tetapi pendengaran-Nya subhanahu wata’ala tidak seperti pendengaran kita… penglihatan-Nya juga tidak seperti penglihatan kita.” [lih. al-Jawahir al-Kalamiyyah, hal. 9]

Jika konsep teologi Asy’ariyyah bisa menerima Allah itu mendengar dan melihat tanpa harus sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk, lantas mengapa Ust. Somad hafizhahullah tidak bisa menerima Allah itu ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy tanpa harus sama dengan istiwaa’-nya makhluk…??

Demikianlah, menetapkan sifat Allah yang sepintas memiliki kesamaan dengan sifat makhluk, bukan berarti melazimkan bahwa hakikat sifat Allah itu sama dengan sifat makhluk. Konsep ini yang tampaknya luput dari Ust. Somad hafizhahullah, sehingga beliau menganggap orang yang menetapkan Allah di atas berarti telah menyerupakan Allah dengan makhluk.

Sebagaimana Dzat Allah itu ada namun tidak sama dengan keberadaan dzat makhluk, maka sifat Allah yang melekat pada Dzat-Nya sudah pasti tidak sama dengan sifat makhluk. Makhluk punya sifat hidup, Allah juga punya sifat hidup. Namun kita sepakat bahwa hal tersebut tidak melazimkan sifat hidupnya Allah—yang Maha Sempurna—sama dengan sifat hidupnya makhluk. Demikian juga sifat Allah yang berada di atas ‘Arsy-Nya, tentu tidak bisa dibayangkan sama dengan seorang Raja (baca: makhluk) yang tengah berada di atas singgasananya. Maha Suci Allah dari serupa dengan makhluk-Nya.

Orang-orang yang menolak sifat Istiwaa’ Allah, tanpa sadar telah dipenjara oleh labirin pemikirannya sendiri; bahwa “jika Allah di atas ‘Arsy, berarti Allah menempati ruang, atau dilingkupi oleh ruang, atau ‘Arsy lebih besar daripada Allah, atau Allah butuh untuk duduk di atas ‘Arsy.” Pemikiran seperti ini diawali oleh pengembaraan akal yang terlalu lancang dan berani. Apa hak akal untuk memikirkan hakikat dan kaifiyyah (bagaimana) sifat Allah..?? Memikirkan hakikat “ruh” saja, akal tak sanggup. Padahal “ruh” adalah makhluk. Maka apalagi hakikat Allah, Sang Pencipta ruh itu sendiri…?? Akhirnya akal yang lancang ini jatuh dalam kubangan tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan sifat makhluk), lalu ia berusaha membersihkan dirinya dari kubangan tersebut namun justru dengan menceburkan diri ke dalam kubangan ta’thil (penolakan sifat Allah).

Renungkanlah ucapan Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat: 728-H) berikut ini, kita akan bisa memahami bahwa ungkapan Allah fis-Samaa’ bukan berarti Allah berada di dalam ruang langit (melainkan di atasnya). Sekaligus, kita juga akan mengetahui bahwa tuduhan musyabbihah yang sering dialamatkan kepada beliau adalah tuduhan yang tak berdasar:

السلف والأئمة وسائر علماء السنة إذا قالوا “إنه فوق العرش، وإنه في السماء فوق كل شيء “لا يقولون إن هناك شيئا يحويه، أو يحصره ، أو يكون محلا له ، أو ظرفا ووعاء ، سبحانه وتعالى عن ذلك، بل هو فوق كل شيء ، وهو مستغن عن كل شيء ، وكل شيء مفتقر إليه ، وهو عالٍ على كل شيء ، وهو الحامل للعرش ولحملة العرش بقوته وقدرته ، وكل مخلوق مفتقر إليه، وهو غني عن العرش وعن كل مخلوق ”

Para Salaf, imam-imam dan ulama sunnah, manakala mereka mengungkapkan; ‘Allah berada di atas ‘Arsy’, dan Dia di langit di atas segala sesuatu’, maka mereka tidak memaksudkan—dengan ungkapan tersebut—bahwa ada sesuatu yang meliputi-Nya, atau membatasi-Nya, atau menjadi tempat bagi-Nya dan menampung-Nya, Maha Suci Allah dari sifat yang demikian. Namun Dia berada di atas segalanya. Dia tidak butuh pada segala sesuatu. Justru segala sesuatu butuh kepada-Nya. Dia Maha Tinggi di atas segala sesuatu. Dialah yang—sebenarnya—menopang ‘Arsy dan malaikat-malaikat pemikul ‘Arsy dengan kekuatan-Nya dan kemampuan-Nya. Segenap makhluk membutuhkan-Nya. Dia tidak butuh kepada ‘Arsy, tidak pula segenap makhluk.” [Majmu’ al-Fatawa: 16/100-101]

