Apakah Itu Air Mata ‘Buaya’ Ala Tangis Ikhwah Yusuf?

Walaupun lafal cicak untuk KPK dan buaya untuk Polri agar tak digunakan karena menyangkut kewibawaan lembaga negara di Indonesia, namun di media massa masih tetap beredar dan dihafal orang.

Bahkan kadang dikaitkan dengan kejadian tertentu, hingga menjadi ramuan kata yang khas. Sampai-sampai, Susno Duadji dari Polri yang bersumpah —tidak pernah mendapatkan Rp 10 M dari siapa pun terkait dengan kasus Bank Century– di depan Komisi III DPR RI kemudian dia menangis, Kamis malam (5/11/2009) hingga Jumat (6/11/2009) dini hari; tiba-tiba muncul dalam berita, satu baris kalimat: Apakah itu air mata ‘buaya’? Entahlah.

Kalau tangis pejabat Polri itu benar air mata ‘buaya’, misalnya, maka kisah terkenal yang tercantum dalam Al-Qur’an berupa tangis dusta yang dilakukan saudara-saudara (ikhwah) Yusuf merupakan pelajaran sangat berharga. Mereka menangis pun di waktu ‘isya’, untuk menunjukkan kesedihan, padahal dusta dan rekayasa belaka.

Allah Ta’ala mengisahkan rekayasa tangis dusta itu sebagai berikut:

لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ ﴿٧﴾ إِذْ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ ﴿٨﴾ اقْتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضاً يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُواْ مِن بَعْدِهِ قَوْماً صَالِحِينَ ﴿٩﴾ قَالَ قَآئِلٌ مَّنْهُمْ لاَ تَقْتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ ﴿١٠﴾ قَالُواْ يَا أَبَانَا مَا لَكَ لاَ تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ ﴿١١﴾ أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَداً يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿١٢﴾ قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَن تَذْهَبُواْ بِهِ وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ ﴿١٣﴾ قَالُواْ لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذاً لَّخَاسِرُونَ ﴿١٤﴾ فَلَمَّا ذَهَبُواْ بِهِ وَأَجْمَعُواْ أَن يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمْرِهِمْ هَـذَا وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ ﴿١٥﴾ وَجَاؤُواْ أَبَاهُمْ عِشَاء يَبْكُونَ ﴿١٦﴾ قَالُواْ يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِندَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنتَ بِمُؤْمِنٍ لِّنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ ﴿١٧﴾ وَجَآؤُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْراً فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ ﴿١٨﴾

007. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.008. (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.009. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” 010. Seseorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”011. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.012. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.”013. Berkata Ya`qub; “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya.”014. Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.” 015. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) kami wahyukan kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.”016. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di waktu ‘isya’ sambil menangis.017. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.”018. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya`qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS Yusuf/ 12: 7-18).

Betapa indahnya jawaban Nabi Ya’qub ‘alaihis salam terhadap rekayasa dan kedustaan mereka : “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Adapun tangis pejabat Polri di hadapan DPR RI adalah berkaitan dengan kasus Bank Century, mereka diduga mendapatkan uang risywah (sogok) Rp 10 miliar. Dalam rapat itu mereka menepisnya dengan tangisan. “Drama” tangisan itu bukan hanya dilihat oleh anggota DPR Komisi III saja tetapi jutaan orang, karena ditayangkan di televisi ataupun media lainnya. Maka tanggapan dari masyarakat pun bermunculan, di antaranya tangisan itu ditanggapi dengan ungkapan:

”Kalau selama ini diketahui tidak pernah memegang sumpah jabatannya, terus apa bisa dipercaya sumpah mereka di depan DPR ?” (nahimunkar.com, Rapat DPR–Polri Dinilai Hanya Dagelan Apalagi Sumpahnya, 9:49 pm).

Berita tentang rapat dihiasi tangis itu sebagai berikut:

Menebak Air Mata Susno

Anwar Khumaini – detikNews

Jumat, 06/11/2009 06:03 WIB

Jakarta – Kabareskrim yang mundur sementara, Komjen Pol Susno Duadji menangis. Di hadapan jutaan mata rakyat Indonesia, pria yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi pusat cercaan ini akhirnya menunjukkan sisi manusianya, menitikkan air mata. Polisi juga manusia.

Drama menangisnya Susno ini terjadi saat Mabes Polri yang diwakili langsung oleh Kapolri dan jajarannya, termasuk Susno, sedang mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/11/2009) malam hingga Jumat (6/11/2009) dini hari. Susno paling menjadi pusat perhatian.

Hampir semua anggota Dewan mempertanyakan dugaan penyuapan Rp 10 miliar yang disangkakan kepadanya sesuai dengan rekaman yang diduga berisi upaya kriminalisasi KPK. Bahkan, perwakilan dari Fraksi PKS meminta kepada Susno untuk bersumpah jika benar-benar tidak menerima suap.

Menjawab tantangan tersebut, Susno tidak gentar. Pria berkacamata ini pun mengucapkan asma Tuhan untuk menyatakan bahwa dirinya tidak menerima uang Rp 10 miliar terkait dengan kasus Bank Century.

“Sebagai seorang muslim, lillahi taala, saya tidak pernah mendapatkan Rp 10 M dari siapa pun terkait dengan kasus Bank Century,” sumpah Susno sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.

Susno tampak lantang memberi pernyataan. Sedikit pun tidak ada rasa grogi dari raut mukanya. Saat hadir, dia tidak mengenakan baju seragam kebesaran Polri. Susno mengenakan jas warna abu-abu dipadu dengan dasi warna merah.

Suasana hening sangat terasa saat Susno memberikan klarifikasi. Para anggota Dewan dan kepolisian pun tampak mendengar dengan seksama penjelasan Susno.

Susno mengaku, selama menjadi ‘target utama’ dalam kasus yang memeras perhatian publik ini, keluarganya merasa malu. Bahkan istrinya malu untuk cuma sekadar keluar rumah lantaran suaminya diduga menerima uang Rp 10 miliar.

Sehingga, forum semalam dan dini hari tadi dijadikan Susno sebagai sarana untuk klarifikasi serta bantahan dirinya atas dugaan yang menjeratnya. Di akhir sambutan, Susno pun tak mampu membendung air matanya. Di balik matanya yang sipit, butiran-butiran air mata serta matanya yang terlihat memerah tertangkap kamera televisi yang menyiarkannya secara live.

Apakah itu air mata ‘buaya’? Entahlah. Namun yang jelas publik mendapatkan suguhan lain dari citra yang selama ini melekat padanya.

Tak cuma menangis sedih, Susno juga menyatakan bahwa tak selamanya sesuatu yang menjadi kepercayaan dan keyakinan banyak orang adalah selalu benar. Dia mengumpamakan ribuan tahun lalu, di mana keyakinan masyarakat pada waktu itu meyakini bahwa Matahari berputar mengelilingi Bumi. Namun, belakangan, sesuai dengan fakta ilmiah, ternyata bumilah yang mengelilingi Matahari.

Kalau ditelusuri, yang Susno ceritakan adalah kisah ilmuwan legendaris Galileo Galilei yang harus menerima hukuman pancung dari gereja lantaran bersikukuh berpendapat bahwa Bumi itu berbentuk bulat dan mengelilingi Matahari.

Jadi, ‘tangisan buaya’-kah yang Susno suguhkan tadi malam? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. (anw/irw)

http://www.detiknews.com/read/2009/11/06/060329/1236285/10/menebak-air-mata-susno

(Redaksi nahimunkar.com)

(Dibaca 348 kali, 1 untuk hari ini)