Antum Muslim, Tapi Marxis?


.
“Bila ada komunis yang mengatakan ia percaya Tuhan, atau Muslim yang mengaku dirinya Marxis, maka ada yang tidak beres padanya.”
(Mantan Wakil Presiden RI – Mohammad Hatta)
_____________
.
Dalam sebuah acara Front Marhaenisme 4 juli 1963, Soekarno menceritakan soal gagasannya tentang Marhaenisme. Gagasan itu, ia gulirkan seiring lahirnya Partai Nasional Indonesia (1927). Marhaenisme, kata Soekarno, adalah ajaran yang mengandung perjuangan untuk menggalang persatuan dalam rumusan konsep “sosio-nasionalisme” dan “sosio demokrasi”.
.
Soal Marhaenisme ini, Soekarno juga menegaskan sangat dipengaruhi ajaran Marxisme. Karenanya, pengetahuan terhadap Marxis ini dianggap sebagai syarat penting guna memahami Marhaenisme. Maka tak heran, dalam Kongres Partindo di Gedung Olah Raga Jakarta pada 26 Desember 1961, Soekarno menegaskan kembali kecintaannya terhadap Marxisme dengan kalimat berikut, “Marhaenisme adalah Marxisme yang dijalankan di Indonesia.”
.
Bagi Soekarno, orang yang Marhaenis, tetapi tidak menjalankan Marxisme di Indonesia adalah Marhaenis Gadungan. Selanjutnya, kata Soekarno, seorang yang mengaku Marxis adalah orang yang tidak antipati terhadap keberadaan Komunis.
.
Sungguh ini pernyataan yang disayangkan. Siapa pun tahu, Komunisme di Indonesia pernah menoreh sejarah dengan tinta ‘merah yang baunya hanyir’ (red_darah). Di antaranya pada peristiwa pemberontakan Madiun 1948. Mereka membunuh, membantai, menghina ajaran agama, dan melecehkan Tuhan.
.
Memang, jargon ideologis Marxis soal nasib kesejahteraan rakyat, perlawanan terhadap kelompok borjuis pernah membius sebagian umat Islam. Tahun 1927, di Minangkabau – Sumatera Barat terjadi pemberontakaan atas tingginya beban pajak yang menghimpit mereka. Saat itu, dengan kekuatan propaganda, PKI berhasil menghasut rakyat Minangkabau.
.
Adalah Haji Datuk Batuah yang menjadi tokoh PKI berpengaruh saat itu. Predikat ‘haji’ yang dimiliki Batuah membuat gerakan Komunisme di Sumbar menjadi unik, bahkan terkesan absurd . Selain Batuah, di Jawa Tengah juga muncul sosok komunis bertitel haji. Ia adalah Haji Misbach tokoh yang cukup dikenal di bilangan Solo. Bahkan, terang-terangan Misbach ini mengatakan, “Seorang muslim tidak bisa disebut Muslim Sejati jika ia tak meyakini kebenaran komunisme.”
.
Seperti halnya Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta pun sempat mempelajari betul Marxisme. Bedanya, ia tak pernah menyatakan dirinya Marxis. Bahkan ia melontarkan sindiran yang sangat telak dan terkenal saat itu. “Bila ada komunis yang mengatakan ia percaya pada Tuhan, atau Muslim yang mengaku dirinya Marxis, maka ada yang tidak beres padanya,”
.
Setali tiga uang, Tafsir al Azhar karya Buya Hamka
menerangkan tentang Surat Yusuf : 2. ” Adalah satu hal yang tak bisa diterima akal; mengaku Islam, mengikut perintah Allah dalam hal sembahyang (shalat), tetapi mengikuti teori manusia dalam urusan pemerintahan.”
.
Bahkan, Taufik Ismail pernah bercerita ihwal percakapan dirinya dengan kawannya yang seorang Marxis, yang taat menjalankan shalat. Berikut kutipan lengkapnya :
.
“Kau kan Marxis, kenapa kau shalat,” tanya saya (red_Taufik Ismail).
.
” Lho, memangnya kenapa?” balik dia bertanya. “Tidak dilarang, kok,”
.
“Kau Marxis sejati?” tanya saya lagi.
.
“Ya, begitulah,”
.
” Heumh ,, Begini, Bung.. ada kutipan yang sangat terkenal dari Marx, bunyinya begini. Tuhan itu konsep yang sangat menjijikan. Sesuatu yang menjijikan masa disembah? yang benar saja,”
.
“Apa iya, Marx bilang begitu?”
.
“Masa kau tidak tahu? Kalau begitu kau bukan Marxis sejati,” kata saya. Nampak dia tersinggung karena dalam kursus kader dia sudah tingkat advanced.
.
“Belum pernah dengar tuh,” jawabnya.
.
“Nah, sekarang kau sudah dengar. Jadi bagaimana?”
.
“Yah, aku ambil yang baik-baiknya sajalah. Misalnya analisa sosialnya,”
.
“Oh, jadi ambil sebagian-sebagian begitu? Yang jelek-jeleknya tidak?”
.
“Ya, Betul.”
.
“Kalau begitu, kau bukan Marxis sejati, dan juga bukan muslim sejati. Serba tanggung, ke sini buntung ke sana buntung,” debat saya..
.
.
(Dirangkum dari buku ‘Dilema Mayoritas’, karya Artawijaya, hlm. 74-79)