Inilah aqidah ahlussunnah yang sejati. Adapun aqidah Asy’ariyyah—khususnya generasi yang belakangan—, mereka justru menolak sifat Allah atau menakwilkannya kepada makna yang lain tanpa dalil atau qorinah yang kuat. Dan sangat disayangkan, Ust. Somad hafizhahullah justru mengkampanyekan aqidah semacam ini. Tidakkah Ust. Somad hafizhahullah sadar bahwa ulama Asy’ariyyah mutaqaddimin (yang terdahulu) justru mengakui Allah itu berada di atas ‘Arsy-Nya…?? Sebagaimana yang diakui oleh pembesar mazhab Asy’ary tempo dulu; Abu Bakr al-Baqillani (wafat: 402-H) dalam kitabnya at-Tamhid..?? [lih. Sabilu ar-Rasyad: 5/241, Muhammad Taqiyuddin al-Hilali, Ta’liq: Masyhur Hasan Salman]

Dalam al-Jawahir al-Kalamiyyah (hal. 13), Syaikh Thahir rahimahullah dengan tegas mengakui bahwa makna Istiwaa’ sebagaimana yang beliau paparkan (tanpa tasybih, takyif dan takwil), adalah pemahaman para salaf. Beliau mengatakan:

ينسب ذلك إلى جمهور السلف. وأما الخلف فأكثرهم يفسرون الإستواء باستيلاء…

Pemahaman (tentang Istiwaa’) yang demikian, dinisbatkan kepada mayoritas salaf. Adapun generasi khalaf (yang belakangan), kebanyakan mereka menafsirkan Istiwaa’ dengan makna Istaulaa (berkuasa)…”

Kemudian beliau (Syaikh Thahir al-Jazairi rahimahullah) menegaskan:

مذهب السلف أرجح لأنه أسلم وأحكم

Mazhab Salaf dalam masalah ini lebih kuat, karena ia lebih selamat dan lebih tepat.” [al-Jawahir al-Kalamiyyah, hal. 14]

Kendati sayang, Syaikh Thahir rahimahullah pada akhirnya membolehkan mazhab takwil dalam masalah ini pada kondisi darurat, manakala dikuatirkan sebagian orang akan beranggapan adanya tasybih jika (sifat Istiwaa’ tersebut) tidak ditakwil. [hal. 14-15]. Namun paling tidak, apa yang diungkapkan oleh Syaikh Thahir al-Jazairi al-Asy’ary, bisa mengurai kesalahpahaman orang-orang yang mentakwil makna Istiwaa’ hanya karena beranggapan hal tersebut melazimkan tasybih.

* * *

Akhir kata, artikel ini semata-mata ingin mengungkapkan fakta yang sesungguhnya tentang model aqidah Asy’ariyyah yang diusung oleh Ust. Somad hafizhahullah, bahwasanya pendapat Ust. Somad justru bertentangan dengan tokoh-tokoh Asya’iroh terdahulu, termasuk Imam Abul Hasan al-Asy’ary yang dinisbatkan kepadanya aqidah takwil secara keliru oleh Ust. Somad. Pendapat Ust. Somad dalam masalah Istiwaa’, berseberangan dengan prinsip Rasulullah dan para Sahabatnya, tidak sesuai dengan pendapat as-Salaf as-Shalih, pendapat Imam mazhab yang empat, dan imam-imam ahlussunnah lainnya. Di samping itu, artikel ini juga berharap agar para pembaca tidak mengikuti kesalahan seorang figur yang keliru dalam masalah aqidah. Karena kekeliruan dalam masalah aqidah, sangatlah fatal, terlebih jika itu menyangkut aqidah kita tentang Allah.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang berkata tentang Allah tanpa ilmu. Sebab, dosanya begitu mengerikan, bahkan lebih berat dari dosa kesyirikan. Sebagaimana firman Allah:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْىَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَـٰنًۭا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. [QS. Al-A’raf: 33].

Wallahu a’lam bish-shawab….

* * *

firanda.com

Silakan baca juga artikel sebelumnya:

Tanggapan Atas Tulisan Ust. H. Abdul Somad, Lc., MA. – Bag. 1:

Pendalilan Bid’ah Hasanah dengan Kisah Bilal

http://www.alhujjah.com/2017/12/04/tanggapan-atas-tulisan-ust-h-abdul-somad-lc-ma-bag-1/

[1] Dinukil dari makalah berjudul “’Aqidatus Salaf as-Shalih Ahlis Sunnah wal-Jama’ah fi Shifati al-Istiwa wa ‘Uluwwillah ‘ala Khalqihi”, sumber: http://www.as-salaf.com 

https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1183-antara-ust-abdul-somad-ma-mu-tazilah-imam-abul-hasan-al-asy-ary-pro-nabi-sahabat-serta-imam-imam-salaf

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com

Selesai

(nahimunkar.org)

(Dibaca 381 kali, 1 untuk hari ini)