.

 

  • Menjelang pemilu sekarang ini, muncul partai “Ali-Baba”, diluar nampak partai itu adalah partainya “Ali” (pribumi), tetapi yang mengendalikan dan yang menguasainya si “baba” alias cina.
  • Banyak sekarang kalangan pengusaha cina yang memasuki ranah politik, dan ingin mencari payung politik. Di DKI ada Ahok, di Hanura ada Hary Tanoe, dan di PKB ada Rudi Kirana. Semuanya menjalin hubungan karena bertemunya kepentingan diantara mereka, dan saling memanfaatkan, “bisnis is usually”.

JAKARTA  –  Menjelang pemilu rupa-rupa perilaku para pemangku partai politik. Tentu, langkah politik yang paling baru, bergabungnya “Bos” Lion Air, Rusdi Kirana dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan diangkat menjadi wakil ketua umum (Waketum) oleh Muhaimin Iskandar. Ini hanyalah siapa memanfaatkan siapa. Azasnya hanyalah kepentingan. Betapapun dipoles dengan sejumlah retorika “gombal”.

Rusdi Kirana “sukses” di bisnis maskapai penerbangan Lion, kemudian ingin memiliki payung politik, dan kemudian mengakuisisi PKB, dan diganjar dengan jabatan Waketum. Sementara  itu, PKB dan Cak Imin (Muhaimin Iskandar) membutuhkan “pelumas” untuk menggerakkan mesin partainya. Maka, kedua kepentingan itu bertemu, antara Rusdi Kirana dengan PKB alias Cak Imin.

Sama halnya, Hary Tanoe yang mula-mula berkongsi dengan Suryo Paloh dan Nasdem, kemudian pecah kongsi, dan sekarang Hary Tanoe nempel di Partai Hanura. Kebetulan, Hanura dan Wiranto memerlukan “pelumas” yang akan digunakan menggerakan mesin partainya. Kedua kepentingan antara Hanura dan Hary Tanoe bertemu.

Banyak sekarang kalangan pengusaha cina yang memasuki ranah politik, dan ingin mencari payung politik. Di DKI ada Ahok, di Hanura ada Hary Tanoe, dan di PKB ada Rudi Kirana. Semuanya menjalin hubungan karena bertemunya kepentingan diantara mereka, dan saling memanfaatkan, “bisnis is usually”.

Meskipun, Rusdi Kirana, bergabugnya dengan PKB, dia katakan karena adanya rasa memiliki utang budi khusus pada Gus Dur dan NahdlatulUlama (NU), ungkap “Bos” Lion Air itu dalam konferensi pers di kantor pusat DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Saya sangat merasa berhutang budi pada Gus Dur dan NU, dan pasti tidak mungkin saya bisa membalasnya,” katanya, Minggu (12/1/2014).

Rusdi menganggap apa yang telah dilakukan Gus Dur patut diteladani bangsa ini. Kepemimpinannya, perjuangannya untuk pluralisme dan kebhinekaan, merupakan visi kebangsaan yang tidak ternilai. “Gus Dur membuat saya sebagai anak China merasa diakui sejajar dengan saudara-saudara saya dari etnik lain di negeri ini,” demikian kata Rusdi dengan suara bergetar.

Rasa terima kasih Rusdi itu kemudian disampaikannya langsung kepada GusDur, ketika lengser dari kursi Presiden. Bagi Rusdi, GusDur telah memanusiakan dia dan etnisnya. “Bagi saya, PKB adalah wadah perjuangan politik warga NU dan pelembagaan visi dan misi kebangsaan Gus Dur yang sangat dalam itu.” Jelasnya.

“Suka ataupun tidak adalah fakta bahwa hampir semua rakyat Indonesia beragama Islam. Baik buruknya bangsa ini akan sangat ditentukan oleh baik-buruknya umat Islam.Dalam demokrasi, apakah Indonesia akan menjadi demokrasi yang matang atau gagal akan sangat ditentukan oleh umat Islam,” jelasnya

Bos Lion Air ini berpendapat jika Gus Dur dan NU tidak meletakkan pemikiran dan pelembagaan seperti, hubungan antara umat Islam dan bangsa kita Indonesia akan terus bermasalah. “Gus Dur dan NU telah mampu menarik gerbong umat Islam menjadi fondasi bagi sebuah Indonesia yang demokratis. Tantangan ke depan adalah mematangkannya,”demikian Rusdi menegaskan.

Sementara itu, golongan pribumi yang berjuang berkalang tanah mengusir penjajah, sekarang hanyalah menjadi golongan kelas dua, di mana mereka hanya menjadi “kuli” di negeri sendiri, sementara itu, golongan cina telah menguasai asset ekonomi Indonesia.

Menjelang pemilu sekarang ini, muncul partai “Ali-Baba”, diluar nampak partai itu adalah partainya “Ali” (pribumi), tetapi yang mengendalikan dan yang menguasainya si “baba” alias cina. Af/dsb. (voa-islam.com)  Senin, 11 Rabiul Awwal 1435 H / 13 Januari 2014 08:37 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.341 kali, 1 untuk hari ini)