Via akun

Damopolii Arch …


***

Tafsir An Nisa Ayat 141-147

Ayat 141-143: Ragu-ragunya orang-orang munafik, penipuan yang hendak mereka lakukan dan malasnya mereka

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا (١٤١) إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا (١٤٢)مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لا إِلَى هَؤُلاءِ وَلا إِلَى هَؤُلاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا (١٤٣

Terjemah Surat An Nisa Ayat 141-143

141. (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu[1]. Apabila kamu mendapat kemenangan[2] dari Allah mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?”[3] Dan jika orang kafir mendapat bagian[4] (kemenangan), mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu[5], dan membela kamu dari orang-orang mukmin?”[6] Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari kiamat[7]. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman[8].

142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah[9], dan Allah akan membalas tipuan mereka[10]. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas[11]. Mereka bermaksud riya’[12] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit[13].

143. Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)[14], Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya[15].

Ayat 144-145: Orang-orang munafik adalah orang yang paling berbahaya bagi kaum mukmin daripada orang kafir, oleh karenanya siksaan untuk mereka lebih keras pada hari Kiamat daripada orang-orang kafir

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا (١٤٤) إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا      (١٤٥)

Terjemah Surat An Nisa Ayat 144-145

144. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali[16] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang nyata bagi Allah (untuk menghukummu)?[17]

145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka[18]. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

Ayat 146-147: Tidak diterimanya tobat kecuali dengan syarat-syaratnya, serta dorongan untuk bertobat dan bersyukur, dan bahwa karunia Allah lebih luas lagi

إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا    (١٤٦) مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا (١٤٧

Terjemah Surat An Nisa Ayat 146-147

146. Kecuali orang-orang yang bertobat[19] dan memperbaiki diri[20] dan berpegang teguh pada (agama) Allah serta dengan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah[21]. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman[22] dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar[23] kepada orang-orang yang beriman.

147. Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur[24] dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri[25] lagi Maha Mengetahui.


[1] Mereka pun sudah menyiapkan alasan jika terjadi sesuatu yang menimpa kaum mukmin agar tidak disalahkan.

[2] dan ghanimah.

[3] Yakni sama denganmu dalam agama dan ikut berjihad. Mereka memperlihatkan, bahwa diri mereka ikut bersama kaum mukmin, baik lahir maupun batin agar tidak disalahkan, tidak dicela dan agar mereka mendapatkan ghanimah dan fai’ (harta rampasan tanpa melalui peperangan).

[4] Digunakan kata “nashiibun” (bagian) bukan fat-h (kemenangan), karena orang-orang kafir tidak mendapatkan kemenangan yang menjadi awal untuk kemenangan selanjutnya. Kalau pun mendapatkan kemenangan, namun itu tidak selamanya.

[5] Yaitu dengan membukakan rahasia-rahasia orang mukmin dan menyampaikan hal ihwal mereka kepada orang-orang kafir, dan kalau pun mereka berperang bersama kaum mukmin, maka mereka berperang dengan tidak sepenuh hati.

