Terjadi perselisihan pandangan dan kesimpulan pada para ulama. Sebagian mengatakan ia haram, sebagian mengatakan ia halal. Yang mengatakan ia haram, disebabkan ia bertaring dan menyerang mangsa (termasuk manusia juga) dengan taringnya. Yang mengatakan ia halal, disebabkan ia dikelompokkan ke dalam hewan air.

Kendatipun kedua kesimpulan bertentangan, melainkan ia adalah khilafiyyah yang mu’tabar.

Kami lebih condong kepada pendapat keharaman buaya. Mungkin ulama yang mengatakan ia halal, beralasan buaya adalah hewan air. Tapi pandangan ini perlu ditinjau lebih lanjut. Sebabnya, buaya adalah hewan yang sangat mampu hidup di darat.. Kerap kita lihat buaya istirahat di tepian sungai atau kolam. Berjam di sana. Walau disetujui, bahwa buaya juga bisa hidup bertahan lama di dalam air. Karena itu, buaya disebut ulama sebagai hewan barma’iy (برمائي), yaitu mampu bertahan hidup di darat maupun di air.

Ketahuilah, alasan pengharaman suatu hewan disebabkan berstatus amphibi, itu kurang kuat. Maka, kita tidak memakai alasan tersebut.

Dan buaya, memiliki beragam aktifitas di darat. Berjemur, misalnya. Berjam-jam tahan. Juga, ada aktifitas yang disebut estivasi, atau kadang orang awam mengatakan ‘hibernasi’. Buaya kadang tidur di suatu lubang darat sampai berhari-hari. Kenyataan ini menunjukkan bahwa melabeli buaya sebagai hewan air secara mutlak: perlu ditinjau kembali.

Maka, kita mengacu kepada illat lain, yaitu: taringnya. Seandainya ia murni hewan air atau dominan di air dan tak tahan lama di darat, maka ia akan dihukumi halal sekalipun bertaring, karena masuk ke keumuman hadits penghalalan bangkai hewan air. Tapi, ia tidak pantas disebut mutlak hewan air. Ia pula binatang buas. Dan boleh ditambah dengan sebab lain: ia adalah hewan khabits (menjijikan) menurut nalar yang sehat. Tanyakan pula kepada pihak yang menghalalkan: meskipun Anda menghalalkan, Anda pun merasa jijik dan aneh memakan daging buaya?

Karena itu, ulama yang mengharamkan buaya, beralasan: [1] Ia hewan bertaring, [2] Ia memiliki karakter buas, dan [3] Ia menjijikan, menurut keumuman nalar sehat manusia.

Konsekuensi dari pengharaman tersebut:

a. Tidak boleh memakannya

b. Kulitnya tidak boleh dimanfaatkan, sekalipun telah disamak, menurut pendapat yang lebih kuat kami pilih. Sehingga tas kulit buaya milik Oemar Bakri perlu diganti, begitu pula dengan kulit ular asli, kulit harimau asli dan seterusnya. Kesemua itu dihukumi najis.

c. Tidak sah jual beli barang-barang tersebut.

Selamat menyaksikan pembahasan fiqh berikut. Insya Allah bermanfaat.

HALAL HARAM HEWAN AIR

video:

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)