ilutrasi / instagram

Yang peduli mengenai yang berprestasi dalam keislaman tentunya hanyalah yang menghargai Islam. Beda dengan yang dianggap berprestasi dalam olah badan, misalnya hanya bisa melancangi yang lain dalam lari 100 meter saja lalu jadi heboh dan banyak yang mau memberi sumbangan, karena katanya mengharumkan nama bangsa. Bangsa lari?

Lihat saja contoh nyata dari sejak sebelum-sebelum ini pula. Berbeda jauh bila yang berprestasi itu adalah unggul dalam hal menghafal ayat-ayat dan memahami tafsir Al-Qur’an serta hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seakan negeri ini mingkem.

Misalnya, yang menghajikan anak-anak negeri ini yang berprestasi dalam keIslaman justru biasanya dari penguasa atau lembaga negeri Islam yang memang menghargai Islam. Bukan yang memiliki anak-anak negeri ini sendiri.

Itu pertanda sejatinya kan ga’ “doyan” Islam walau ga’ mau dibilang Islam KTP. Bahkan, Islam KTP (kartu tanda penduduk) saja masih mereka rasakan berat, hingga kini telah mereka upayakan untuk dibuang pula kolom agama itu dalam KTP, dan sudah pada tahap bisa diisi dengan aliran ketidak percayaan terhadap Islam. (Sudah sampai sebegitu, masih ada yang percaya bahwa mereka ‘doyan’ Islam?).

  • Ya “doyan” lah, kalau itu ada duitnya. Misalnya mengenai haji salah satu rukun Islam, itu apakah mereka biarkan untuk diurusi saja oleh yang memang kental dan aktif dalam Islamnya.
    Sebaliknya, rukun-rukun (pokok) Islam yang tidak ada duitnya, seperti syahadat, shalat, dan puasa ya tidak diurus. Beda dengan zakat dan haji, ya diurus lah. Kan ada duitnya dan sangat besar. Sampai-sampai ada yang konon dilontarkan duit haji itu (dipinjam?) untuk infrastruktur segala. Begitulah adanya.

Ketahuilah bahwa Islam adalah agama untuk mengabdi dengan ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala, sedang yang pilih-pilih Islam ketika ada duitnya itu entah apa namanya.

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 476 kali, 1 untuk hari ini)