[6] Dengan tidak membantu mereka dan menyampaikan kepada kaum kafir keadaan kaum mukmin atau dengan menyalahkan pendapat kaum mukmin, membuat mereka benci berperang, memberikan bantuan kepada musuh dsb.

[7] Dengan memisahkan orang-orang mukmin dan orang-orang munafik, serta memasukkan orang-orang mukmin ke dalam surga, sedangkan orang-orang munafik dimasukkan ke dalam neraka.

[8] Oleh karena itu, akan senantiasa ada segolongan kaum mukmin yang tegak di atas kebenaran meskipun mereka tidak dibantu dan banyak yang menyelisihi, dan Allah akan senantiasa mengadakan sebab kemenangan bagi kaum mukmin dan menyingkirkan kekuasaan kaum kafir terhadap kaum mukmin. Oleh karenanya, meskipun sebagian kaum muslim berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir, namun mereka tetap dihormati, tidak direndahkan dan tidak dipermasalahkan, bahkan mereka mendapatkan kemuliaan yang sempurna dari sisi Allah, wal hamdulillah awwalan wa aakhira wa zhaahiran wa baatinan.

[9] Dengan menampakkan di luar sesuatu yang berbeda dengan keadaan di dalam dirinya, oleh karenanya diberlakukan kepada mereka hukum-hukum dunia berdasarkan zhahirnya. Mereka mengira bahwa hal itu tidak diketahui Allah dan tidak ditampakkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, padahal Allah menipu mereka, bahkan sikap mereka ini saja sebenarnya sudah menipu diri mereka sendiri, dan tipuan apa yang lebih besar daripada orang yang mengusahakan sesuatu yang merugikan dirinya. Hal itu juga menunjukkan kurangnya akal pemiliknya, di mana ia menggabung maksiat dan memandangnya baik. Termasuk tipuan-Nya kepada mereka (kaum munafik) adalah seperti yang disebutkan dalam surat Al Hadid ayat 13, “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”

[10] Maksudnya Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani seperti halnya orang-orang mukmin dilayani. Namun demikian, Allah telah menyediakan bagi mereka neraka sebagai pembalasan terhadap tipuan mereka itu.

[11] Padahal shalat merupakan amal ibadah yang paling utama. Rasa malas dan bosan tidaklah muncul kecuali karena hilangnya rasa cinta kepadanya di hati mereka. Jika sekiranya hati mereka rindu kepada Allah dan berharap terhadap apa yang ada di sisi-Nya, tentu tidak muncul sikap malas.

[12] Riya’ adalah melakukan suatu amal tidak untuk mencari keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat. Orang munafik melakukan shalat dengan maksud dipuji manusia, dihormati dan dimuliakan dan tidak melakukannya dengan ikhlas karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[13] Maksudnya mereka shalat hanya sesekali saja, yaitu apabila mereka berada di hadapan orang lain. Memang demikian, karena mengingat Allah tidaklah muncul kecuali dari orang mukmin yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan mengagungkan-Nya.

[14] Mereka memberikan batin mereka kepada orang-orang kafir dan memberikan zhahir (laihiriah) mereka kepada kaum mukmin.

[15] Yakni kamu tidak akan menemukan cara untuk memberinya petunjuk dan tidak akan mendapatkan sarana yang dapat menghentikan kesesatannya. Hal itu, karena pintu rahmat telah tertutup baginya dan digantikan oleh hukuman. Sifat-sifat orang munafik yang disebutkan dalam ayat di atas menunjukkan bahwa kaum mukmin tidak demikian sifatnya, bahkan sebaliknya, mereka (kaum mukmin) jujur luar dan dalam serta berniat ikhlas, semangat dalam shalat dan beribadah serta banyak mengingat Allah, mereka telah ditunjuki Allah dan diberi taufik-Nya ke jalan yang lurus. Oleh karena itu, hendaknya seorang yang berakal memperhatikan keadaan dirinya, apakah sifat-sifat orang mukmin ada dalam dirinya ataukah sifat-sifat orang munafik yang ada di dalam dirinya, kemudian diperbaikinya.

[16] Wali jamaknya auliyaa, yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung, penolong dan pemimpin.

[17] Setelah disebutkan sebelumnya, bahwa di antara sifat orang-orang munafik adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan kaum mukmin, maka dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta’aala melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin melakukan tindakan yang sama dengan orang-orang munafik itu, dan bahwa perbuatan itu memberikan alasan yang nyata bagi Allah untuk menghukum kamu, karena Dia telah memperingatkan agar tidak melakukannya serta memberitahukan kepada kita mafsadatnya. Jika masih ditempuh juga setelah diperingatkan, maka ia layak mendapatkan hukuman. Dalam ayat ini terdapat dalil sempurnanya keadilan Allah, dan bahwa Allah tidak mengazab seseorang sebelum tegaknya hujjah. Dalam ayat ini juga terdapat peringatan dari mengerjakan maksiat, karena pelakunya sama saja memberikan alasan bagi Allah untuk menghukumnya.

[18] Hal itu, karena mereka berbuat syirk kepada Allah, memerangi rasul-Nya, membuat makar dan tipu daya terhadap kaum mukmin serta melancarkan serangan kepada kaum mukmin secara diam-diam. Mereka sudah merugikan umat Islam, namun mereka disikapi oleh kaum muslim secara baik karena zhahirnya yang menampakkan keislaman. Mereka memperoleh sesuatu yang sebenarnya tidak mereka peroleh. Karena inilah mereka mendapatkan siksa yang paling keras dan tidak ada yang menolong mereka dari azab itu. Ayat ini adalah umum, mengena kepada setiap orang munafik, kecuali orang yang dikaruniakan Allah bertobat dari segala maksiat.

[19] Dari kemunafikan.

[20] Memperbaiki diri berarti mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

[21] Yakni membersihkan amalan mereka dari riya’ dan kemunafikan. Disebutkan kata “berpegang teguh kepada Allah dan berbuat ikhlas” setelah kata memperbaiki diri meskipun sudah cukup dengan kata-kata “memperbaiki diri” adalah karena pentingnya masalah tersebut, khususnya dalam usaha membersihkan diri dari nifak. Oleh karenanya, kemunafikan sangat sulit disingkirkan kecuali dengan benar-benar berpegang teguh kepada Allah, kembali dan meminta kepada-Nya agar disingkirkan serta berbuat ikhlas.

[22] Baik ketika di dunia, di alam barzakh maupun di hari kiamat.

[23] Yaitu surga.

[24] Syukur artinya tunduknya hati dan pengakuannya terhadap nikmat Allah, lisan memuji Allah dan anggota badan mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat.

[25] Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya dengan memberi pahala terhadap amal-amal hamba-Nya, memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat-Nya. Oleh karena itu, barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberikan ganti yang lebih baik./ http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-nisa-ayat-141-147.html

***

 

Terpapar Paham Komunis




Ketika Prof Suteki dalam ILC tvOne (18/2/2020) menyebut Prof Yudian Wahyudi yang  berpendapat “Agama adalah musuh terbesar Pancasila” sebagai terpapar paham Marxisme Leninisme dan Komunisme dengan indikasi sama dengan dan serupa dengan kalimat kaum komunis agama sebagai racun, lalu ramai orang berpendapat bahwa itu tidak mungkin, sebab Prof Yudian itu Kyai (NU, red NM) Rektor IAIN Sunan Kalijogo Jogja tidak mungkinlah beliau terpapar Komunisme.

Saya agak merasa tercengang juga banyak orang lupa sejarah atau sengaja melupakan bahwa para tokoh tokoh PKI di Indonesia itu adalah awalnya seorang Kyai putra Kyai aktifis Organisasi Islam yang akhirnya keblinger oleh paham Komunisme lalu mereka berubah memusuhi agama terutama Islam, itulah goresan sejarah kita, mari kita baca ulang mari kita bongkar lagi.. saya kemukakan di sini 3 tokoh saja:

1. Kyai Ahmad Dasuki Siradj sejak kecil mondok di Jamsaren solo, Pondok pesantren mambaul di solo lalu di Rembang, aktif dalam pergerakan Serikat Islam lalu berkenalan dengan ISDV lanjut jadi tokoh PKI*.

2. Musso atau Munawar Musso putra kyai besar di Kyai Hasan Muhyi di Kediri awalnya berguru pada HOS Tjokroaminoto bersama Bung Karno lalu berkenalan dengan ISDV juga lanjut jadi tokoh PKI memusuhi Islam memberontak dan berkhianat pada Kemerdekaan

3. Tan Malaka dari Tanah Sumatra kecilnya pandai mengaji khatam quran lanjut berkenalan dengan ISDV lanjut menjadi tokoh PKI

Mereka semua punya latarbelakang yang kental dengan agama namun keblinger dengan idiologi komunis melalui pikiran-pikiran yang intinya akhirnya menyebut agama adalah racun masyarakatAgama adalah musuh terbesar Pancasila ini sudah serupa dengan pikiran yang keblinger tersebut.

Jaman itu hanya berputar kadang mengulang apa yang sudah pernah terjadi, sebuah kebodohan  yang besar bila kita tidak bisa mengambil hikmahnya.

By Agus Maksum [fb]

 Ketika Prof Steven Suteki dalam ILC menyebut Prof Yudian Wahyudi yang berpendapat Agama adalah musuh terbesar Pancasila…
Dikirim oleh Agus Maksum pada Jumat, 21 Februari 2020

Video:

https://youtu.be/PaFuKgc7Sm4

[portal-islam.idSelasa, 25 Februari 2020  CATATAN

***

*Kyai Dasuki Solo

*(Para muballigh di Jawa terutama sekitar Solo Jawa Tengah tahun 1970-an setelah dibubarkannya PKI 1966 karena PKI berontak 1965 yang ke-empat kalinya, kemudian banyak yang mengisahkan bahwa Kyai Dasuki di zaman PKI mempengaruhi Umat Islam untuk masuk PKI dengan berdalil memotong ayat, tidak diteruskan secara utuh pengertiannya, yaitu ayat فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, [Al Ma’un:4]

Ketika ayat itu tidak diteruskan, maka pengertiannya justru orang yang shalat lah yang celaka. Padahal yang celaka adalah yang shalatnya disebut dalam ayat-ayat berikutnya, . (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Selengkapnya sebagai berikut:

{فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ} [الماعون: 4 – 7]

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, [Al Ma’un:4]

5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, [Al Ma’un:5]

6. orang-orang yang berbuat riya’, [Al Ma’un:6]

7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. [Al Ma’un:7]

Jadi Kyai PKI yang di Jawa dikenal dengan Kyai Dasuki (Solo) itu menggunakan ayat untuk mem-PKI-kan Umat Islam dan menjerumuskan, bahkan agar tidak shalat. Padahal orang yang tidak shalat bahkan akan disiksa sepedih-pedihnya di neraka Saqar.

{ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (46) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ } [المدثر: 42 – 47]

42. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” [Al Muddatstsir:42]

43. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, [Al Muddatstsir:43]

44. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, [Al Muddatstsir:44]

45. dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, [Al Muddatstsir:45]

46. dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, [Al Muddatstsir:46]

47. hingga datang kepada kami kematian”. [Al Muddatstsir:47]

Dahsyatnya siksa di neraka Saqar dijelaskan dalam ayat suci Al-Qur’an:

{سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ } [المدثر: 26 – 30]

26. Kelak, Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar[1].

27. Dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu[2]?

28. Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan[3],

29. yang menghanguskan kulit manusia.

30. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)[4]. (QS Al-Muddatstsir: 26-30)


[1] Saqar adalah salah satu nama neraka Jahannam.

[2] Kalimat ini adalah untuk memperbesar perkaranya.

[3] Yang dimaksud dengan ‘tidak meninggalkan dan tidak membiarkan’ ialah bahwa mereka dalam keadaan tidak hidup dan tidak mati.

[4] Yang kasar dan keras; yang tidak mendurhakai perintah Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan.

http://www.tafsir.web.id/2013

 
 

Itulah contoh nyata yang tercatat dalam sejarah bahkan masyarakat Islam pun mengecamnya karena mengingat ganas dan kejamnya PKI dalam membantai Umat Islam dan 4 kali memberontak Indonesia malah ada kyai atau ulama atau tokoh Islam yang mempengaruhi untuk masuk PKI bahkan pakai jualan faham komunisnya dengan menyalah gunakan ayat suci Al-Qur’an pedoman Umat Islam sedunia. (red NM)

https://www.nahimunkar.org/terpapar-paham-komunis/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.276 kali, 1 untuk hari ini)